Taushiyah Malam Tahun Baru 2019 *

Bersyukur kepada Allah Swt. atas nikmat usia dan kesehatan adalah kewajiban mutlak atas kita semua. Di penghujung 2018 ini, kita masih bertahan hidup setelah melewati rentetan bencana yang tak ringan. Patut bagi kita merenungi firman Allah Swt. yang menyatakan: “Allah tidak akan menyiksamu bila kamu bersyukur.” (QS. an-Nisa’: 147) Sehingga, penderitaan yang pernah dialami tak luput dari ketidaksyukuran kita sebagai hamba-Nya yang tanpa henti menerima nikmat-Nya. Karena itu, apabila pergantian tahun tidak disambut dengan kesyukuran, bencana-bencana besar dapat saja menerpa lagi. Wal ‘iyadzu billah!.

Padahal, bersyukur atas nikmat-nikmat Allah sebetulnya sederhana. Cukup dengan gigih beramal shalih dan beribadah kepada-Nya. Allah Swt. berfirman: “Beramallah kalian hai keluarga Daud sebagai tanda syukur.” (QS. Saba’: 13) Rasulullah Saw. pun ketika ditanya tentang semangat ibadah beliau yang tak kenal letih, beliau dengan tegas bersabda: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Dengan demikian maka penting diniatkan oleh tiap-tiap muslim ketika menjalankan ibadah untuk menunjukkan syukurnya kepada Yang Maha Memberi Nikmat Swt. Bukan semata-mata beribadah karena diwajibkan, lebih-lebih karena sedang menghajatkan sesuatu.

Cara bersyukur yang tak kalah utama adalah dengan banyak-banyak bershalawat kepada Rasulullah Saw. Sebab, beliaulah nikamt Allah terbesar yang paling wajib disyukuri. Seorang ulama Aljazair menekankan, barangsiapa bersyukur kepada Allah atas nikmat Rasulullah Saw. maka sesungguhnya ia telah mensyukuri seluruh nikmat-Nya. Sebaliknya, barangsiapa tidak mensyukuri nikmat yang satu itu maka sesungguhnya ia dinyatakan tidak mensyukuri seluruh nikmat-Nya walau ia (merasa) telah mensyukuri sebagian nikmat lainnya.

Cara bersykur kepada Allah atas nikmat Rasul-Nya adalah dengan banyak-banyak bershalawat kepada beliau. Setidaknya tiga ratus kali per hari menurut Imam as-Sakhawi. Dalam sebuah hadits shahih dikatakan: “Allah yang memberi nikmat, sementara aku yang membagi-bagikannya.” (HR. al-Bukhari) Sehingga untuk apa kita banyak-banyak bershalawat? Apa makna, tujuan sebenarnya dan hakikat daripada shalawat yang terus diulang-ulang? Jawabannya ialah agar Allah terus melimpahkan nikmat-Nya kepada beliau lalu beliau segera membagikannya kepada kita yang bershalawat. Orang yang paling banyak bershalawat di antara kita tentu dialah yang paling banyak mendapat bagian dari nikmat-nikmat-Nya tersebut.

Maka bukan Nabi yang diuntungkan oleh shalawat kita, melainkan kita sendiri. Beliau sesungguhnya tidak membutuhkan shalawat kita, karena bagi beliau, shalawat dari Allah dan para malaikat sudah jauh melampaui cukup dibanding shalawat kita. Sekali lagi, shalawat kita manfaatnya semata-mata untuk kita, sekaligus sebagai bentuk syukur yang tiada tara.

Mari menyambut tahun baru dengan semangat baru untuk terus bersyukur kepada-Nya melalui banyak beribadah, beramal shalih dan bershalawat kepada Baginda. Semoga Indonesia di tahun 2019 lebih baik dan lebih aman serta lebih damai dari sebelumnya. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa sallim.

_____________________

* Disampaikan di Masjid Nurul Hidayah Langko Lingsar Lombok Barat pada tanggal 31 Desember 2018 (malam tahun baru 2019).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*