Tiada Kata Seindah Doa *

Mukadimah.
Sesegar apapun tubuh manusia, seketika ia terjatuh mati saat otak menjumpai ajalnya. Aktifitas yang sehat akan terlaksana dengan baik bila otak masih berstamina. Jikalau aktifitas-aktifitas duniawi manusia hanyalah nonsen dan hampa tanpa ibadah kepada Sang Pencipta, maka doa lah yang menjadi otaknya. Tanpa doa, semu jua ibadah-ibadah kita.

Sungguh benar sabda Baginda “al-Du’a’ mukhkhul-ibadah“. Bagaimana tidak, sebab kita tidak memiliki apa-apa jika Tuhan belum memberinya. Kita tak sanggup kemana-mana jika Tuhan belum menunjukinya. Sekeras apapun usaha hamba, ia masih memerlukanNya, ia masih perlu berdoa dan banyak berdoa.

Tatkala hamba masih mengandalkan usaha kerasnya, dan telah lupa akan kuasaNya, maka yakinlah, usaha itu tak sekeras kepalanya! Ia telah angkuh secara terang-terangan di hadapanNya. Bukankah Tuhan sendiri bertitah dalam firmanNya: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Jahannam dalam keadaan hina dina“.

Tiada kata seampuh doa. Segala ibadah, doa otaknya. Bayangkan saja, setebal apapun takdir bakuNya, hanya doa mampu menembusnya! Rasul bersabda: “La yarud al-qadha’ illa al-du’a’“, “al-Du’a’ silah al-mukmin“. Untuk menembus suratan-suratan takdir, dan merubah segala yang negatif padanya, doa lah senjata satu-satunya!.

Etika Berdoa.
Dalam momen apapun, etika selalu yang utama. Setiap orang yang berhajat pada manusia, ia akan melindungi etika agar terpenuhi hajatnya. Padahal, manusia teramat lemah untuk memberi, menerima, bahkan menyapa. Bagaimana ketika Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa menjadi obyek permohonan kita? Sudahkah etika dijaga?!

Wali-wali Allah yang telah menguasai seni etika dalam berdoa, telah mengajarkan banyak hal yang harus diperhatikan sewaktu memohon kepadaNya. Salah satu mereka adalah Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi (Syekh Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah). Beliau telah menasehati murid-muridnya…

1. Kalau belum ditimpa musibah, jangan berdoa dengan “Allahumma ij’alni min al-Shabirin” (Ya Allah, jadikanlah hambaMu orang yang sabar) karena doa itu berarti: Ya Allah, berikanlah hambaMu ini musibah agar hamba dapat bersabar! Jika sering berdoa seperti itu maka artinya kita mengharap musibah yang sebanyak-banyaknya!

Sebaiknya kita sering berdo’a dengan “Allahumma ij’alni min al-Syakirin” (Ya Allah, jadikanlah hambaMu ini orang yang pandai bersyukur) karena itu artinya: Ya Allah, berikanlah hambaMu ini nikmat agar hamba dapat mensyukurinya. Dengan sering berdoa seperti itu maka kita akan mendapat nikmat yang sebanyak-banyaknya (Amien!).

2. Janganlah memohon perlindungan Allah dari kedengkian orang-orang kepada kita! sebab semua nikmat dan rizki itu pasti mendapat kedengkian dari orang lain, Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Setiap yang mendapat nikmat pasti ada yang dengki padanya“. Jika kita tidak mau didengki orang maka sama artinya kita tidak menginginkan rizki dan nikmat! Mintalah dari Allah agar dilindungi dari kejahatan orang-orang yang dengki, jangan minta dihindarkan dari kedengkian mereka itu sendiri. Katakanlah: Ya Allah, jagalah hambaMu ini dari kejahatan para pendengki dan jagalah hati hambaMu ini dari sifat dengki itu sendiri.

3. Doa itu faridlah (kewajiban), sementara terkabulnya doa hanyalah hibah (anugerah). Wajib bagi kita berdoa, dan tidak wajib bagiNya mengabulkan doa. Dikabulkan atau tidak, sepenuhnya terserah Dia, karena Allah bukan pelayan restoran. Allah Swt. adalah Tuhan yang berhak memberi atau tidak. Kita selaku hamba yang hina hanya wajib mengemis dan meminta. Jika terkabul, maka semata-mata karuniaNya. Jika tidak, maka wajar-wajar saja, sekali lagi Dia Tuhan, bukan suruhan kita.

