Tasawuf dan Fenomena Buta Tarekat *

Penulis salut pada Ust. Fadlolan Musyaffa, seorang pemuka PCI-NU Mesir yang pernah mencatat sebuah artikel unik berjudul “Tasawuf dan Fenomena Tarekat Buta”. Rasa salut itu dikarenakan cita-citanya kepada sebuah moderatisme bertasawuf dan tidak menyetujui adanya hal-hal berlebihan saat menjalani peningkatan spiritual. Penulis kurang mengenali apakah Ust. Fadlolan bertasawuf dan bertarekat ataukah sebatas mengamati tarekat sufi tertentu secara jarak jauh lalu merujuk kepada sejumlah lembaran kertas yang terjual murah di toko-toko buku!. Terlepas dari itu semua, catatan penulis kali ini tidak bermaksud mengkritisi atau mengoreksi sosok Fadlolan dan artikelnya, tapi sekedar mencatat sebuah opini lepas yang selanjutnya penulis beri judul mirip dan hampir sama, ialah “Tasawuf dan Fenomena Buta Tarekat”!.

Jadi, satu-satunya maksud dan harapan penulis dari pengantar di atas agar pembaca tidak memfonis telah memplagiat judul, menentang isi, atau yang serupa, akan tetapi justru memberikan respeksi secukupnya dengan menirukan judul yang sebetulnya jauh berbeda!. Sebab antara “tarekat buta” dan “buta tarekat” amatlah besar bedanya.

Istilah “tarekat buta” di mata penulis merupakan sebuah sindiran kepada golongan tertentu yang mengaku bertasawuf dan bertarekat namun telah jauh malampaui batas-batas agama. Seperti yang disindir Ust. Fadlolan dengan perkataannya: “Tidak mau belajar fikih, menjauhkan buku-buku fikih, malah mengagungkan tasawufan sich. Ini yang sangat berbahaya baginya dan juga masyarakat di sekitarnya”.

Adapun istilah “buta tarekat” yang penulis maksud disini ialah mereka; komunitas yang gemar berceloteh tentang tasawuf dan tarekat tanpa menyadari bahwa mereka jauh lebih buta dari setiap tarekat yang mereka butakan. Bagi penulis, kawula “buta tarekat” jauh lebih berbahaya daripada “tarekat buta”. Bukan hanya itu, “buta tarekat” pun ternyata jauh lebih marak daripada “tarekat buta”!.

Sebelumnya, penulis hendak mengingatkan bahwa penulis (alhamdulillah) adalah seorang aktifis tarekat sufi terbesar di negeri Timur Tengah. Penulis adalah seorang pengamal tarekat yang amat mu’tabar di sisi Majelis Sufi Tertinggi Republik Arab Mesir, berikut diakui Habib Luthfi, ketua JATMN Indonesia. Penulis saat ini (dan insya’allah selamanya) adalah seorang pengikut tarekat sufi yang dianut jutaan murid dan salik dari pelbagai negara. Oleh karenanya, apa yang tertulis disini berlandaskan kapabilitas, spesialisasi, pembelajaran dan pengalaman konsen selama bertahun-tahun, bukan cuma penalaran terbatas dari dedebuan kertas, dan bukan asumsi terburu-buru terhadap kabar-kabar non-jitu!.

Imam al-Junaid al-Baghdadi pernah menyatakan: “Apabila Allah hendak memuliakan hambaNya, maka Ia akan mempertemukannya (mengumpulkannya) dengan kaum sufi, dan menjauhkannya dari para pecinta buku”. Dr. Muhammad Ahmad Darniqah pun menyatakan: “Apabila seorang penuntut ilmu telah menghafal banyak buku tanpa didikan dan bimbingan seorang syeikh, maka ia tidak akan sampai pada tujuan, sebab seorang syeikh membersihkannya dari nafsu-nafsu dan hal ini tidak dapat diraih melalui buku”. Selanjutnya, jangan heran apabila Imam Syafi’i menegaskan: “Seburuk-buruk malapetaka ialah berguru pada buku”!.

Masih ada lagi Syeikh Abu Ziro’ah dan Syeikh Tsaur bin Yazid yang pernah mewasiatkan: “Jangan menerima petuah orang yang banyak membaca buku, dan jangan mengaji dari orang yang banyak bergelut dengan mushaf”. Berikutnya, Syeikh Muhammad Husain Ya’qub turut menasehati: “Pergilah mencari ulama. Jangan hanya mendengar kaset atau membaca buku”, sebab Sidi Syeikh Muhammad Ustman Abduh al-Burhani pernah bertitah: “Hidayah hanya datang secara eye to eye“.

Simak pula perkataan Imam Malik yang berbunyi: “Ilmu itu bukan dari banyak membaca, akan tetapi cahaya yang dicercahkan Tuhan kedalam hati hambaNya”. Tak heran jika ulama salaf sudah tidak meragukan lagi bahwa orang yang menjadikan buku sebagai gurunya maka silapnya akan lebih banyak dari benarnya. Mungkin saja karena ia tak ubahnya dengan seekor keledai yang memikul banyak kitab tebal sebagaimana yang diumpamakan Allah Swt.

