PR Kader NW di Era Globalisasi *

Globalisasi sesungguhnya merupakan implementasi terhadap pesan Rasulullah Saw. yang menyatakan: “Permudahlah dan jangan mempersulit.” Andai saja yang membuat Facebook dan Whatsapp adalah seorang muslim, maka selagi dua aplikasi tersebut digunakan oleh umat Islam untuk hal-hal mulia, maka pahalanya terus mengalir kepada sang pembuatnya.

Berkat globalisasi, dunia telah menjadi satu pasar di mana orang yang memiliki ideologi yang berkualitas dan ditawarkan dengan cara yang berkualitas, maka ideologi tersebut menjadi laku keras, dan orang tersebut menjadi sangat beruntung. Rasulullah Saw. sendiri pernah menyatakan bahwa bumi telah didekatkan kepada beliau, baik timur maupun baratnya, sehingga tiada belahan pun di muka bumi kecuali dapat dimasuki oleh agama beliau.

Hanya saja, sisi negatif dari sarana-sarana globalisasi yang ada tidak kalah besarnya, yaitu apabila digunakan oleh orang yang tidak memiliki pondasi intelektual dan spiritual yang kokoh, maka ia akan cenderung pada hal-hal negatif yang tersebar, sehingga pemikiran dan prilakunya menjadi rusak. Seharusnya, sebelum terjun di dunia maya (internet) sebagai ajang globalisasi terbesar yang pernah ada sepanjang zaman, lebih dahulu ia memperkuat dasar-dasar keilmuan serta keakhlakannya. Jika tidak, maka internet justru menjadi racun paling mematikan baginya.

Selain itu, di pasar globalisasi kebanyakan orang tidak menjadi produsen, tapi hanya menjadi konsumen yang sebatas menikmati hal-hal yang telah tersedia dan terglobalisasikan. Ini juga merupakan pemanfaatan pasar yang kurang tepat. Semestinya, seseorang mematangkan terlebih dahulu intelektual dan spiritualnya, baru kemudian mengembangkannya di dunia maya, dan selanjutnya turut mengglobalisasikan gagasan-gagasan mulia yang bermanfaat bagi dunia. Dengan demikian, maka ia telah menjalankan pesan Nabi di atas, yakni mempermudah umat sedunia untuk memperoleh sebuah kebenaran dan petunjuk Tuhan.

Di Nahdlatul Wathan (NW) sendiri, tidak sedikit warganya yang lupa pada doa Maulana Syekh Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Pendiri NW) yang mengharapkan tersebarnya NW ke seluruh dunia. Doa tersebut sesungguhnya menyirat pesan penting kepada segenap warga NW untuk berupaya dan berandil dalam penyebaran atau globalisasi NW tersebut. Sayangnya, tidak sedikit warga NW yang memilih untuk lebih aktif mengabdikan diri di organisasi lain dengan alasan organisasi lain lebih besar dan lebih berpengaruh daripada NW. Seperti inilah cara yang tidak produktif dan hanya menikmati (mengkonsumsi) yang sudah matang di depan mata saja. Padahal, organisasi lain tidak mungkin menjadi besar tanpa perjuangan warganya yang gigih untuk membesarkannya. Organisasi mereka menjadi besar tiada lain karena mereka adalah para produsen dan bukan hanya konsumen.

Rasulullah Saw. dengan tegas melarang kita menjadi imma’ah, yakni menjadi orang-orang yang hanya ikut-ikutan saja. Orang-orang imma’ah adalah orang-orang yang tak berpendirian jelas dan tak beridentitas khas serta tak mempunyai pilihan yang pas. Mereka hanya mengekor saja kepada yang sudah dikonsumsi kebanyakan orang. Tidak lebih dari itu.

Karena itu, tantangan terbesar kader NW di era globalisasi ini adalah bagaimana agar mampu mengglobalisasikan NW dengan segala inspirasi dan gagasan berharganya, sebagaimana selalu dan terus-menerus serta tanpa henti dituangkan dahulu oleh sang pendirinya. Ingat, “Nahdlatul Wathan fastabiqul khairat!”, pesan Maulana.

_________________________________

* Disampaikan dalam kajian ilmiah se-Fakultas Syariah IAI Hamzanwadi Pancor di Pesanggrahan Timba Nuh Pringgasela Lombok Timur pada tanggal 12 Oktober 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*