Khutbah Jum’at, 22 Juli 2016 *



Sidang Jum’at yang dirahmati Allah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt. kita masih dikaruniai nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga pada hari yang mulia ini dan di masjid yang mulia ini kita dapat melaksanakan salah satu rukun Islam yakni ibadah shalat Jum’at yang didahului dengan peringatan atau saling mengingatkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Salah satu kesempatan berlian bagi kita dalam rangka meningkatkan keimanan kepada Allah Swt. adalah akan diselengarakannya Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional di rumah kita ini, yakni Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dengan izin dan rahmat Allah Swt. dalam waktu yang sangat dekat, rumah kita ini akan dikunjungi oleh ribuan tamu dari seluruh penjuru negeri. Saatnya kita memprsiapkan diri semaksimal mungkin untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah Swt. melalui sebuah ibadah yang disebut dengan ikramuddhaif atau memuliakan tamu. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhirat, maka hendaklah ia membuktikan atau meningkatkan keimanannya itu dengan memuliakan tamu.”

Memuliakan tamu bahkan telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul terdahulu. Tak terkecuali Nabi Ibrahim As. yang dijuluki sebagai Abul Anbiya’ (Ayah Seluruh Nabi). Pemuliaan beliau terhadap tamu bahkan diceriterakan oleh Allah Swt. di dalam kitab suci-Nya, al-Qur’an al-Karim. Allah Swt. berfirman dalam surat adz-Dzariyat: “Sudahkah datang kepadamu (hai Muhammad) berita tentang tamu Nabi Ibrahim yang mulia? Mereka memasuki rumahnya dan mengucapkan salam, dan iapun membalas salam mereka, padahal ia tidak mengenal mereka. Ia kemudian pergi ke keluarganya dan menyiapkan hidangan istimewa berupa anak kambing yang gemuk (penuh gizi) lalu didekatkan kepada mereka sembari mempersilahkan mereka dengan ucapan “selamat menikmati.”

Ketika Allah menceritakan kisah penjamuan tamu secara detail di dalam al-Qur’an, maka itu menunjukkan bahwa memuliakan tamu bukanlah sesuatu yang sepele, remeh atau tidak begitu penting, melainkan amat sangat dianjurkan dan dicintai oleh Allah Swt. Bahkan di dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. menegaskan: “Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak memuliakan/menjamu tamu.”

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah, selain menjadi kesempatan bagi kita untuk meningkatkan keimanan dengan memuliakan tamu, penyelenggaraan MTQ Nasional juga menjadi kesempatan bagi kita untuk memperkuat silaturrahim dan meningkatkan persaudaraan kita sesama hamba Allah Swt. Sebagaimana kita ketahui, silaturrahim tidak hanya berdampak mulia di akhirat nanti, tapi juga besar manfaatnya di dunia ini. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa ingin dipanjangkan usianya, dimurahkan rezekinya dan dijauhkan dari kematian dalam su’ul khatimah, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim.”

Adapun kokohnya persaudaraan umat Islam yang didampakkan oleh penyelenggaraan MTQ Nasional tersebut akan menjadi faktor terpenting bagi kemajuan dan kegemilangan umat Islam di masa-masa yang akan datang. Sebab, orang mukmin menjadi lemah tak berdaya dengan dirinya sendiri, sementara menjadi kuat perkasa dengan orang lain atau dengan saudara-saudaranya. Karena itulah Allah Swt. memerintahkan: “Bersatulah dan jangan bercerai-berai.” Rasulullah Saw. pun memerintahkan: “Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara/bersatu.”

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah, satu hal lain yang juga penting untuk kita perhatikan adalah, sebuah keniscayaan bila di tengah-tengah keramaian manusia, selalu ada orang-orang yang berniat tidak baik dan mengganggu ketentraman/ketertiban. Hal itu sangatlah lumrah, karena setiap hidangan yang disajikan di tempat luas dan terbuka, pasti ada saja makhluk yang mengganggu, seperti lalat, kucing ataupun anjing. Beda halnya hidangan yang disajikan di tempat kecil dan tertutup, maka hidangan tersebut sangat terbatas. Sementara, nikmat Allah sangatlah luas, pasti di sekitarnya ada saja orang-orang yang mengganggu. Di tempat-tempat mulia seperti Makkah dan Madinah saja dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa tahun lalu, terjadi pembunuhan di sekitar Ka’bah. Belakangan ini, terjadi pengeboman di sekitar Masjid Nabawi. Musim haji pun selalu tak luput dari pencurian dan lain sebagainya. Tentu saja, momen MTQ Nasional bukanlah momen yang dikecualikan. Oleh karenanya, mari kita tingkatkan kewaspadaan, kehati-hatian dan sikap mawas diri kita, agar terwujudlah baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

_______________________________

* Disampaikan di Masjid Raya at-Taqwa Mataram dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Provinsi NTB, Wali Kota Mataram, Ketua BAZNAS Provinsi NTB serta petinggi-petinggi lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*