Turut Mengayakan Literatur Aswaja *

Di tengah-tengah berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan maraknya ideologi-ideologi miring yang terus bermunculan, di samping menjamurnya paham-paham lama yang masih saja menyesatkan, maka saat ini umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) wajib memperkokoh kembali serta melindungi ke-Aswaja-annya. Memang, umat Aswaja alias Asy’ariyah wa Maturidiyah adalah yang terbesar sejak dahulu dan senantiasa terbesar hingga detik ini, namun tidak berarti ancaman takkan pernah ada. Justru, tidak sedikit dari saudara-saudara kita yang telah dikorbankan oleh para penebar dan penabur kesesatan, tak terkecuali di Indonesia. Bagi penimba ilmu agama di Timur Tengah, tentu saja fenomena ini menjadi PR terbesar yang paling prioritas. Percaya atau tidak, sesungguhnya umat Islam di Tanah Air berharap besar kepada para asatidz yang tengah menggali ilmu keislaman di Timur Tengah. Tiada lain, karena mereka yakin, alumni Timur Tengah adalah da’i-da’i berbasis Aswaja yang rahmatan lil ‘alamin.

Selain da’wah bi al-lisan dan da’wah bi al-hal, da’wah bi al-qalam juga memiliki peran penting yang sangat efektif dan juga permanen. Selain jangkauannya yang lebih luas, eksistensinya pun lebih bertahan lama. Sebab, “qayyidu al-‘ilma bi al-kitab” (HR. al-Khathib, Abu Nu’aim dan lain-lain), maka dakwah yang diutarakan melalui buku akan lebih terpelihara hingga ke generasi-generasi berikutnya.

Dilatarbelakangi misi di atas, maka terbitlah sejumlah karya sederhana yang turut berupaya mencapai visi yang ditargetkan bersama, yakni kelestarian Aswaja. Setidaknya, penulis berharap dapat menjadi sumbangsih dalam rangka pengayaan khazanah literatur ke-Aswaja-an di bumi Nusantara.

Beberapa karya di antaranya adalah:

1. Di Bawah Lindungan Rasulullah Saw.
Sebuah karya yang boleh dikatakan sebagai ensiklopedia keagungan eksklusif sosok Rasulullah Saw. Melalui buku ini, pembaca dapat mengkaji lebih jauh tentang kecahayaan sang junjungan alam semesta yang amat jarang disentuh mayoritas umat Islam sedunia. Misalkan saja, air kecil beliau menjadi penawar, darah beliau menjadi obat, air besar beliau menjadi nikmat, lukisan terompah beliau menjadi jimat, makam beliau lebih agung dari Ka’bah dan Arsyi, malam maulid beliau lebih mulia dari malam Lailatul Qadar, dan masih banyak lagi. Terungkap pula bahwa beliau merupakan gerbang utama mahligai Ilahi yang yang siap membuka segala pintu kebajikan di dunia dan kelak di hadapan-Nya. Bagaimana tidak, nama beliau saja menjadi Isim A’zham-nya Allah Swt. sebagaimana diungkap Syekh al-Qandusi. Bahkan, nama “Allah” pun bagian dari nama-nama beliau, sebagaimana diungkap Syekh Abdul Karim al-Jili.

Tiada taat tanpa cinta, tutur Imam asy-Syafi’i. Namun tak kenal maka tak cinta, tutur kawula muda. Karena itu, mengenal Rasulullah Saw. dengan pengenalan yang setinggi-tingginya dapat meningkatkan cinta dan taat kepada sang Baginda yang selanjutnya mengantar hamba sepenuh ridho ke hadirat-Nya.

2. Tata Bahasa Sufi.
Siapa tidak mengenal kitab Matan Jurumiyah sebagai panduan ilmu nahwu yang paling dasar?. Dan siapa percaya bahwa di balik kaidah-kaidah tata bahasa Arab tersebut tersirat segudang pesan-pesan spiritual yang teramat dalam. Dalam buku ini pembaca dapat menghayati pesan-pesan sufi Imam ash-Shinhaji (pengarang Matan Jurumiyah) yang diungkap oleh Imam Ibnu Ajibah al-Hasani (pensyarah terbaik al-Hikam dan peguak sufisme Matan Jurumiyah).

