Khutbah Jum’at, 14 November 2008 *

Sidang jum’at yang berbahagia, dalam setiap minggu terdapat satu hari yang sangat-sangat mulia, karena pada hari itu, selain doa kita dikabulkan oleh Allah Swt., kita pun dikumpulkan untuk saling mempringati demi meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ialah hari Jum’at, yaum al-Jumu’ah. Dinamakan yaum al-Jumu’ah karena pada hari ituyujma’ al-muslimun, dikumpulkan orang-orang Islam dalam sebuah jami’ (masjid tempat berkumpul) hanya semata-mata untuk mendengarkan peringatan Ittaqullah, bertakwalah kepada Allah.

Setiap minggu kita mendengarkan peringatan untuk bertakwa, menunjukkan bahwa takwa bukanlah hal yang sepele. Setiap hari kita selalu dihantui oleh berbagai problematika kehidupan. Setiap hari kita selalu berusaha, menguras tenaga dan pikiran untuk mendapatkan karunia dari Allah Swt. Pada hari Jum’at seperti ini, kita dipringati bahwa takwalah jalan keluar satu-satunya. “Waman yattaqillah yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib“, barang siapa bertakwa kepada Allah, ia akan menemukan jalan keluar dan memperolah karunia Allah dari arah yang tak disangka-sangka.

Sidang jum’at yang berbahagia, secara bahasa, takwa adalah sebuah upaya pencegahan dari sesuatu yang ditakuti. Ketika seseorang mencegah panasnya sinar matahari dengan wasilah payung atau kacamata hitam atau alat-alat lainnya, maka ia telah bertakwa kepada matahari. Ketika para sahabat dulu berperang, mereka tidak hanya membawa pedang, tapi juga membawa perisai. Perisai ini adalah wasilah (perantara) untuk mencegah (bertakwa kepada) senjata musuh. Nah, pada hari Jum’at ini kita dipringati bahwa siksaan dan murka Allah jauh lebih dahsyat dan menakutkan dari sekedar sinar matahari atau serangan-serangan musuh. Oleh karena itu, ittaqullah.

Karena murka Allah lebih dahsyat, maka wasilah yang diperlukan tentunya harus yang lebih hebat dan lebih kuat. Allah berfirman: “Ittaqullah wabtaghu ilaihil wasilah“, bertakwalah kepada Allah dan jangan lupa menggunakan sebuah wasilah. Apakah wasilah itu? Allah Swt. menjawab: “Ittaqullah wakunu ma’asshadiqin“, bertakwalah kepada Allah dengan sebuah wasilah yaitu selalu bersama orang-orang shadiqin, orang-orang shalih. Melalui petunjuk dan bimbingan orang-orang shalih serta para wali, maka kita dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Setiap hari, 17 kali bahkan lebih, kita selalu memohon petunjuk kepada Allah Swt. ke jalan yang lurus “Ihdinasshirathal mustaqim“. Namun apakah jalan yang lurus itu? Allah menjawab: “Shirathalladzina an’amta alaihim“, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah Swt. Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Allah menjawab dalam ayat lain: “Ula’ika ma’alladzina an’amallahu alaihim min al-nabiyyin wa al-shiddiqin wa al-syuhada’ wa al-shalihin“, orang-orang yang dianugerahi nikmat itu adalah mereka para nabi, orang-orang syahid dan orang-orang shalih.

Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa untuk meraih jalan yang benar, kita harus menempuh jalan yang telah dilalui orang-orang shalih. Kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa petunjuk dan bimbingan orang-orang shalih yang telah memperoleh jalan benar itu, dan telah mendapat restu dari Allah untuk membawa hidayah bagi umat. Allah berfirman: “Ula’ikalladzina hadallah fabihudahum iqtadih“, mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk, maka ikutilah petunjuk mereka.

Syekh Muhammad Zainddin Abdul Majid adalah salah seorang dari orang-orang shalh itu. Dulu, di bumi Selaparang ini, sewaktu orang-orang lupa kepada Rasulullah Saw. beliau hadir untuk membangkitkan cinta kepada beliau melalui peringatan-peringatan maulid dan lain sebagainya. Dulu, ketika orang-orang lupa berselawat kepada Nabi, beliau hadir dengan selawat nahdlatainnya. Ketika orang-orang lupa bermunajat kepada Allah, beliau hadir dengan hizib nahdlatul wathannya. Ketika orang-orang dikuasai oleh kejahilan, beliau hadir dengan madrasah-madrasahnya. Ini adalah salah satu contoh bahwa kita tidak akan pernah mampu menggapai hidayah Allah tanpa melalui petunjuk jalan orang-orang shalih.

Sidang jum’at yang berbahagia, pagi tadi, jamaah haji talah berangkat menuju Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka disana tidak hanya melaksanakan rukun Islam kelima saja, tapi mereka akan menjmpai Sayyidusshalihin, tuannya orang-orang shalih, yaitu Rasulullah Saw. Melalui ziarah serta tawassul dengan beliau, tidak hanya meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dan juga tidak hanya untuk menggapai jalan yang lurus, tapi juga untuk menghapus segala dosa dan agar diterima taubat kita oleh Allah Swt. Allah berfirman: “Walau annahum idz zhalamu anfusahum ja’uka fastaghfarullaha wastaghfara lahumurrasul lawajadullaha tawwaban rahima“, apabila mereka telah menganiaya diri mereka dengan dosa, mereka datang kepada Rasulullah Saw. kemudian beristghfar kepada Allah, lalu Rasulullah turut beristighfar untuk mereka, maka barulah taubat mereka diterima Allah Swt. Ayat ini jelas sekali bahwa kedatangan kita kepada Rasulullah adalah pintu kemuliaan yang luar biasa, sebab takwa kita kepada Allah menjadi tinggi, kita pun memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus, dan taubat kita pun diterima Allah Swt.

Kaum muslimin rahimakumullah… kaum nahdliyyin hafizakumullah… Kalau kita tidak dapat mendatangi Rasulullah Saw. maka jangan pesimis, “al-Ulama’ waratsatul-anbiya’“, ulama’ adalah pewaris para nabi. Aqulu qauli hadza wa astghfirullaha li walakum.

______________________________________

*  Disampaikan di Masjid at-Taqwa Pancor Selong Lombok Timur NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*