Khutbah Jum’at, 15 Maret 2013 *

Sidang Jum’at yang berbahagia… Di hari yang mulia ini, masjid-masjid Allah di seluruh dunia dipenuhi oleh umat Rasulullah Saw. untuk mendengarkan sebuah peringatan Ittaqullah. Peringatan atau himbauan takwa kepada Allah ini disampaikan setiap minggu secara terus-menerus sampai kiamat nanti, sebagai tanda bahwa umat Islam dan umat manusia umumnya tidak mampu menjamin dirinya dapat lepas dari murka dan siksaan Allah Swt. Kullu bani Adama khatta’, setiap manusia pasti bernoda. Dari itulah takwa kepada Allah senantiasa diperbaharui dan diasah agar noda-noda itu terhapus, sehingga ketika ajal menjemput, manusia berhadapan dengan Tuhannya bukan dengan tumpukan noda, melainkan dengan tumpukan takwa.

Di dalam bahasa Arab, kata takwa bermakna perlindungan diri, maka tentulah takwa kepada Allah bermaksud melindungi diri dari murka dan azab-Nya. Bagaimanakah melindungi diri dari murka Allah sementara manusia tidak luput dari dosa?. Hanya ampunan Allah lah yang diharapkan. Tidak kurang dan tidak lebih dari itu. Karena tanpa ampunan dari-Nya, manusia menjalani hidupnya dengan susah payah dan akhirnya bertemu Tuhan dalam keadaan murka. Sedangkan apabila ampunan senantiasa diperoleh, maka dosa yang terus dilakukan akan sirna seketika di hadapan Allah Swt.

Dengan demikian, peningkatan takwa kepada Allah Swt. tidak akan pernah luput dari harapan pada ampunan-Nya. Dengan ampunan itulah takwa itu terwujud. Dengan ampunan Tuhan itulah perlindungan diri dari azab-Nya menjadi nyata. Namun, apakah ampunan Allah semudah itu diraih hanya dengan bacaan istighfar?. Sudah pasti tidak cukup dengan mengucapkan Astaghfirullahal Azhim, akan tetapi kita harus sadar dan ingat bahwa Allah memperlakukan kita tergantung bagaimana kita memperlakukan saudara-saudara kita. Rasulullah Saw. bersabda: “Innallaha fi ‘aunil ‘abdi ma damal ‘abdu fi ‘auni akhihi” (Allah selalu menolong hambanya selagi hambanya itu selalu menolong saudaranya). “Man yakun fi hajati akhihi yakunillahu fi hajatih” (Barangsiapa memenuhi hajat saudaranya maka barulah Allah akan menunaikan hajatnya). “Ustur ‘aiba akhika yasturillahu ‘aibaka yaumal qiyamah” (Tutuplah aib saudaramu niscaya Allah akan menutupi aibmu). Maka begitu pula “Man ‘afa ‘an akhihi ‘afallahu ‘anhu yaumal qiyamah” (Barangsiapa memaafkan saudaranya maka Allah pun akan memaafkannya di hari kiamat). Oleh karena itu, bila kita ingin diampuni oleh Allah dosa-dosa yang tak henti-hentinya kita lakukan setiap saat, maka mari kita maafkan kesalahan saudara-saudara kita. Hadits-hadits di atas telah ditegaskan sebelumnya di dalam al-Qur’an ketika Allah berfirman: “Wa an ta’fu aqrabu littaqwa” (Dan sifat pemaaf adalah yang paling mendekatkan kepada takwa). Karena itu sidang Jum’at yang berbahagia, agar tidak sia-sia datang ke masjid setiap Jum’at untuk mendengarkan himbauan takwa, maka marilah kita tingkatkan dan dekati takwa itu dengan saling memaafkan.

_______________________________

* Disampaikan di Masjid al-Ma’shumi Batu Bangka Jenggik Terara Lombok Timur NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*