Khutbah Idul Adha, 15 Oktober 2013 *

Jamaah Idul Adha yang berbahagia, di hari yang istimewa ini kita berkumpul dalam rangka melaksanakan sebuah rutinitas tahunan untuk merayakan sebuah hari raya Islam yang dalam 360 hari hanya satu hari saja kita merayakannya, ialah hari raya Idul Adha. Apabila Idul Fithri kita rayakan setelah melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh, maka Idul Adha kita rayakan setelah jamaah haji melakukan wuquf di Arafah memenuhi panggilan Allah. Idul Adha juga kita rayakan setelah kita semua melewati hari-hari indah bersama Allah, yaitu 10 hari pertama bulan Zul-Hijah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada ibadah yang paling dicintai Allah melebihi ibadah yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Zul-Hijjah.” Artinya, ibadah apapun yang kita lakukan pada 10 hari pertama Zul-Hijjah maka itu merupakan ibadah yang paling dicintai Allah sepanjang tahun. Hal itu dikarenakan pada 10 hari itu berkumpul lah semua bentuk ibadah berupa shalat, puasa, sedekah, dan juga ibdah haji, dimana semua ibadah itu tidak pernah berkumpul pada hari-hari yang lain. Maka tentulah hari ini merupakan hari yang sangat bahagia, tidak kalah bahagianya dengan lebaran puasa. Lebih-lebih pada hari ini umat Islam yang berkemampuan sangat dianjurkan untuk berkorban demi kesejahteraan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Pengorbanan itu dilakukan semata-mata tulus karena Allah Swt. yang berfirman dalam surat al-Kautsar: “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang berlimpah ruah, maka shalatlah dan berkorbanlah. Sesungghunya orang yang membencimu adalah orang yang terputus.”

Apabila seorang hamba berkorban di hari ini maka ia telah menghidupkan syiar Allah sebagai nuansa keislaman yang terang benderang sekaligus mencerahkan jiwa dan raga umat Islam. Hal itu ditegaskan di dalam al-Qur’an dimana Allah Swt. berfirman: “Dan telah kami jadikan untukmu korban-korban itu sebagai syiar-syiar Allah yang teradapat padanya kebaikan bagimu, maka sebutlah nama Allah ketika menyembelihnya.”

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah, inti daripada sebuah pengorbanan adalah kepedulian sosial sebagai ajang mengasah ketakwaan kepada Allah Swt. yang berfirman: “Daging dan darah itu tidak akan mencapai ridho Alllah, melainkan ketakwaan dari kamu lah yang dapat mencapainya.” Peningkatan takwa kepada Allah dengan sikap perduli pada sesama, khususnya kepada orang-orang yang lemah, miskin dan tak berdaya merupakan sikap yang dicintai Allah. Rasulullah Saw. bersabda: “Kasih sayangilah orang-orang yang ada di bumi, maka kamupun akan dikasihi dan disayangi oleh yang ada di langit.”

Apabila kita terbang sejanak ke belakang, kurang lebih lima belas abad lampau, maka kita akan menemui Rasulullah Saw. sebagai penghulu semesta alam sangat perduli pada orang-orang miskin bahkan sangat cinta kepada mereka. Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah berkumpul bersama para mantan budak seperti Saidina Salman, Saidina Bilal, Saidina Ammar dll. Mereka adalah orang-orang miskin yang berpakaian lusuh, bau dan kasar, tapi beliau tidak pernah menolak untuk berkumpul bersama mereka, bahkan resmi menggolongkan mereka ke dalam keluarga besar beliau. Saat berkumpul, tiba-tiba berdatangan serombongan bangsawan yakni pembesar Quraisy untuk menemui Rasulullah Saw. Mereka lalu protes dan meminta agar orang-orang miskin itu dijauhkan dari mereka saat bertamu, namun ternyata Rasulullah Saw. justru menyuruh orang-orang miskin itu untuk semakin merapat kepada beliau dan menempelkan lutut mereka ke lutut beliau seraya mengucapkan: “Kesejahteraan atas kalian hai orang-orang miskin.”

Dalam kesempatan lain, Rasulullah Saw. menemui seorang sahabat yang miskin yakni Saidina Saad al-Anshari yang tangannya hitam dan kasar. Rasulullah bertanya: “Mengapa tanganmu hitam dan kasar seperti ini?” Ia menjawab: “Tangan ini saya pergunakan untuk mencari nafkah bagi keluarga saya.” Rasulullah kemudian mencium tangan hitam dan kasar itu sambil mengatakan: “Tangan ini adalah tangan yang dicintai Allah.”

Sidang Idul Adha yang dimuliakan Allah, dalam kitab ‘Awarif al-Ma’arif oleh Imam as-Suhrawardi terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah berkumpul bersama orang-orang miskin lalu turunlah malaikat Jibril untuk menyampaikan sebuah kabar bahwasanya orang-orang miskin akan memasuki surga 500 tahun sebelum orang-orang kaya. Mendengar berita itu, Rasulullah meminta seseorang untuk melantunkan sebuah kasidah. Begitu kasidah sedang dilantunkan, beliau secara refleks bergoyang gembira hingga tanpa disadari sorban beliau jatuh ke pundak. Datanglah seorang sahabat bertanya: “Apa yang engkau lakukan ini wahai Rasulullah?.” Beliau menjwab: “Tidaklah mulia orang yang tidak bergoyang saat mendengar nama Allah disebut.”

Yang lebih menakjubkan lagi adalah ketika Rasulullah Saw. pernah berdoa kepada Allah Swt. dengan ucapan, “Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin lalu bangkitkanlah aku bersama orang-orang miskin.”

Semua riwayat tadi menyimpulkan bahwa betapa Rasulullah Saw. sebagai panutan dan teladan kita semua amat perduli dan cinta kepada orang-orang miskin. Pada hari ini terdapat kesempatan berlian bagi kita umat Islam untuk meniru Nabi besar kita Saidina Muhammad Saw. dengan menunjukkan cinta dan kasih sayang serta kepedulian sosial kita kepada orang-orang miskin. Jika tidak mampu mengorbankan binatang ternak, maka kepedulian dapat dilakukan dengan cara apapun semampu kita, maka Allah Maha Mengetahui niat baik kita serta membalasnya dengan imbalan mulia di sisi-Nya.

_____________________________

* Disampaikan di Masjid an-Namirah Montong Beter Rensing Sakra Barat Lombok Timur NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*