Mengetahui Isi Hati Orang, Hebatkah? *

Tidak sedikit bahkan kebanyakan orang beranggapan bahwa orang yang dapat mengetahui atau melihat isi hati orang lain adalah waliyullah (kekasih Allah). Padahal, waliyullah sekaliber Imam Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari menegaskan dalam kitab al-Hikam bahwasanya bisa jadi seorang wali tidak mengetahui apa-apa tentang urusan manuisa sekitarnya di muka bumi, tapi sangat mengetahui tentang kegaiban semua langit di alam malakut. Mengetahui isi hati orang, dosa-dosa orang, masa lalu dan masa depan orang adalah suatu keaiban dan beban yang sebetulnya cukup berat. Jika ada seorang wali yang diberikan kemampuan tersebut, maka ia akan menyimpannya dan tidak menggunakannya. Andai kemampuan tersebut berbentuk sebuah kacamata, maka ia akan tersimpan rapi dalam sebuah lemari rahasia.

Misalkan saja, jika seseorang membuka jendela rumahnya lalu melihat tetangganya sedang mandi dalam keadaan telanjang, maka jika ia orang mulia pasti dipalingkan pandangannya dan lekas ditutup jendelanya. Namun jika ia orang yang tak berakhlak maka ia akan berlama-lama nenikmati pemandangan tersebut. Nah, dosa-dosa dan aib-aib orang lain adalah aurat yang lebih besar dari sekedar aurat badan tersebut.

Maka, mengetahui isi hati orang dan aib-aibnya bukanlah suatu kemuliaan dan tidak sekali-kali menjadi indikasi pasti tentang sebuah kewalian. Pasalnya, para dukun dan ahli ramal pun banyak yang mempunyai kemampuan tersebut. Tak terkecuali anak-anak indigo, mereka semua juga punya.

Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Sattar (menutupi aib). Jika memang seorang wali diberikan kemampuan mengetahui aib orang lain, maka ia akan berakhlak sebagaimana Allah, yakni menutupinya dan bukan membeberkan atau mempermalukannya di muka umum. Jika ia membeberkan dan mempermalukan ataupun memamerkan kemampuannya, maka yakinlah ia bukan waliyullah. Imam Ahmad bin Atha’illah berkata: “Barangsiapa mampu mengetahui isi hati orang lain tanpa bersifat rahmat sebagaimana rahmatnya Allah, maka kemampuannya itu menjadi fitnah dan petaka baginya.”

__________________
* Disampaikan di musholla al-Abror Pancor Lombok Timur pada Minggu siang, 14 Oktober 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*