Haul *

Segala jenis puji kita panjatkan kehadirat Allah Swt. yang atas karunia-Nya kita masih diberi nikmat kesehatan dan umur panjang sehingga dapat hadir dan berkumpul di tempat yang sangat mulia ini. Tempat ini sangat mulia karena senantiasa dipenuhi oleh para penuntut ilmu dan juga para pengamal ilmu. Tempat ini sangat mulia karena memang dibangun khusus untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan mulia. Dan tempat ini sangat mulia karena pada hari ini tempat ini dikunjungi dan didatangi oleh orang-orang mulia. Juga tempat ini menjadi sangat muia karena padanya kita berkumpul untuk mempringati haul wafatnya orang-orang yang insya Allah menempati posisi yang mulia di sisi Allah Swt. Mudah-mudahan tempat ini dan semua yang hadir di tempat ini senantiasa dilimpahi keberkatan serta tercapai segala maksud baik, amin allahumma amin.

Hari ini kita berkumpul selain untuk mempererat tali silaturrahmi, juga dalam rangka mempringati sesuatu yang memang sangat baik untuk dipringati. Yaitu wafatnya orang-orang yang meskipun sudah tidak ada lagi di permukaan bumi tapi abadi bersemayam di hati. Di antaranya almarhum H. Jamaluddin dan almarhumah Hj. Fatimah, kakek dan nenek saya, alias orangtua dari ayah saya, TGKH. Husnuddu’at, pendiri pondok pesantren Ridlol Walidain.

Dari nama pondok pesantren ini saja sudah jelas bahwa ayahanda TGKH. Husnuddu’at sangat mengutamakan ridho orangtua dalam setiap langkah dan perjuangan yang ditempuh selama hidup di dunia. Dan itulah yang menjadi cita-cita beliau agar seluruh santri dan santriwati memperoleh ridho orangtua, sehingga dengan ridho orangtua tersebut maka otomatis Allah Swt. pun turut ridho. Rasulullah Saw. bersabda: “Ridhollah fi ridhol walidain“, ridho Allah bergantung pada ridho orangtua. Dan insya Allah juga bermaksud, ridho Allah bisa diraih di pondok pesantren Ridlol Walidain.

Mempringati haul orangtua yang sudah meninggal dunia adalah bagian dari berbakti kepada mereka. Lebih-lebih almarhum H. Jamaluddin, salah seorang yang kita pringati haulnya hari ini, adalah contoh orangtua yang baik sekaligus contoh pejuang yang baik. Setidaknya dirasakan oleh keluarga besar dan masyarakat sekitar sampai saat ini juga. Sebagai rasa syukur dan balas budi kepada perjuangan almarhum, tentu acara haul tahunan seperti ini yang nanti diiringi zikir, syafaat dan doa bersama untuk almarhum, akan sangat bermanfaat bagi almarhum di alam barzakh. Barangsiapa tidak meyakini bahwa pahala zikir dan bacaan al-Qur’an tidak akan dapat sampai ke arwah orang yang telah meninggal dunia, maka kelak ketika ia meninggal dunia, tidak akan sampai pula pahala bacaan orang-orang untuknya. Sebaliknya, apabila kita yakin pahala itu dapat sampai maka insya Allah setelah kita meninggal dunia nanti, pahala-pahala itupun dapat sampai kepada kita dan mudah-mudahan berlipat ganda.

Manusia pada umumnya mempunyai lima ciri/kemampuan yaitu terjaga/sadar, bernafas, melihat, mendengar dan berbicara. Apabila ia tidur, dan sebagaimana kata orang bahwa tidur itu belajar mati, maka berkurang satu ciri yaitu terjaga/sadar, tapi ia masih bernafas (terkadang nafasnya justru lebih besar saat tidur), melihat, mendengar dan berbicara (khususnya ketika bermimpi). Adapun ketika ia mati, maka berkurang satu lagi yaitu bernafas, dan tiga ciri lainnya masih tetap melekat. Artinya, orang yang sudah meninggal dunia masih bisa melihat, mendengar dan berbicara sehingga dapat menjawab soal-soal malaiat maupun menjawab salam pengunjung dan mendengarkan pembicaraannya. Selepas perang Badar dulu, Rasulullah Saw. sempat memukul bangkai orang-orang kafir sambil mengatakan “Kami telah menemukan janji Tuhan kami, maka apakah kalian telah menemukan janji tuhan kalian!”. Seorang sahabat bertanya: “Mengapa engkau berbicara dengan mereka sedang mereka telah membangkai?”. Beliau menjawab: “Belum tentu kalian lebih mampu mendengar daripada mereka.”

