NW dan Nasib Umat Islam di NTB *

Pertama-tama, antara sebuah mazhab keagamaan dan aliran pemikiran terdapat perbedaan signifikan yang perlu ditonjolkan, sebab mazhab dalam literal bahasa Arab mengandung arti sebuah jalan yang ditempuh melalui sebuah bimbingan. Beda halnya dengan pemikiran yang semata-mata karya logika dengan segala keterbatasannya. Imam Syafi’i misalnya, hati nurani sucinya dianugerahi bimbingan Ilahi untuk menemukan jalan-jalan alternatif bagi umat Islam di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Sedangkan pemikiran dihasilkan melalui proses analogi rasional belaka yang acapkali tidak didasari kesucian hati dan petunjuk Tuhan. Inilah yang membedakan mazhab-mazhab fikih yang empat dari aliran-aliran yang tumbuh belakangan oleh para pemikir kontemporer. Keempat mazhab fikih berhasil menyuguhkan sebuah perbedaan yang dihiasi nilai-nilai kedamaian dan toleransi, sedangkan pemikiran-pemikiran selainnya gagal dan kerapkali mengundang konflik bahkan pertikaian massa.

Mufakat ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bahwasanya keempat mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) adalah benar meskipun fleksibel di tangan para pemukanya. Adapun pemikiran lainnya masih relatif, kontroversial dan belum layak dijadikan pegangan utuh oleh umat Islam, baik yang masih jelata maupun yang sudah merasa cerdas dan sampai ke tingkat kemampuan berijtihad sekalipun.

Soal akidah, ulama Aswaja sepakat bahwa teologi Asy’ari wa Maturidi adalah yang paling mendekati kebenaran. Terbukti dari pilihan mayoritas umat Islam seantero dunia kepada aliran teologi tersebut, tak terkecuali di Indonesia dan NTB khususnya.

Dengan demikian maka sikap kita sebagai umat Islam terhadap lahirnya organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan baru berlabel Islam adalah meninjau kembali apakah akidah dan syariahnya masih berpegang teguh kepada yang telah dimufakatkan di atas, ataukah telah bergeser dan mandiri. Apabila dinyatakan bergeser lebih-lebih dalam hal-hal prinsipil maka kita wajib waspada dan hati-hati tanpa mengurangi sikap toleran terhadap sesama.

Konkretnya, aliran-aliran yang mengaku adanya nabi selepas Nabi Muhammad Saw. sudah terang-terangan menyatakan lengser dari ijma’. JIL dengan sejumlah ideologinya pun sulit dipungkiri telah membelot dari ijma’. Tak terkecuali gerakan-gerakan Islam militan yang sarat kekerasan dalam berdakwah, sudah tentu tidak seirama dengan metode dakwah yang telah dituntun oleh Islam ala Aswaja.

Memang, ulama Aswaja sendiri sepakat bahwa Islam sebetulnya masih dan akan terus menerima pembaharuan ideologis dan metodologis yang berkesinambungan dari ruang ke ruang dan dari masa ke masa. Hanya saja dalam hal-hal prinsipil sepatutnya para pembaharu senantiasa mengindahkan prinsip-prinsip dasar yang telah paten dan baku. Dan ironinya, kelompok-kelompok berlabel Islam yang lahir belakangan tidak hanya perlahan menyimpang, namun juga bersikap fanatik dan diskriminatif. Sudah tentu sikap semacam itu merugikan pihak lain dan juga mencemarkan nama kelompok sendiri.

