Tolak Ukur Cinta Rasul *

Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan bahwasanya seorang Sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw.: “Kapankah hari Kiamat?” Rasulullah membalas: “Bekal apakah yang telah kau siapkan untuknya?” Sahabat itu menjawab: “Aku tidak menyiapkan banyak shalat, puasa maupun sedekah, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka Rasulullah pun bersabda: “Engkau bersama yang engkau cintai (kelak di surga).”

Mari sejenak kita rengungi hadits di atas!. Rasulullah Saw. sekali-kali tidak berkata: “Cintamu sungguh palsu, karena bila kamu betul-betul mencintaiku maka kamu pasti banyak melakukan shalat, puasa dan sedekah.” Melainkan beliau bersabda: “Engkau bersama yang engkau cintai.” Seakan-akan beliau ingin mengatakan bahwa tidak ada hubungannya cinta dengan perbuatan ibadah, melainkan sesungguhnya cinta adalah sesuatu yang berbeda dan membuktikannya pun dengan cara yang berbeda !!. Seolah-olah beliau hendak menyatakan: “Tidak masalah dengan ibadahmu yang sedikit itu, karena cintamu padaku sudah cukup ampuh untuk menerobos lorong-lorong surga.” !!

Dengan demikian maka shalat, puasa, sedekah dan ibadah-ibadah lainnya tidak selalu menjadi bukti adanya cinta. Atau dengan kata lain, cinta tidak selalu dapat dibuktikan dengan ibadah-ibadah tersebut, melainkan hamba yang benar-benar cinta seyogyanya melakukan sesuatu yang berbeda.

Misalnya, seorang marbot sebuah masjid yang ditugaskan untuk mengumandangkan azan dan mengimami shalat, belum tentu ia mencintai masjid lantaran sering azan dan mengimami shalat, sebab yang demikian itu memang tugas dan kewajibannya. Baru ia layak dipuji dan dikatakan sungguh-sungguh mencintai masjid apabila ia juga melakukan hal-hal yang bukan tugasnya, semisal menyapu masjid beserta halamannya, bahkan membersihkan toilet masjid dengan sebersih-bersihnya. Lebih-lebih jika ia berinisiatif membersihkan rumah-rumah yang ada di sekitarnya lantaran ta’zhim-nya yang luar biasa kepada rumah Allah tersebut. Tentu saja ia sangat terpuji dan tidak mungkin tercela lantaran mengerjakan hal-hal yang bukan tugas pokoknya itu.

Demikian pula seseorang yang hanya fokus dengan shalat, puasa dan sedekah dan tidak ingin mengerjakan yang lainnya; ia tidak dapat dikatakan telah mencintai Rasulullah Saw. karena apa yang ia lakukan memang kewajiabannya. Bisa jadi ia melakukan semua itu semata-mata karena takut dicampakkan ke neraka. Baru ia dikatakan benar-benar cinta apabila ia mengerjakan hal-hal yang tidak diwajibkan atasnya, semisal merayakan maulid, memperingati Isra’ Mi’raj, mengadakan shalawatan dan sebagainya. Semua itu tidak diwajibkan bahkan tidak pernah diajarkan secara konkret oleh Rasulullah Saw. tetapi ia melakukannya semata-mata karena tulusnya ta’zhim dan cinta. Tentu saja ia sangat terpuji dan tidak mungkin tercela dengan alasan melakukan bid’ah dan semacamnya. Bukankah Nabi sendiri berkata: “Barangsiapa melakukan/membuat tradisi (baru) yang mulia (sunnatan hasanah) maka baginya pahalanya dan pahala setiap orang yang melakukannya hingga hari Kiamat.” ?!? Orang-orang yang meneriakkan bid’ah di mana-mana sesungguhnya mereka tiada lain mencegah umat untuk mencintai Baginda dan membatasai umat dalam mengekspresikan cinta yang sedalam-dalamnya. Jika mereka masih mengkoar-koarkan bahwa bukti cinta hanya dengan ibadah yang sebanyak-banyaknya dan bukan dengan perayaan maulid, shalawatan dan peringatan Isra’ M’raj, maka suruhlah mereka membaca berulang-ulang dan merenungi dalam-dalam hadits di atas, agar mereka sadar bahwa ternyata tolak ukur cinta tidaklah sesempit yang mereka kira.

___________________________

* Disampaikan di Masjid Nurul Muwahhidin Sakra Selatan (22 Maret 2019), Masjid asy-Syi’ar Sawing Majidi (23 Maret 2019) dan Masjid Darussalam Banjar Kemuning Selong (23 Maret 2019).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*