Terlebih dalam disiplin ilmu yang benama tasawuf, tentu mengandalkan buku merupakan sebuah kesesatan dan penyesatan yang nyata. Lihat bagaimana Sidi Syeikh Abdul Wahhab al-Sya’roni mengutip kalam guru spiritualnya, Sidi Syeikh Ali al-Khawwash yang berbunyi: “Jangan pernah berfikir, dengan menguasai buku-buku tasawuf maka kamu telah menjadi sufi”. Artinya, seorang yang hendak bertasawuf atau mengenal tasawuf, tidak tepat apabila mengandalkan buku-buku tanpa bersandar pada salah satu tarekat sufi mu’tabar, sebab dikuatirkan salah memahami substansi buku sehingga keliru berasumsi terhadap tarekat tertentu, khususnya kitab-kitab tasawuf kelas tinggi karya Syeikh Ibnu Arabi, Syeikh Abdul Karim al-Jaili, Syeikh al-Hallaj dan Syeikh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani. Hal ini dipertegas oleh Syekih Abdul Qadir Isa dalam kitabnya “Haqa’iq ‘an al-Tashawwuf“.

Dari itu, maka “buta tarekat” sangatlah berbahaya, apalagi kalau sudah “sok tahu tarekat” dan menggeluti buku-buku anti tarekat atau yang masih kontroversial. Bahkan buku-buku yang telah diakui kebenarannya pun tidak menjamin pembacanya dapat memahami dengan baik dan benar. Belum lagi apabila terdapat kesalahan-kesalahan percetakan!. Tidak ada yang lebih menyelamatkan selain memasuki, mencicipi secara langsung dan menikmati jalannya orang-orang sufi sebagaimana yang diisyaratkan para ulama di atas.

Layaknya seorang syeikh dalam sebuah tarekat sufi, ia memiliki kealiman ganda dalam ilmu syari’at, tarekat maupun hakekat. Sehingga muridnya dapat memperoleh semua ilmu itu tanpa harus menghabiskan tenaga dan biaya. Seseorang yang ogah membaca buku tidak mesti disalahkan, sebab mungkin saja ia telah menemukan apa yang belum kita temukan, yaitu al-Kitab al-Nathiq (buku sakti yang dapat berbicara).

Dari buku sakti itulah ia mempelajari semua ilmu agama. Dari guru sufi itulah ia justru menyempurnakan syari’atnya. Dari pewaris Rasul itulah ia dapat menyembuhkan kebutaan hatinya. Dan melalui tarekat sufi itulah ia dapat memahami dengan tepat rahasia-rahasia suluk yang tak terjangkau logika. Akhirnya, sesuatu yang berlebihan di mata orang, ternyata baginya tidak apa-apa!.

Di dalam artikel “Hati-Hati… Sabda Wali”, penulis telah mengutip sebuah fakta menarik antara Saidina Umar bin al-Khatthab, Saidina Abu Hudzaifah bin al-Yaman dan Saidina Ali bin Abi Thalib, dimana Saidina Abu Hudzaifah mengatakan: “Saya mencintai fitnah, membenci kebenaran, solat tanpa wudu’, dan memiliki di bumi apa yang tidak dimiliki Allah di langit”. Nah, perkataan semacam ini ternyata amat dibenarkan Saidina Ali sebagai pelajaran untuk kita agar berhati-hati terhadap kalam-kalam para wali. Beda halnya orang-orang “buta tarekat” zaman sekarang yang begitu cepat menuduh sesat, kufur, syirik, ataupun berlebihan!.

Ucapan Saidina Abu Hudzaifah sekaligus pembenaran Saidina Ali tersebut mengisyaratkan bahwa terdapat hal-hal yang 100% benar namun sukar untuk dibenarkan kecuali bagi orang-orang yang dapat petunjuk, bukan yang buta dan sok tahu karena banyak baca buku. Bukankah Saidina Ibnu Abbas pernah mengatakan: “Apabila aku menafsirkan ayat 12 surat al-Thalaq sebagaimana yang aku dengar dari Rasulullah, maka kalian akan merajamku atau menuduhku kafir”. Dan bukankah Saidina Abu Hurairah juga pernah mengatakan: “Aku mendapatkan dua ilmu dari Rasulullah, yang satu wajib untuk kusampaikan, dan yang satunya apabila aku sampaikan maka kalian akan memotong leherku”.

Pada zaman pasca sahabat dan tabi’in, ilmu-ilmu yang telah lama tersimpan itu semakin ditampakkan Tuhan melalui para waliNya. Amatlah wajar jika kita dianjurkan para ulama untuk mengaji face to face dari para wali dan bertanya kepada ahli dzikir agar tidak mudah mengkafirkan atau minimal salah faham, sebagaimana yang dicontohkan Saidina Umar Ra.

