Engkau Bebas Selagi Tak Menindas
Wawancara Saluran Pertama Telivisi Mesir
Cairo International Book Fair, 4 February 2012

Bolehkah kami mengenal nama dan asal anda?
Abdul Aziz asal Indonesia.
Selamat datang di Mesir. Maaf, waktunya kami ambil sedikit untuk bertanya seputar hubungan intelektualisme antar negara. Bolehkah?.
Silahkan!.
Sebagaimana kita ketahui, perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi semakin pesat. Kebebasan berpendapat juga bertambah mekar, namun bila dibarengi fanatisme buta dan mendiskriminasikan pendapat orang lain maka hal itu sangatlah tercela. Bagaimana menurut anda?.
Kita semua sangat menjunjung tinggi kebebasan, baik dalam berpendapat, berbuat, berkata, berpikir, berakidah, bahkan beragama sekalipun, namun kita juga wajib menyadari ketetapan Tuhan bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan. Dari itu apabila kita tidak menghargai pendapat orang lain maka otomatis kita tidak menghargai ketetapan Tuhan. Sebuah kaidah yang harus kita pegang dalam hal ini adalah "Kamu bebas selagi tak menindas".
Apakah anda menemukan sikap saling menghargai tersebut di Mesir?.
Iya. Saya berharap juga pasca revolusi kebebasan yang tak melampaui batas itu benar-benar terwujud dengan sebaik-baiknya.
Apakah fanatik terhadap pendapat diri sendiri lebih menonjol di bidang pengetahuan umum, atau politik?.
Saya rasa fanatisme dalam dunia perpolitikan lebih nampak dan tentu lebih negatif, karena susah lepas dari kepentingan-kepentingan pribadi.
Adakah persamaan intelektual antara warga Indonesia dan Mesir?.
Pasti ada, karena kami datang belajar di Mesir, maka tentulah banyak yang diserap lalu selanjutnya ditularkan di negeri kami.
Menurut anda bagaimana langkah-langkah mengikis penyakit fanatisme?.
Dengan ilmu. Semakin meluas wawasan kita maka semakin toleran lah kita terhadap semua pendapat yang ada, khususnya pendapat-pendapat yang berdiri atas pondasi yang jelas.
Terima kasih atas waktunya. Kami sangat senang atas pertemuan ini.
Terima kasih kembali kepada anda dan semua pemirsa.
(Akan ditayangkan pada tanggal 12 Februari 2012 pukul 03:00 AM)

Sesepuh al-Azhar Yang Baik Hati

Prof. Dr. Muhammad Rasyad Abdul Aziz Dahmisy, guru besar filsafat dan mantan Dekan Fakultas Studi Islam dan Arab Universitas al-Azhar Dusuq Mesir ini sangat penyayang terhadap para mahasiswanya. Penulis merasa sangat beruntung karena sempat diajari dan dibimbingnya. Mulai dari menentukan judul tesis yang tepat, lalu menyusunnya dengan cepat, kemudian menghadapi para penguji dengan mudah, sampai melewati sidang dengan singkat dan puas, semua jasa baik itu jarang ditemui pada dosen-dosen Universitas al-Azhar, namun ternyata mudah didapati dari seorang dosen senior sekaliber Prof. Dr. Muhammad Rasyad Dahmisy. Yang lebih langka lagi, penulis sempat diantarnya ke suatu tempat dengan mobil pribadinya dan dia sendiri yang mengemudi! [ Baca sedetailnya... ]

Macan Tasawuf dari Negeri Berber

"Wawasan tasawufmu terlalu menakjubkanku", ungkap Syaikh Abdul Hadi Muhammad al-Kharsah, ulama besar asal Damaskus, kepada salah seorang cendekiawan sederhana dari Republik Arab Aljazair yang mayoritas penduduknya berasal dari bangsa Berber, ialah Prof. Dr. Muhammad bin Brikah al-Hasani. Kehebatan Ibnu Brikah di bidang tasawuf juga diakui banyak ulama terkemuka lainnya seperti Syaikh Muhammad al-Ya'qubi, Syaikh Abdurrahim Jad al-Azhari, dan lain-lain. Bukan suatu yang berlebihan bila penulis kali ini memperkenalkan sosok Ibnu Brikah kepada segenap pembaca yang insya'allah tidak akan menyesal mengenal kehebatannya. [ Sedetailnya... ]

Sufi: Menguak Hakekat Reformasi

Melalui muktamar internasional yang diselenggarakan pada tanggal 24-26 September 2011 M. / 26-28 Syawwal 1432 H. di al-Azhar Conference Centre (ACC) Nasr City Kairo Mesir, di bawah naungan Grand Syaikh al-Azhar, Mufti Mesir, Menteri Wakaf Mesir, Majlis Sufi Tertinggi Mesir, Ikatan Habaib Mesir, Ikatan Alumni al-Azhar Internasional, Akademi Sufi Asyirah Muhammadiyah, dan Yayasan Thaba For Research and Islamic Studies Dubai, lebih dari 300 ulama dan cendekiawan muslim dari 35 negara sepakat, bahwa "Sufism: An Authentic Way Of Reform / at-Tashawwuf Manhaj Ashil lil Ishlah; Tasawuf Adalah Jalan Reformasi Yang Hakiki".

Begitulah tema konferensi sufi internasional pertama di Mesir, yang pernah digagas oleh Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim (Syaikh Tarekat Muhammadiyah Syadzuliyah) pada tahun 1952, namun baru terwujud pada tahun ini, kata Syaikh Isham Zaki Ibrahim sebagai putra dan penggagas momen besar ini, pada pembukaan muktamar. Prof. Dr. M. Muhanna sebagai Pimpinan Asyirah Muhammadiyah dan Akademi Sufi di salah satu stasiun televisi Mesir melengkapi, "bahwa sekitar empat lima tahun yang lalu, ide ini sudah hampir terealisasi, bahkan sudah seharusnya dilaksanakan tahun kemarin, namun akhirnya tahun inilah konferensi besar ini baru bisa terwujud", tuturnya. [ Berita selengkapnya... ]