Karena penulis baru saja tiba dari Mesir dua minggu lalu dan sudah berdomisili di Mesir sejak sepuluh tahun lalu, maka tidak salah apabila penulis di sini memaparkan sebuah contoh praktis dari ormas-ormas keagamaan yang berdiri di Mesir dan berkembang hingga ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pra Mubarak direvolusi rakyatnya, umat Islam terlihat damai diperkokoh oleh institusi al-Azhar, Dewan Fatwa, Persatuan Riset Islam dan Majelis Sufi. Tidak ada yeng berbeda, termasuk dalam menentukan tanggal hari raya. Pasca Mubarak turun, berunjuk gigi lah gerakan-gerakan Islam yang beraneka ragam dan warna, khususnya IM, JI dan HT. Di era Mubarak, ketiga organisasi itu dikebiri dengan alasan mencegah ditegakkannya sebuah teokrasi. Alasan itu kasat mata memprihatinkan karena Islam terkesan disisihkan, namun apabila melirik fakta yang berkembang, setelah bermunculannya gerakan-gerakan Islam tersebut dan berhasilnya IM meraih kursi kekuasaan, umat Islam dan rakyat Mesir kian bercerai-berai, terorisme merajalela dan keutuhan negara mengalami labil parah. Analisa penulis menyimpulkan bahwa kesilapan sama sekali tidak terletak pada Islam sebagai agama langit yang maha benar, melainkan murni ditujukan kepada para pencemar kharisma Islam itu sendiri. Meskipun berbasis Islam, kita tidak boleh serta merta percaya bahwa mereka telah mengerti Islam dengan sesungguhnya.

Terkait ditegakkannya sebuah khilafah, organisasi Islam harus berperan aktif mencerdaskan umat agar memahami dengan betul bagaimana hukum Islam itu diterapkan secara esensial dan substansial, sebagaimana dicontohkan para Sahabat dan Tabi’in. Sayangnya, sikap sebagian umat di Tanah Air akhir-akhir ini terhadap konflik politis yang hangat di Mesir justru meresahkan WNI di sana. Indonesia akan dicap dunia sebagai negara teroris apabila rakyatnya bertindak senonoh tanpa pertimbangan sehat terlebih dahulu.

Selain di atas, seharusnya organisasi manapun mengedepankan maslahat umum dengan penuh toleransi tanpa membunuh tradisi yang sudah membudaya selagi relevan dengan ajaran substansial agama Islam. Al-Azhar adalah contoh paling konkretnya, dan mungkin di Indonesia ada NU yang menempati posisi pertama. Sebagai ormas Islam terbesar di bumi nusantara, ia mampu mewujudkan esensi keislaman yang universal sebagaimana ditaburkan Walisongo terdahulu.

Jujur, dalam komunitas NTB dan masyarakat Indonesia pada umumnya, terdapat sebuah karakter tradisional yang sudah turun temurun. Selain sopan santun dan berbudi pekerti mulia, juga tidak lepas dari watak-watak negatif yang lumrah ada. Hadirnya sebuah organisasi Islam tentu sebagai peningkat karakter yang baik, sekaligus pemusnah karakter yang buruk. Organisasi Islam mengarahkan umat dan bukan dihembuskan oleh arus yang nyaris tidak jelas tujuannya. Meskipun seirama dengan budaya dan tradisi, sebuah organisasi Islam seharusnya tekun merangkul dan mencerahkan, bukan memecah dan semakin membodohkan, terlebih di tengah-tengah hadirnya beragam corak pemikiran dan metode dakwah yang saling kontra. Pegangan Aswaja sudah eksis, tinggal bagaimana menjalankan implementasinya seakrab mungkin dengan maslahat bersama, dan bukan hanya demi kepentingan individu ataupun tradisi golongan tertentu.

