Akan Terbit

Judul: Di Bawah Naungan Terompahmu.
Penulis: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc.
Editor: KH. Husni Hidayat.
Pengantar: KH. Ahmad Adib Amrullah, Lc.
Penerbit: Mahameru Press Yogyakarta.
ISBN: 978-979-17382-0-0.

Telah Terbit

Judul: Sabda Sufistik.
Penulis: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc.
Editor: Dr. Waryani Fajar Riyanto, M.Ag.
Pengantar:
1. TGKH. Husnuddu'at (Anggota Dewan Mustasyar PBNW).
2. Dr. Waryani Fajar Riyanto, M.Ag. (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
3. KH. Husni Hidayat (Direktur Institut al-Kibrit al-Ahmar).
4. TGH. M. Sya'rowi, Lc. (Pimpinan Yayasan Asshofwah Renco Lotim).
Tebal dan ukuran: XXII+314 hal.; 14,8x20 cm.
Cetakan:
Pertama: Desember 2009.
Kedua: Februari 2010.
Penerbit: Mahameru Press Yogyakarta.
ISBN: 978-979-17381-5-6.

Ulama dan Tipikal Berlebihan

Ulama adalah pewaris para nabi. Yang penulis fahami dari kenyataan itu bahwasanya orang-orang yang benar-benar telah mewarisi ilmu-ilmu para nabi, merekalah yang pantas disebut ulama. Bukan sebaliknya, bahwa setiap orang yang merasa dirinya berilmu pantas dikatakan pewaris para nabi. Itu nomor satu. [ Baca selengkapnya ]

Dukung Ulil Abshar Abdalla Sebagai Ketua Umum PBNU 2010-2015

Dalam banyak hal, Nahdlatul Ulama bukan hanya organisasi massa Islam terbesar di dunia, melainkan juga sebagai gerakan sosial Islam. Di masa pergerakan nasional, NU tampil di garda depan mendesak diakhirinya kolonialisme. Di masa orde lama, NU terlibat aktif dalam pembentukan ideologi negara. Di masa orde baru, NU menjadi organisasi massa yang tetap setia menjadi penyeimbang negara dalam bentuk gerakan masyarakat sipil yang massif. NU akhirnya menjadi motor penggerak gerakan reformasi politik di akhir kekuasaan orde baru. Saatnya NU kembali mengambil peran penting dalam gerak perubahan sosial dalam rangka konsolidasi demokrasi.

Sudah agak lama masyarakat nahdliyin rindu dengan pemimpin yang mampu membawa NU sebagai penggerak perubahan. Ulil Abshar Abdalla adalah sosok yang mewakili anak muda NU yang memiliki kapasitas individu sejumlah harapan besar tentang NU. Dengan bekal keilmuan tradisional dan dipadu dengan penguasaan ilmu-ilmu sosial modern, Ulil sekaligus menjawab tantangan masa depan dengan tetap berpijak pada tradisi.

Ulil lahir di Pati Jawa Tengah pada tanggal 11 Januari 1967. Ia adalah seorang tokoh pemikir Islam di Indonesia. Ulil berasal dari keluarga NU. Ayahnya dari pesantren Mansajul Ulum Pati, sedang mertuanya dari pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.

Ulil menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali'ul Falah Pati, yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (Ketua Umum PBNU periode 1994-1999). Pernah nyantri di Pesantren Mansajul 'Ulum, Cebolek, serta Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang. Dia mendapat gelar sarjananya di Fakultas Syari'ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Meraih gelar S2 di Universitas Boston Amerika Serikat. Saat ini menyelesaikan studi program Ph.D (doktor) di The Department of Near Eastern Languages and Civilizations, Universitas Harvard Amerika Serikat.

Ulil pernah menjadi Ketua Lakpesdam NU Jakarta, sekaligus menjadi staf peneliti di ISAI Jakarta, serta Direktur Program ICRP. Ia dikenal karena aktivitasnya sebagai Koordinator JIL. JIL yang dipimpinnya itu adalah sebuah kelompok diskusi yang sering menyuarakan upaya liberalisasi tafsir Islam. Melalui JIL, Ulil menuai banyak simpati sekaligus kritik. Atas kiprahnya dalam mengusung gagasan pemikiran Islam ini, Ulil disebut sebagai pewaris pembaharu pemikiran Islam setelah Cak Nur dan Gus Dur. So, karena dibanding calon-calon yang lain, Ulil masih lebih potensial memimpin NU kedepan, maka mudah-mudahan Ulil menang.

Ulil bersama Gus Dur

Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji'un
Jakarta, Rabu 30 Desember 2009 pukul 18:45 WIB

Selamat beristirahat, Gus. Sejarah tidak akan pernah mampu melupakan jasa dan perjuanganmu demi toleransi, demokrasi, dan pluralisme. Kau ulama kebanggaan umat di mana-mana. Kau pemuka Islam moderat yang dikagumi seluruh agama. Kau guru bangsa yang sangat mulia. Dan kau mantan Presiden RI yang bijak, tegas, dan tidak ada duanya. Hormatku padamu, pasak negeriku. Semoga Allah meridhoimu dan selamat menikmati hidup yang lebih indah di sisi-Nya.