Melacak Kembali Teologi Aswaja *

Ketika mencoba melacak kembali teologi Aswaja yang selama ini dipelajari, maka 70%-nya dipengaruhi oleh Filsafat Yunani, contohnya: Filsuf Yunani semisal Xenophanes yang meyakini bahwa Tuhan tidak serupa dengan makhluk. Socrates yang menyatakan bahwa kebenaran itu adalah Tuhan. Plato yang menjelaskan dalam bukunya Themiah bahwa adanya Tuhan dengan konsep sebab. Sedangkan Aristoteles menganut konsep Dalilul-Harakah yaitu Tuhan ialah sebagai penggerak pertama dan sekaligus sebagai tujuan dari gerak.

Hal ini hubungannya dengan filsafat setelah munculnya Imam Hasan al-Bashri yang ingin mengembalikan frame tauhid ke masa Rasul namun tanpa melalui sebuah karya akan tetapi melalui halaqah-halaqah dan diskusi-diskusi. Beda halnya dengan Imam Abu Hanifah Ra. dalam al-Fiqhul-Akbar-nya beliau ingin mengembalikan bidikan teologi kepada masa Rasul Saw. melaui sebuah karya, walaupun tuntutan teologi dimulai sejak kepemimpinan Imam Ali Ra. yang kemudian muncullah pelbagai aliran teologi seperti Khawarij, Syi’ah, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah dan lain sebagainya, yang sayangnya tidak murni mengemukakan sesuai yang disampaikan Imam Ali karena dipengaruhi faktor-faktor politik yang akhirnya aliran-aliran teologi itu berubah menjadi partai-partai politik.

Inti dari teologi-teologi yang muncul itu menurut Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya World Spirituality; Manifestations adalah terletak pada dua poin yaitu epistimologi dan filsafat, sebagaimana kita buktikan pada teori-teori Thahawiyah, Asya’ariyah dan Maturidiyah dalam buku-buku mereka semisal Taqribul-Maram, Syarhul-Maqashid, al-Ibanah fi Ushul al-Diyanah dan lain-lain, yang sering menggunakan istilah-istilah Illah, Ma’lul, Mahiyah, Wujud dan lain sebagainya. Beda halnya dengan Mu’tazilah yang mengedepankan akal dari pada naql.

Pada perkembangan selanjutnya muncullah gerakan-gerakan islam seperti Ikhwan al-Shafa yang mengajak seluruh mazhab kepada al-Wahidah al-Muthlaqah. Gerakan lainnya adalah ketika berpengaruh pada Ibnu Taimiah yang mengilhami Muhammad bin Abdul-Wahhab dengan gerakan puritannya yang mencoba mengemukakan teologi murni sesuai ajaran Rasul dan Sahabat ternyata malah mencampur-adukkan teologi yang ada pada sekte-sekte terdahulu. Beda halnya dengan Muhammad Abduh dalam Risalah al-Tauhid-nya yang justru mencampur-adukkan Teologi Islam dengan Filsafat Yunani sehingga secara fikih ia bermazhab Maliki namun secara teologi ia adalah seorang yang Aristotelian! Adapun gerakan IM yang menganut Taqribul-Madzahib menurut prespektif Muhammad Imarah mencoba menggabungkan antara Sufi, Wahabi dan Syi’ah, makanya dari segi gerakan IM mendekati Syi’ah, sedang dari segi teologi IM mendekati Wahabi, adapun secara tanzim IM mendekati Sufi, dibuktikan dengan penggunaan istilah Mursyid, Murabbi dan lain sebagainya.

Kemudian muncul lagi filsuf-filsuf islam semisal al-Kindi dengan metafisikanya dan al-Farabi dengan teori emanasinya yang banyak mengadopsi ajaran-ajaran Filsafat Yunani.

Selanjutnya penulis mengingatkan bahwasanya pada masa keemasan dinasti Abbasiyah muncul sebuah filsafat yang cukup unik disebut dengan Filsafat Parepatetik dimana merupakan hibridasi antara Filsafat Persia, Filsafat Islam dan Filsafat Yunani walaupun di sini ajaran-ajaran islam lebih mendominasi; berawal dari akal dan berujung pada roh. Hal ini dikuatkan oleh Imam al-Suhrawardi dengan teori iluminasinya dan Mola Shadruddin dalam bukunya Ittihad al-Aqil wal-Ma’qul. Kemudian pada abad kelima hijriyah muncul Imam al-Ghazali Ra. yang identik seide dengan Filsafat Parepatetik walaupun murni dari pengalaman spiritual dan perjalanan hidupnya, beliau pernah mengatakan bahwasanya barang siapa yang tidak menguasai ilmu mantiq maka otoritas keilmuannya tidak bisa diterima. Ibnu Thufail-pun menegaskan bahwa akal hanya sebagai informasi sedangkan wahyu sebagai konfirmasi. Nah, Ibnu Rusyd yang dituduh menentang Imam al-Ghazali ternyata sebenarnya malah mencoba mengawinkan antara agama atau ilham wahyu dengan nalar atau filsafat sebagai representasi dari akal / rasio.

