Islamofobia dan Islam Nusantara *

Mengapa Islamofobia muncul?.
1. Karena sebagian dari umat Islam gagal paham tentang risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin sehingga kemudian mereka tidak mampu menampilkan potret yang benar tentang Islam. Mereka cenderung menebarkan anarkisme atas nama Islam lantaran kegagalpahaman mereka terhadap sejarah dan ajaran Islam.
2. Karena musuh-musuh Islam gencar mempropagandakan dan membesar-besarkan berita terorisme yang dilakukan (sebagian) umat Islam. Padahal, pelaku terorisme tidak hanya muncul dari umat Islam, tapi mucul juga dari umat Kristen sebagaimana terjadi di Bosnia dan Herzegovina, muncul juga dari umat Buddha sebagaimana terjadi di Myanmar, muncul juga dari umat Yahudi sebagaimana terjadi di Yerusalem, muncul juga dari kaum komunis sebagaimana dilakukan Josef Stalin, muncul juga dari kaum sekuler sebagaimana dilakukan Bush terhadap beberapa negara Arab, dan lain sebagainya. Persoalannya, propaganda yang menonjolkan terorisme umat Islam lebih digencarkan dan dibesar-besarkan, sementara umat Islam sendiri tidak sibuk mempropagandakan terorisme umat-umat lain. Ini saja sebetulnya sudah merupakan pertanda bahwa sikap umat Islam jauh lebih toleran dan lebih lapang dada dibanding umat-umat lainnya.

Bagaimana mengikis gerakan Islamofobia?.
Tentu saja dengan membenahi umat Islam sendiri dari dalam, terutama di bidang pendidikan. Mulai dari teologinya, hukum-hukum fikihnya, nilai-nilai spiritualnya, sejarah kebudayaan dan peradabannya, akhlak dan tasawufnya, komunikasi dan dakwahnya, hingga wawasan politik dan kebangsaannya. Dengan edukasi yang baik dan benar, maka tampaklah potret yang terang dan bersih.
Dalam hal ini, peran aktif ormas-ormas Islam Aswaja sangat diperlukan agar lebih edukatif, produktif dan kontributif. Mengapa ormas Islam Aswaja? Sebab, ideologi yang dianut oleh ormas dan golongan non Aswaja seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir, Salafi-Wahabi dan sebagainya itulah ideologi yang dianut para pelaku terorisme seperti Al Qaeda, ISIS dan lain-lain.
Edukasi dan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin juga harus ditempuh melalui banyak cara dan media, sebagaimana ditempuh oleh da’i internasional asal Yaman, al-Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jifri. Beliau mendakwahkan Islam kontemporer yang rahmatan lil ‘alamin melalui Yayasan Thabah yang didirikannya di Emirat, pun melalui dialog-dialog di televisi dan perguruan-pergruan tinggi, juga melalui Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, serta penyusunan dan penerbitan buku-buku mencerahkan bagi umat. Dakwah yang beliau sampaikan pun sangat relevan dengan tuntutan ruang dan masa serta situasi dan kondisi yang secara terus-menerus berubah dan berkemabang. Dan tentu saja dilandaskan dengan kuat pada prinsip-prinsip dasar ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang toleran, elastis dan universal. Selain Habib Ali al-Jifri, ulama kontemporer yang patut ditiru dakwahnya serta dikonsumsi fatwa-fatwanya adalah Prof. Dr. Syekh Ali Jum’ah, Mufti Mesir periode 2003-2013.

Mengapa Islam Nusantara?.
Atas penjelasan dan keterangan dari penggagasnya sendiri, yakni Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, M.A., Islam Nusantara bermaksud menonjolkan kearifan umat Islam di bumi Nusantara yang menjunjung tinggi ajaran Islam dengan melestarikan budaya yang ada serta bersikap kreatif dengan melahirkan tradisi-tradisi baru yang dalam Islam disebut sunnatan hasanah. Tradisi-tradisi baru yang Islami tersebut cenderung tidak ditemukan di negara-negara lain, sehingga diluncurkanlah istilah Islam Nusantara, yakni ciri khas dan keunikan serta kreatifitas umat Islam di bumi Nusantara.
Keistimewaan (umat) Islam (di) Nusantara antara lain mampu menampilkan potret dakwah Islam yang lembut dan toleran serta amat sangat jauh dari bau-bau kekerasan. Dengan demikian, gerakan membangkitkan Islam Nusantara dapat dikategorikan sebagai bagian dari upaya-upaya positif dalam rangka mengikis Islamofobia, baik di tingkat domestik maupun mancanegara.
Hanya saja, amat berlebihan jika Islam Nusantara harus dibumbui dengan statmen-statmen anti Arab atau klaim-klaim bahwa Islam di Arab adalah Islam yang keras dan sebagainya. Sebab, hal itu tentu saja menyinggung perasaan umat Islam di Arab, sehingga mereka yang diharapkan dapat meniru gaya berislam di Nusantara justru menjadi ilfil kepada Islam Nusantara. Terlebih, cara berislam di Arab sesungguhnya tidak sefatal yang kerap dituduhkan. Banyak wilayah di Arab yang masyarakatnya menjalani keislaman dengan memelihara budaya setempat dan menjauhi segala bentuk kekerasan serta melahirkan tradisi-tradisi baru yang Islami. Tidak boleh dipungkiri pula bahwa keunikan cara berislam di Nusantara tidak luput dari kontribusi dakwah tokoh-tokoh muslim di Arab. Tidak boleh juga dilupakan bahwa di Indonesia pun tidak jarang muncul teroris-teroris yang cukup menggemparkan dunia.
Alhasil, cara berislam di Nusantara baik untuk ditonjolkan keunikannya, namun tidak perlu disertai dengan merendahkan cara-cara berislam di Arab yang sedari dulu menjadi pusat pendidikan dan peradaban Islam yang kokoh nan perkasa.

________________________
* Disampaikan dalam seminar dialog publik Islamofobia dan Islam Nusantara yang diselenggarakan oleh Lumbung Institut NTB, Yalla Edukasi Indonesia, BEM Fak. Syariah IAI Hamzanwadi Pancor dan BEM Fak. MIPA Univ. Hamzanwadi Pancor pada tanggal 6 Maret 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*