4. Berdoalah dengan penuh optimisme. Mintalah dari Allah sesuai keyakinanmu akan kekuasaanNya. Percayalah bahwa Ia Maha Kuasa atas segala-galanya. Sedangkan kita pun tercipta dari tiada, apakah Ia tak sanggup memberi kita walau sekedar dari yang ada?!

5. Jangan lupa diri! Kita masih penuh dosa. Ketika berdoa, jangan lupa bertwassul kepadaNya melalui Nabi, Sahabat, Ahlul-Bait dan Auliya’Nya. Sebab posisi mereka di sisiNya, tak butuh kata-kata.

6. Imam Ali Ra. pernah menyatakan: “Semua doa akan mogok di langit sampai ia diiringi selawat kepada Nabi Muhammad Saw. dan Ahlul-Bait”. Sertai dan indahkanlah doa-doa kita dengan selawat.

7. Kuat berdoa tanpa diiringi usaha yang maksimal serta amal shalih yang cukup, sungguh tercela!

8. Tidak etis bahkan dilarang keras meminta hal-hal yang melampaui batas, semisal: Ya Allah jadikanlah hambaMu ini nabi! atau mala’ikat!.

9. Carilah saat-saat berlian untuk berdoa, seperti tengah malam, bulan Ramadan, malam nishfu Sya’ban, Lailatul-Qadr (malam 27 Ramadan), sewaktu wukuf di Arafah dan lain sebagainya. Carilah juga tempat-tempat mulia seperti Ka’bah, maqam Rasulullah, maqam Ahlul-Bait dan para wali. Allah Swt. menceritakan dalam suta Ali Imran ayat 37-39 bahwa doa Saidina Zakaria saja (sebagai nabi) baru terkabul sewaktu berdoa di mihrab Siti Maryam (yang sebatas wali perempuan). Bagaimana ketika kita (yang bukan wali, nabi atau rasul) berdoa di maqam seorang wali atau maqam Junjungan alam semesta ?!?

10. Dan lain-lain.

Antara Ijabah dan Istijabah.
Dalam al-Qur’an cukup jelas perbedaan antara ijabah dan istijabah. Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi telah mengupasnya secara detail dalam surat kabar al-Fajr edisi 2 Oktober 2006, dan dalam surat kabar al-Buhairah wal-Aqalim edisi 195 tahun 2006. Terang beliau, istijabah ialah terkabulnya doa secara fleksibel, bergantung pada kehendak Allah seutuhnya; entah ditunda, diberi kurang, atau diganti dengan yang lebih baik di sisiNya. Sedangkanijabah ialah terpenuhinya doa persis sesuai permintaan hamba. Tentunya ijabah lebih kita harapkan!

Singkatnya, istijabah akan selalu diperoleh selagi kita masih berdoa tanpa melalui tawassul, karena Allah berfirman: “Ud’uni astajib lakum“. Sementara ijabah akan diraih jika melalui tawassul kepada Rasulullah Saw. dimana beliau lah yang nanti akan memintakan hajat kita kepada Allah Swt. dan tentunya doa beliau 100% mujab. Allah Berfirman: “Wa idza sa’alaka ibadi anni fa inni qaribun ujibu da’wata al-da’i idza da’ani“. “Idza” dalam ayat di atas adalah adat syarat. Fi’il syaratnya adalah “sa’alaka“. Maka jawab syaratnya adalah “fa inni qarib“. Sehingga Allah akan meng-ijabah doa RasulNya (“al-Da’i“) untuk kita, jika kita memenuhi syaratnya, yakni bertawassul dengan Rasulullah Saw.

Ayat di atas menyimpulkan bahwa syarat kedektan (“Qarib“) Allah kepada kita adalah apabila kita meminta / berdoa (“Sa’alaka“) melalui Rasulullah Saw. yang kemudian beliau memintakan hajat kita kepada Allah secara personality, dan Allah tentu meng-ijabah doa Baginda kalau saja beliau sudi berdoa untuk kita (“Ujibu da’wata al-Da’i idza da’ani“).

Bila diperhatikan, makna di atas cukup senada dengan ayat 64 surat al-Nisa’ yang berarti: “Dan jikalau mereka menganiaya diri sendiri lalu mereka (1) datang kepada Rasul, dan (2) memohon ampun kepada Allah, kemudian (3) Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, maka tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang“.