3. Detak Nurani al-Qur’an.
Tafsir sufi merupakan jenis penafsiran al-Qur’an yang luar biasa, karena sumbernya yang bersifat laduni (langsung) dari Yang Maha Memfirmankannya. Apabila tafsir bi ar-riwayah bersumber dari teks-teks al-Qur’an, Hadits dan fatwa sahabat, tafsir bi ad-dirayah bersumber dari sebuah nalar insani yang sehat dan terpercaya, maka tafsir bi al-isyarah (tafsir sufi) bersumber dari ilham-ilham Ilahi melalui penyingkapan mata batin (kasyf) yang sungguh tiada tara. Buku ini merangkum tafsir-tafsir sufi Imam al-Qusyairi, Syekh Ibnu Arabi serta Syekh Ibnu Ajibah terhadap surat Yasin, sehingga terungkaplah isi hati al-Qur’an dengan begitu indahnya.

4. Biografi 4 Wali Kutub.
Sebagaimana empat imam mazhab memimpin syariat umat, maka empat wali kutub lah pemimpin tarekat umat. Sayangnya, empat imam tarekat tak sepopuler empat imam syariat. Buku ini hadir memperkenalkan siapa empat wali kutub yang mengimami seluruh tarekat sepanjang masa. Sebagaimana difatwakan Ketua Ulama dan Habaib Dinasti Utsmaniyah, Syekh Abu al-Huda al-Khalidi ash-Shayyadi, empat wali kutub dimaksud merupakan intisari para ulama terdahulu dan pemimpin para ulama terkini serta pemuka para wali yang bertugas sebagai pasak tarekat dan hakikat di seantero permukaan bumi.

5. Kertas-Kertas Berdawat Emas.
Dalam rangka mempertahankan dan membentengi serta mengembangkan dan meningkatkan ke-Aswaja-an umat Islam, karya-karya para ulama Aswaja terdahulu dan kontemporer perlu dikaji terus secara serius dan lebih mendalam. Dalam buku katalog referensial ini, pembaca akan mengenal lebih dari 250 kitab langka yang dapat memperluas wawasan ke-Aswaja-an dengan seluas-luasnya. Tentu saja kitab-kitab tersebut digubah oleh para ulama Aswaja terkemuka nan terparcaya.

6. Ayat-Ayat Makam Keramat.
Sampai detik, masih banyak dari umat Islam yang ragu, takut atau bahkan antipati terhadap perbuatan meminta-minta di kubur. Padahal, meminta di kubur telah menjadi tradisi para ulama terkemuka Aswaja dari masa ke masa. Tidak percaya? Buku ini menghimpun fatwa dan pengalaman para ulama tentang boleh bahkan dianjurkannya meminta-minta di kubur!.

7. Perisai Ke-Aswaja-an Nahdlatul Wathan.
Selain Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW) juga merupakan organisasi Islam Aswaja yang menolak keras ideologi Wahabi dengan segala kesesatannya. Pendiri NW dahulu kala sempat mewasiatkan kepada murid-muridnya agar memiliki sekaligus menjiwai 17 mahakarya Aswaja yang menolak mentah-mentah ideologi Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, lebih-lebih Muhammad bin Abdul Wahhab beserta para pengikutnya. 17 kitab dimaksud dikarang oleh 10 ulama terkemuka Aswaja sekaliber Imam Taqiyyuddin as-Subki, Syekh Yusuf an-Nabhani, Syekh Muhammad Zahid al-Kautsari, Syekh Yusuf ad-Dajawi, Syekh Taqiyyuddin al-Hishni, Syekh Salamah al-Azzami dan lain-lain.

Semoga dapat menginspirasi dan memotivasi, Amin!.

______________________________
* Dipresentasikan dalam acara bedah 7 buku di aula PCINU Sudan pada tanggal 30 Mei 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*