NW sebagai ormas Islam terbesar di NTB sulit kita pungkiri jasa dan peran pentingnya dalam mengarahkan masyarakat Islam di NTB ke jalan kebenaran dan kemajuan. Meski demikian, masyarakat Islam di NTB dan warga NW khususnya harus tetap berintrospeksi diri agar ke depan lebih toleran dengan kelompok lain, dan di waktu yang sama tidak rela bersedia dirasuki ideologi luar yang bermusuhan dengan visi-misi pendiri NW sendiri. Paham dan corak keislaman yang dikembangkan NW adalah anti-kekerasan dalam mendakwahkan Islam, alias “Islam ramah, bukan Islam marah” (meminjam istilah Gus Dur). Dari itu, apabila umat Islam di NTB sudah mulai tergoda retorika anarkisme berlabel jihad, maka NW harus wake up, terlebih penggagas NW sendiri berharap agar NW menyebar ke seluruh dunia, sebab Islam damai yang disuarakan NW memang perlu disampaikan ke seluruh dunia dan ditampilkan khususnya di tengah kecenderungan radikalisme dan terorisme berbasis agama.

Untuk tujuan itu, penulis bersama sejumlah rekan berhasil mendirikan cabang NW di Mesir pada tahun 2003 agar NW segera go international dan tidak hanya berkutat di Lombok. Kelak jika sudah masuk ke forum-forum internasional, NW bisa ikut mendakwahkan Islam yang rahmatan lil alamin sehingga dapat melerai sejumlah ketegangan antar umat Islam yang terjadi di Pakistan, Mesir, Fatah-Hamas di Palestina, dll.

Selain itu, NW harus aktif memproduksi pemikiran dan bukan hanya mengkonsumsi pemikiran. Dengan memproduksi karya-karya intelektual, maka NW akan turut memberikan pengaruh terhadap corak pemikiran Islam Indonesia. Sejauh yang bisa diketahui banyak orang, aktivitas intelektual itu agak redup bersamaan dengan wafatnya pendiri NW, bahkan ada yang berkata bahwa sepeninggalnya, NW lebih kental warna politiknya ketimbang warna intelektual apalagi spiritualnya (dikutip dari artikel “Berharap Pada NW” oleh Dr. Abdul Moqsith Ghazali).

Dan agar keberadaan NW tak hanya dirasakan manfaatnya oleh warga NW secara terbatas, tapi juga oleh seluruh umat Islam Indonesia bahkan dunia, maka NW harus lebih responsif dalam menyikapi soal-soal keagamaan dan kebangsaan. NW bisa saja tetap bermarkas di Lombok, tapi konteks geografis itu tak boleh menjadi alasan bagi NW untuk tak terlibat dalam penyelesaian masalah-masalah nasional terkait keagamaan dan kebangsaan. Kekerasan atas nama agama yang kian marak di negeri ini harus menjadi sorotan utama NW, sebab kekerasan berbasis agama bukan hanya akan mencoreng nama Islam, melainkan juga karena tak sesuai dengan substansi ajaran Aswaja yang diperjuangkan NW. Bila hal ini dilalaikan dan disepelekan, lebih-lebih di NTB sudah berkembang banyak organisasi lain yang mungkin tidak sejalan dengan NW, maka secara tak disadari virus ideologi Islam garis keras itu justru menular ke dalam tubuh warga NW sendiri.

Dengan demikian maka kesimpulan yang dapat dipetik dari catatan sederhana ini antara lain bahwa sebuah organisasi sangat mempengaruhi nasib sebuah komunitas. Apabila kualitas jati diri (acuan akidah dan syariah serta metode dakwah maupun visi-misi yang dijalankan) sebuah organisasi memudar ataupun memburuk , ditambah dengan hadirnya organisasi-organisasi lain dengan visi-misi yang beraneka rupa, maka komunitas tersebut justru menjadi terbingungkan, tersesatkan, terpecahkan bahkan tercelakakan!.

_________________________________________

* Dipresentasikan dalam acara diskusi Damai Institute pada tanggal 26 Agustus 2013 di Gedung Juang ’45, Selong Lotim NTB. Presentator selaku representatif NW, didampingi narasumber-narasumber lain dari MUI, HTI dan umum. Kesimpulan disukusi kemudian diliput dalam surat kabar Lombok Post edisi 27 Agustus 2013 dan selanjutnya dimuat dalam tabloid dakwah Guru Minah edisi April 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*