Ust. Fadlolan meyebutkan: “Sayangnya, banyak pula di antara orang-orang tarekat itu terlampau mendalami suluk hingga ada yang menyimpang dari jalan yang lurus dan mempraktekkan teori di luar Islam. Ini yang dinamakansyathahat orang-orang sufi; atau perasaan halus yang dijadikan sumber hukum mereka. Dalam konsep pendidikan, mereka kerap mendoktrinkan bahwa seorang murid di hadapan gurunya harus tunduk patuh ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya”.

Memang benar, terdapat sejumlah tarekat yang buta, berlebihan, keliru bahkan sesat, yang secara formal disebut non-mu’tabar. Akan tetapi, sekali lagi, “buta tarekat” jauh lebih marak dan harus disembuhkan secara massal. Sebab apa yang dikatakan Ust. Fadlolan di atas ternyata amat global dan relatif sehingga mengentalkan kebimbangan orang. Contohnya, mengenai “mempraktekkan teori di luar Islam”. Apa tolak ukurnya? Apa batas-batas lingkaran Islam? Versi siapa? Dan siapa gerangan menjamin anda selama ini telah pasti di dalam Islam dan tak pernah menyimpang?!

Kemudian tentang “syathahat orang-orang sufi”. Siapa gerangan menjamin anda telah memahami perasaan halus mereka dengan tepat?! Seenaknya saja menilai! Bagaimana kalau ternyata itu semua bukanlah syathahat, melainkanhaqa’iq..!!

Selanjutnya mengenai “seorang murid di hadapan gurunya harus tunduk patuh ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya”. Lalu apa penafsiran anda terhadap wasiat Sidi Ibnu Syihab (atau Sidi Nashiruddin) yang berbunyi: “Tiadakan wujudmu di hadapan gurumu, jangan sok tahu! Biarkan ia meruntuhkanmu untuk dibangun kembali jiwamu”!.

Lihat bagaimana Syeikh Abdul Qadir Isa dalam kitab “Haqa’iq an al-Tashawwuf” menyebutkan etika-etika murid terhadap guru tarekatnya yang antara lain :
– Mentaati dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada guru,
– Tidak membantah, menyanggah atau mengkritisi guru,
– Meyakini kesempurnaan dan kapabilitasnya dalam mendidik jiwa,
– Memuliakan dan mengagungkannya dikala hadir maupun ghaib (tidak hadir),
– Mencintainya dengan cinta yang amat sangat,
– Tidak menoleh atau menengok ke guru lain selainnya,
– Senantiasa menghadiri majelisnya,
– Berupaya semaksimal mungkin untuk selalu melayaninya,
– Dan lain-lain.

Dalam artikel “Fanatisme dan Pengkultusan di Tubuh NW”, penulis telah menjelaskan secara detail menganai sisi-sisi positif fanatisme dan kepatuhan total kepada seorang guru yang alim, benar dan bijak, terlebih kepada seorang wali Allah dan pewaris Rasul. Harap diabaca agar tidak salah faham dan tidak cepat menuduh yang bukan-bukan. Dan sebetulnya, dalam banyak buku tasawuf eksklusif (untuk orang-orang khawash) terdahulu maupun masa kini, telah termuat jutaan wasiat agung agar menelusuri seorang pewaris Rasul lalu mentaatinya sebagaimana taatnya sahabat kepada Sang Rasul..!!

Hanya saja, sekali lagi, buku tidak akan pernah cukup. “Hanya yang merasa, ia yang mengerti. Namun yang merasa tak dapat mensifati” demikian sabda para wali. Anda tidak akan pernah mengenal rasa jeruk sebelum mencicipinya, dan seusai mencicipi, anda tidak akan pernah mampu menjelaskan rasanya!.

Akhir kataku, sebelum merawat “tarekat buta”-ku, sembuhkan dulu “buta tarekat”-mu !!!

___________________________

* Catatan ini dibuat sebagai komentar atas artikel Ust. Fadlolan Musyaffa yang bertajuk “Tasawuf dan Fenomena Tarekat Buta”. Selanjutnya pada 11 November 2009, Ust. Fadlolan mengirimkan pesan via emali ke penulis dengan bunyi sebegai berikut:
“Assalmualaikum mas Abdul Aziz, Belum terlalu telat sekira saya ikut mengucapkan selamat atas pengesahan Tarekat Dusuqiyah Muhammadiyah sebagai salah satu tarekat mu’tabarah di Indonesia oleh Jam’iyah Ahli Thariqah Mu’tabarah Nahdliyah (JATMN) pada hari Rabu 25 Syawal 1430 H. / 14 Oktober 2009 M. di Pekalongan Jawa Tengah, oleh KH. Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Dan saya sudah membaca banyak artikel yang ada di web antum, kami ucapkan terima kasih banyak atas perkenalan ini, semoga kita saling mengenal lebih dekat. Wassalam. fadlolan musayaffa.”

One Reply to “Tasawuf dan Fenomena Buta Tarekat *”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*