Khutbah Idul Adha, 2015 *

Muslimin muslimat jamaah Idul Adha yang berbahagia… Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, segala jenis puji bagi Allah Swt. atas nikmat kesehatan dan umur panjang, sehingga kita masih diberi kesempatan untuk membersihkan diri dengan melaksanakan ibadah shalat Idul Adha dan merayakan hari raya qurban. Beberapa bulan sebelumnya, kita telah merayakan hari raya Idul Fithri setelah melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh, yakni pada bula suci Ramadhan. Kini kita merayakan Idul Adha setelah melaksanakan ibadah puasa Arafah. Mudah-mudahan semua kita atau sebagian besar dari kita sudah melaksanakannya, karena sebagaimana dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah Saw. bersabda:
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده
Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, satu tuhan sebelumnya dan satu tahun sesudahnya.”

Sebelum hari raya Idul Fithri pula kita melewati 10 hari yang sangat mulia, disebut dengan al-Asyr al-Awakhir, di mana terdapat di dalamnya malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Demikian pula hari raya Idul Adha kita rayakan setelah melewati 10 hari yang tidak kalah mulianya, karena 10 hari menjelang Idul Adha adalah 10 hari yang sangat dicintai Allah. Dalam hadits riwayat al-Bukhari Rasulullah Saw. bersabda:
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام
Tidak ada ibadah yang paling dicintai oleh Allah melebihi ibadah yang dilakukan pada 10 hari menjelang Idul Adha.”

Sebab, sebagaimana kita ketahui, pada 10 hari menjelang Idul Adha, kumpul segala jenis ibadah, seperti shalat, sedekah, puasa dan begitu pula haji. Ibadah-ibadah itu tidak pernah kumpul di hari-hari lain dan di musim-musim lain selain di 10 hari menjelang Idul Adha. Begitu juga dengan ibadah zikir, sangat dianjurkan dalam 10 hari tersebut, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Haj:
ويذكروا اسم الله في أيام معلومات
Dan agar mereka berzikir menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa 10 hari yang telah ditentukan itu adalah 10 hari menjelang Idul Adha.

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah, hari ini adalah puncak dari 10 hari yang sangat dicintai Allah tersebut, dan di hari ini kita sangat dianjurkan untuk bersedekah dengan berqurban dan mengasihi para faqir miskin, sebagaimana telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sesungguhnya beliau sangat mengasihi dan menyayangi orang-orang miskin, bahkan lebih dari itu. Beliau tidak hanya sering bersedekah kepada orang-orang miskin, tapi juga sangat mencintai dan mendekati orang-orang miskin. Mungkin sebagian umat Islam suka bersedakah, tapi hanya memberikan sedekah lalu berpisah dengan orang-orang miskin itu. Hanya memanggil sewaktu-waktu ke rumah untuk disedekahi lalu disuruh pulang. Sedangkan Rasulullah Saw. sangat mencintai orang-orang miskin, sampai-sampai beliau selalu berkumpul dengan orang-orang miskin.

Di suatu ketika beliau berkumpul dengan mantan-mantan budak yang sangat miskin, seperti Sayidina Salman, Sayidina Bilal, Sayidina Shuhaib dan lain-lain. Lalu datang sekelompok bangsawan-bangsawan Quraisy untuk bertamu kepada beliau. Orang-orang miskin tersebut mereka suruh minggir dan menjauh, tetapi Rasulullah Saw. tidak senang dan malah menyuruh orang-orang miskin itu duduk kembali dan semakin merapat. Dalam riwayat itu disebutkan hingga lutut beliau menempel dengan lutut-lutut orang-orang miskin itu. Selanjutnya beliau menegaskan bahwa orang-orang miskin itu sudah dianggap seperti keluarga. Beliau bersabda: “Salmanu minna Ahlal Bait.. Bilalu minna Ahlal Bait.. Shuhaibu minna Ahlal Bait” dan seterusnya.

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa seorang sahabat bernama Sayidina Sa’d bin Mu’adz al-Anshari, sahabat ini sangat miskin dan berkulit hitam, ia pernah berjabat tangan dengan Rasulullah Saw. lalu beliau merasakan tangannya sangat kasar dan kemudian bertanya: “Kenapa tanganmu hai sahabat?” Sahabat yang sangat miskin itu menjawab: “Tangan ini saya gunakan untuk mencari rezeki buat keluargaku ya Rasulallah.” Beliau kemudian mencium tangan sahabat ini sambil bersabda:
هذه يد يحبها الله
Ini adalah tangan yang sangat dicintai oleh Allah.”

Jamaah Idul Adha yang berbahagia, Di dalam kitab ‘Awarif al-Ma’arif oleh Imam as-Suhrawardi diriwayatkan bahwa malaikat Jibril penah turun membawa berita gembira kepada Rasulullah Saw. yaitu bahwasanya orang-orang miskin akan memasuki surga 500 tahun sebelum orang-orang kaya. Mendengar kabar gembira itu, beliau kemudian menyuruh seorang sahabat untuk melantunkan nasyid atau kasidah, hingga beliau menggoyankan kepala dan tubuh beliau seperti orang berzikir, sampai-sampai sorban beliau terjatuh, saking senang dan bahagianya mendengar bahwa orang-orang miskin akan masuk surga 500 tahun sebelum orang-orang kaya.

Dan yang sangat luar biasa adalah, dalam Sunan Tirmizi dan Sunan Ibnu Majah diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah berdoa memohon kepada Allah Swt.:
اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ
Ya Allah, jadikanlah hamba hidup dalam keadaan miskin, mati dalam keadaan miskin dan bangkit di akhirat nanti bersama orang-orang miskin.”

Tiada lain, karena beliau sangat-sangat mencintai orang-orang miskin. Oleh karena itu, pada hari ini terdapat kesempatan yang sangat berharga dan luar biasa, di mana kita dapat mengikuti jejak Rasulullah Saw. dengan menunjukkan cinta, kasih dan sayang kita kepada orang-orang miskin. Meskipun, sesungguhnya hewan qurban yang akan kita qurbankan tidak seberapa dengan apa yang pernah diberikan Rasulullah Saw. kepada orang-orang miskin, namun mari kita hidupkan dan meriahkan demi meneladani cinta Rasulullah Saw. kepada orang-orang miskin.

Muslimin muslimat jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah, selain berqurban untuk mengasihi orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada Allah, pada hari ini juga mari kita manfaatkan untuk bermaaf-maafan. Sebab, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa semua orang yang sedang wuquf di Arafah diampuni dosanya oleh Allah kecuali orang-orang yang masih bermusuhan dengan sesama saudaranya. Orang yang sudah sampai di Makkah saja untuk melaksakan ibadah haji dan wuquf di Arafah belum dimaafkan dosa-dosanya oleh Allah apabila masih belum memaafkan saudaranya atau belum dimaafkan oleh saudaranya, maka kita yang berada di sini jangan sampai ada dendam di antara kita. Mari kita saling memaafkan satu sama lain, agar Allah pun mau memaafkan kita. Rasulullah Saw. bersabda:
من عفا عن أخيه عفا الله عنه
Barangsiapa memaafkan saudaranya, maka Allah pun memaafkannya.”

____________________________________

* Disampaikan di Masjid al-Muhibbin Lendang Bedurik Lombok Timur NTB pada tanggal 24 September 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*