Pesta Asyura’ dan Tragedi Karbala’ *

Tiada hari atau bulan mulia melainkan ada peristiwa agung yang dahulu kala pernah terjadi padanya. Bulan Ramadhan menjadi mulia karena padanya terjadi turunnya al-Qur’an. Bulan Rajab menjadi mulia karena padanya terjadi Isra’ Mi’raj. Hari Jum’at menjadi mulia karena padanya terjadi penciptaan Nabi Adam As. Hari Senin menjadi mulia karena padanya tejadi kelahiran Rasulullah Saw. Begitu pula hari Asyura’ (10 Muharram), tidak kalah mulia karena terjadi padanya banyak peristiwa mulia. Sebut saja keselamatan Nabi Ibrahim dari panasnya api, keselamatan Nabi Nuh dari kaumnya, kesembuhan Nabi Ayyub dari penyakitnya, selamatnya Nabi Musa dan tenggelamnya Fir’aun, diangkatnya Nabi Isa ke langit, dikeluarkannya Nabi Yunus dari perut ikan paus, dan kegemilangan-kegemilangan besar lainnya. Semua itu terjadi di hari Asyura’. Masing-masing nabi memiliki kenangan indah tersendiri di hari Asyura’.

Lalu bagaimana dengan nabi akhir zaman, yakni Rasulullah Saw.? Apa kenangan indah beliau di hari Asyura’?. Kelahiran beliau, Isra’ Mi’raj, penaklukan Makkah, perpindahan kiblat, kemenangan pasukan Islam dalam sebuah peperangan, dan lain-lain, tidak ada yang terjadi di hari Asyura’. Lantas apakah setiap umat boleh bergembira di hari Asyura’ kecuali umat Rasulullah Saw.?

Setelah ditelusuri, tenyata yang terjadi di hari Asyura’ adalah dibantainya cucu kesayangan Rasulullah Saw. yaitu Imam al-Husain As. di tanah Karbala. Sungguh mencengangkan, mengapa nab-nabi terdahulu meraih kegemilangan dan kemenangan di hari Asyura’, sedangkan Rasulullah Saw. menerima musibah atas cucu kesayangan beliau di hari tersebut?.

Salah satu tradisi tahunan kaum Syiah adalah melukai diri sendiri secara massal di setiap hari Asyura’ sebagai sikap berkabung dengan sangat atas peristiwa sadis yang terjadi pada Imam al-Husain As. Lalu apakah kita sebagai umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah pun harus berbuat demikian?. Tidak seribu kali tidak!. Kita seharusnya bergembira dan bersyukur setiap kali mengenang peristiwa bersejarah tersebut. Pasalnya, para nabi di hari Asyura’ memang mendapatkan kemenangan dan keselamatan, tetapi hanya selamat dari satu cobaan/ujian dan belum bebas dari ujian-ujian berat berikutnya di hari-hari mendatang, karena masih hidup di dunia sebagai panggung ujian dan cobaan. Beda halnya dengan cucu Rasulullah Saw. yang di hari Asyura’ mendapatkan kemenangan terbesar dan puncak keselamatan serta kelulusan total dari segala ujian dan cobaan dunia. Di hari itu, beliau (Imam al-Husain As.) mengakhiri segala ujian dunia dengan hasil yang amat sangat memuaskan jiwa dan raga. Di hari itu, beliau meraih anugerah terbesar dari Allah Swt. yakni dinobatkan sebagai Sayyid asy-Syuhada’ (Penghulu Para Syahid) bahkan disematkan menjadi Sayyid Syabab Ahl al-Jannah (Tuan Penghuni Surga). Di hari itu, beliau melepaskan segala kerinduan beliau kepada kakek beliau, ayah beliau, ibu beliau, dan para sahabat kakek beliau yang mulia. Sungguh, kegemilangan yang beliau raih di hari Asyura’ jauh melampaui kegemilangan para nabi terdahulu di hari yang sama. Sebagai umat Islam yang wajib mencintai Ahlul Bait, seharusnya kita berbahagia atas kebahagiaan orang yang kita cintai. Dan terbuktilah, cinta Syiah kepada Ahlul Bait hanyalah pengakuan dusta belaka!.

___________________________

* Disampaikan selepas shalat Maghrib di Masjid at-Taqwa Pancor Lombok Timur pada tanggal 18 September 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*