Setelah itu muncullah seorang teosof besar bernama Syekh Ibnu Arabi Ra. yang dianalisa oleh William C. Chittick dalam pendekatan ontologisnya menerangkan bahwasanya di anatara problematika-problematika tauhid yang perlu dipecahkan adalah antara dzat, asma’ dan sifat, begitu juga antara tauhid ekslusif dan tauhid inklusif. Tauhid ekslusip adalah bagaimana kita memahami Ahadiyah Allah secara benar, sedangkan tauhid inklusif adalah bagaimana kita memahami Wahidiyah Allah secara benar.

Oleh karena perdebatan tauhid terus semakin runyam, dari dulu yang dibahas itu-itu saja tanpa menghasilkan natijah yang memuaskan, maka kita sangat membutuhkan reformulasi teologi yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Steril dari sekte-sekte,
2. Tidak dipengaruhi oleh pemahaman nalar Yunani kuno,
3. Hasil istinbath murni dari Qur’an dan Sunnah (Mazhab dan bukan Fikr),
4. Simpel dan instant.

NU yang konon didirikan untuk membasmi virus-virus wahabi di Indonesia, sepakat untuk menjadikan teologi Asy’ariyah wa Maturidiyah sebagai pegangan, penulis tidak keberatan bila Asy’ariyah wa Maturidiyah dijadikan pegangan karena memang merupakan golongan Aswaja, hanya saja penulis menghimbau agar kita memperluas konsep Aswaja sebagaimana diperluas oleh para ulama’ terdahulu baik ulama’ Asy’ariyah wa Maturidiyah itu sendiri, contohnya Imam Ibnu Subki dalam Syarah Aqidah Ibnul-Hajib mengatakan bahwasanya Aswaja itu banyak golongan, bukan satu atau dua saja, namun kesemuaya sepakat pada satu keyakinan walau berbeda metode dan jalan. Golongan-golongan Aswaja sebagaimana analisa jumhur ulama’ yang dikutip Imam Ibnu Subki dapat dibagi menjadi tiga kelompok; yang pertama adalah para ahli hadits yang berpedoman pada dalil-dalil sam’i yaitu mereka para ulama’ salaf yang identik tawaquf pada ayat-ayat yang berhubungan dengan zat. Kelompok kedua adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah sedangkan kelompok Aswaja yang ketiga dan yang paling penting adalah Mujaddid yang diutus Allah setiap zaman sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Rasul Saw. Nah, Mujaddid inilah yang kita cari-cari, yang mampu memberikan teologi yang sesuai zaman, tidak dipengaruhi teori-teori kuno dan metode-metode klasik. Simpel dan komprehensif. Anti kufur dan anti syirik.

 

Bila cukup dengan buku, akan mengakibatkan kebodohan dan kekolotan / kebekuan. Kita jarang menyadari mengapa kita dianjurkan memohon perlindungan Allah dari godaan setan ketika hendak membaca al-Qur’an? Ini bertanda bahwa membaca al-Qur’an saja yang merupakan firman Tuhan, kita masih dapat digoda setan, bagaimana bila membaca buku-buku Muhammad bin Abdul-Wahhab?! buku-buku Ibnu Taimiah?! buku-buku Imam al-Ghazali?! buku-buku Syekh Ibnu Arabi?! dan lain-lain. Kita bukan lagi digoda oleh setan, akan tetapi diperkosa oleh setan !!! sehingga tak heran bila banyak yang memahami teologi para wali dengan keliru dan menentangnya dengan brutal, khususnya teori Wihdatul-Wujud dan Hulul Ittihad. Allah berfirman: “Man ‘ada li waliyyan faqad adzantuhu bil-harb“!

___________________________

* Disampaikan dalam diskusi Cafe Sufi JATMNU Mesir pada 9 Maret 2007.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*