Selain bermanfaat bagi almarhum, mempringati haul juga sangat bermanfaat bagi kita yang masih hidup, karena dapat mengenang jasa-jasa baik almarhum sekaligus memetik pelajaran hidup dari perjuangan yang pernah ditempuh oleh almarhum. Selain itu, peringatan haul mengingatkan kita kepada sesuatu yang pasti datang menghampiri kita, yakni kematian. Rasulullah Saw. bersabda: “Ingat para nabi adalah ibadah, ingat orang-orang shalih dapat menghapus dosa, ingat mati seperti bersedekah, dan ingat kubur dapat mendekatkan kepada surga.” Semua keutamaan tersebut berkumpul dalam peringatan haul, sebab dengan mempringati haul maka kita telah beribadah dengan mengingat para nabi (khususnya sang penghulu para nabi), terhapus dosa dengan mengingat orang-orang shalih, bersedekah dengan mengingat kematian, dan semakin mendekat kepada surga dengan mengingat kuburan.

Di kesampatan ini juga, kita mempringati haulnya Syaikh Yasin al-Fadani, seorang ulama besar yang diperingati haulnya di seluruh dunia. Salah satu kekeramatan beliau adalah ketika didatangi para ulama dari Suriah pada suatu hari Jum’at. Dikisahkan bahwa Syaikh Yasin tidak bersiap-siap ke masjid untuk shalat Jum’at hingga para tamu bertanya-tanya dalam hati. Para tamu pun meminta izin ke masjid untuk shalat Jum’at namun Syaikh Yasin masih duduk manis di tempat. Para tamu mulai bertambah ragu dengan keulamaan Syaikh Yasin. Setelah pulang dari masjid, beliau masih saja ditemui duduk manis sehingga mereka semakin ragu dan tidak lagi simpati. Tidak lama kemudian, datanglah sejumlah jamaah dengan menunjukkan rasa heran melihat beliau yang begitu lekas sampai di rumah mendahului mereka. Para tamu bertanya tentang kejadian sebenarnya. Jamaah yang baru saja datang pun menyatakan, “baru saja beliau shalat Jum’at bersama kami di Masjid al-Haram!.”

Murid-murid Syaikh Yasin al-Fadani tersebar di seluruh dunia, tak terkecuali di Jenggik, sehingga tidak patut bila kita tidak turut memperingati haul beliau sebagaiamana diperingati di seluruh penjuru dunia. Di Mesir pun banyak murid beliau, bahkan mantan Mufti Mesir (ulama tempat bertanya hukum agama nomor satu se-Mesir), Syaikh Ali Jum’ah pun murid beliau. Suatu ketika Syaikh Ali Jum’ah ditanya tentang hukum merokok. Beliau justru menjawab dengan tanpa pikir panjang bahwa Syaikh Yasin (gurunya) saja meriwayatkan hadits sambil menghisap shisha (rokok khas Arab).

Mari kita khusyu’kan hati berzikir dengan La Ilaha Illallah dan kita hadiahkan kepada almarhum. Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Sebaik-baik zikir adalah La Ilaha Illallah.” Bila diperhatikan, kalimat tersebut terdiri dari empat kata. Tentunya, angka empat bukanlah angka yang sepele, sebab kitab suci Allah ada empat, pimpinan para malaikat ada empat, pimpinan para sahabat (khulafa’ rasyidin) ada empat, pimpinan mazhab-mazhab fikih ada empat, pimpinan para wali (wali kutub) juga ada empat. Mudah-mudahan semua empat-empat itu mensyafaati kita semua, khususnya yang sudah meninggal dunia berkat La Ilaha Illallah.

__________________________________

* Disampaikan pada 8 September 2013 dalam acara Haul dan Silaturrahmi Ponpes Ridlol Walidain, Jenggik Lombok Timur NTB. Dihadiri oleh H. M. Syamsul Luthfi, SE. M.Si. Wakil Bupati Lombok Timur (2008-2013) dan Calon Legislatif untuk DPR RI (2014-2019).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*