Khutbah Jum’at, 17 Agustus 2018 *

Dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt., sebagai umat Islam, kita wajib mentaati, mematuhi serta meneladani Rasulullah Saw. Salah satu dari apa yang pernah beliau teladankan kepada kita adalah apa yang disebut dengan hubbul wathan atau cinta tanah air.

Ketika Rasulullah Saw. berhijrah meninggalkan tanah kelahiran beliau, yaitu kota suci Makkah, beliau menampakkan kesedihan dan rasa berat hati beliau seraya mengutarakan kata-kata perpisahan kepada tanah Makkah yang beliau cintai. Beliau bersabda: “Betapa sucinya engkau dan betapa engkau sangat dicintai olehku. Kalau saja kaumku tidak mengusirku darimu, maka aku takkan mungkin meninggalkanmu.” (HR. at-Tirmizi, Ibnu Hibban, al-Hakim dan lain-lain). Dari hadits ini tampak jelas betapa Rasulullah Saw. amat mencintai tanah air beliau, sekaligus meneladankan cinta tanah air kepada kita semua.

Begitu Rasulullah Saw. tiba di Madinah dan mulai menetap padanya, beliau pun berdoa: “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana cinta kami kepada Makkah atau lebih cinta lagi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Melalui doa ini, beliau mengajarkan kepada kita bahwa apabila kita belum mencintai tanah air kita sendiri, maka semestinya kita terus berusaha dan berdoa agar cinta tanah air dapat tumbuh dalam hati kita. Doa lain yang pernah dipanjatkan oleh Rasulullah Saw. adalah: “Ya Allah, berkahilah Madinah kami.” (HR. ath-Thabrani)

Dalam Shahih Bukhari juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. ketika memasuki Madinah, beliau mempercepat langkah beliau dan menyemangatkan kuda yang beliau kendarai agar memperlaju langkahnya, sebagai tanda cinta dan gembira. Imam Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits ini dalam Fathul Bari memfatwakan bahwa hadits ini merupakan dalil tentang disyariatkannya cinta tanah air.

Di dalam al-Qur’an saja, Allah Swt. bercerita tentang penderitaan hamba-hamba-Nya lantaran diusir dari negeri mereka sendiri. Atas dasar itu, bangkit dalam jiwa mereka semangat jihad di jalan-Nya. Allah Swt. berfirman: “Mereka berkata: Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, sementara kami telah diusir dari negeri kami sendiri?.” (QS. al-Baqarah: 246) Bahkan Sayidina Bilal, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, pernah memohon kepada Allah Swt. agar melaknat orang-orang yang telah mengusir beliau dari negeri beliau sendiri. Beliau berdoa: “Ya Allah, laknatlah Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah dan Umayah bin Khalaf, sebab mereka telah mengusir kami dari negeri kami sendiri.”

Tak heran, salah satu dari sekian bentuk hukuman atau sanksi dalam syariat Islam adalah taghrib, yaitu mengasingkan si pelaku kejahatan dari tanah airnya sendiri. Rasulullah Saw. bahkan pernah menegaskan: “Pergi meninggalkan tanah air adalah bagian dari azab/siksaan.” (HR. al-Bukhari)

Seluruh ayat dan hadits di atas tiada lain menunjukkan bahwa sesungguhnya hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah benar-benar bagian daripada iman.

Di hari 17 Agustus ini, bangsa Indonesia menunjukkan kualitas keimanannya kepada Allah Swt. melalui sebuah ibadah yang disebut hubbul wathan. Bangsa Indonesia memperingati HUT RI, selain meneladani Rasulullah Saw., juga bersyukur kepada Allah Swt. atas nikmat yang sangat besar bagi negeri ini, yaitu nikmat kemerdekaan. Semoga Allah Swt. melindungi kemerdekaan ini dan memelihara negeri ini dari segala bencana dan fitnah di dunia dan di akhirat. Amin.

____________________

* Disampaikan di Masjid al-Ittihad Lingkungan Kampung Baru Kel. Majidi Kec. Selong Kab. Lombok Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*