Ayat di atas jelas menegaskan bahwa untuk melancarkan proses penerimaan taubat pun harus melalui istighfarnya Rasulullah Saw. Di sini kita perlu mengetahui perbedaan antara Ghaffar dan TawwabGhaffar adalah mengampuni dosa hamba tapi tidak memeliharanya dari dosa itu lagi. Adapun Tawwab ialah mengampuni dosa hamba sekaligus menjaganya dari kembali ke dosa lagi.

Allah berfirman: “Istaghfiru Rabbakum innahu kana Ghaffara“. Allah akan berlaku Ghaffar terhadap kita apabila kita beristighfar kepadaNya secara langsung tanpa melalui Rasul. Allah Swt. baru berlaku Tawwab tatkala kita mendatangi (mewasilahi) Rasulullah Saw. sebagaimana ayat 64 surat al-Nisa’ di atas. Dan apabila kita enggan mendatangi beliau maka Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “marilah agar Rasulullah memintakan ampun bagimu”, mereka berpaling dan menyombongkan diri, maka sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan bagi mereka atau tidak, Allah tidak akan sudi mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah ogah memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik“.

Kembali ke ijabah dan istijabah. Terdapat cara / keadaan lain untuk mendapatkan ijabah, yaitu apabila berdoa dalam keadaan gawat alias darurat (dalam kesulitan yang amat sangat). Allah Swt. berfirman: “Siapakah selain Allah yang akan meng-ijabah doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya“.

Berdoa di Malam Nishfu Sya’ban, Bid’ah?
Dalam surat kabar al-Fajr Mesir, edisi Agustus 2008 lalu, Maulana Syekh Mukhtar al-Dusuqi menyayangkan bahwa doa di malam nishfu Sya’ban masih kontroversial sampai saat ini di kalangan umat Islam. Ada pihak-pihak yang cukup ekstrim mengharamkannya dengan alasan tidak dilakukan Rasul Saw. Apalagi dengan lafaz doa yang sudah beredar, itu tidak pernah diucapkan Rasul Saw. Padahal, beliau pun tidak pernah berdoa dengan lafaz “Ya Allah berikan hamba sebuah mobil” lalu apakah kita mengharamkan dan membid’ahkan lafaz doa tersebut?!

Malam nishfu Sya’ban adalah malam pergantian kiblat, pada malam itu seluruh buku-buku takdir direvisi ulang. Tepat saat itu hamba mengangkat tangannya seraya memohon: “Ya Allah, jika Engkau telah menakdirkanku sebagai orang yang celaka dan miskin, maka hapuslah dengan karuniaMu kecelakaan dan kemiskinan itu, dan takdirkanlah hamba menjadi orang yang kaya dan bahagia”. Kata mereka, doa semacam itu tidak etis! Kalau memang fatwa mereka benar, maka istighfar pun tidak etis! Bukankah istighfar tak lebih dan tak kurang dari memohon agar Allah menghapus apa yang telah ditakdirkan untuk hamba berupa dosa?!

Di edisi yang sama, Maulana Syekh Mukhtar al-Dusuqi juga menceriterakan sebuah dialog yang cukup unik dan banyak pelajarannya, antara dua orang yang saling bertentangan seputar doa di malam nishfu Sya’ban. Kita simak dialog mereka…

“Kenapa kamu berdoa di malam nishfu Sya’ban?” tanya si bodoh.
“Kamu sendiri, kenapa melarang dan menentang doa di malam itu?” balas si pintar.
“Karena mayoritas muslim hanya berdoa di malam itu saja!” si bodoh menjawab.
“Kalau iya kenapa? kali aja malam itu mereka baru dapat petunjuk untuk khusyu’ berdoa, apakah kita menghalangi mereka?!” tegas si pintar.
“Berdoa itu sepanjang tahun, bukan malam itu saja!” si bodoh masih saja ngeyel.
“Kalau sepanjang tahun harus berdoa, kenapa justru malam itu pengecualiannya?!” si pintar mengakhiri dialog mereka.

Penutup (Keistimewaan Doa Ibu).
Benih hati purnama…
Kuncup di gulita jiwa…
Kubah sempurna cinta…
Entah, tanpa asih Bunda!
Amien, Bunda berdoa!

_________________________
* Dipresentasikan oleh Wahidaturrahmah dalam diskusi IKSA (Ikatan Keluarga Santri al-Ihya’ Ulumiddin) Mesir, Kamis 16 Oktober 2008.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*