Peringatan Maulid Nabi Hukumnya Wajib *

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. menegaskan: “Ingatlah nikmat Allah atasmu.” Perintah ini tentu saja bersifat mewajibkan (fardhu) dan tidak hanya menganjurkan (mustahab/mandub). Sebab, jika tidak mengingat nikmat Allah maka bagaimana dapat mensyukurinya? Dan jika tidak mensyukurinya maka “Sesungguhnya siksaan-Ku amat pedih,” tegas-Nya.

Bagi umat Rasulullah Saw. tiada nikmat besar yang melebihi besarnya nikmat dilahirkannya Rasulullah Saw. di muka bumi, tiada lain karena beliau terlahir sebagai rahmatan lil ‘alamin, penebar rahmat bagi semesta alam. Maka mengingat tentang (memperingati) kelahiran beliau hukumnya?.

Lalu mengapa diperingati secara khusus di bulan Rabiul Awal?. Pertanyaan ini sungguh tidak cerdas, karena umat selama ini melaksanakan berbagai ibadah sebetulnya untuk mengenang atau memperingati peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Misalnya, menghidupkan bulan Ramadhan untuk mengingat peristiwa turunnya al-Qur’an, menghidupkan hari Asyura’ untuk mengingat peristiwa selamatnya para nabi dari kejahatan orang-orang kafir, menghidupkan hari Jum’at untuk mengingat peristiwa diciptakannya Nabi Adam, bahkan ber-idhthiba’ (menampakkan bahu dan lengan kanan) dan berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama tawaf untuk mengingat peristiwa para sahabat menggentarkan orang-orang kafir. Jika hampir semua ibadah tidak luput dari memperingati peristiwa mulia di masa lampau, maka demikian pula bulan Rabiul Awal sangat patut untuk dihidupkan untuk mengingat peristiwa paling dahsyat sepanjang zaman, yakni lahirnya Rasulullah Saw. Bukankah puasa Senin sesungguhnya untuk mengingat itu juga?.

Bahkan, bulan Rabiul Awal tidak kalah berkahnya dengan bulan Ramadhan. Pasalnya, pada bulan Ramadhan al-Qur’an diturunkan, sementara pada bulan Rabiul Awal Rasulullah Saw. dilahirkan. Tentu saja Rasulullah lebih utama daripada al-Qur’an, karena kalau bukan karena dan untuk beliau, al-Qur’an takkan diturunkan. Dalam surat al-Ma’idah, Allah Swt. berfirman: “Telah datang kepadamu cahaya (Rasulullah) dan kitab yang menerangkan.” Dalam ayat ini Allah Swt. mendahulukan Nabi-Nya sebelum kitab-Nya.

_______________________
* Disampaikan di Masjid Su’ada’ Padamara Lombok Timur pada tanggal 25 Oktober 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*