Di Bawah Lindungan Rasulullah Saw. Sebuah Karya Yang Mengejutkan Tapi Menyejukkan *

Sosok cahaya Ilahiyyah yang diwujudkan dalam bentuk basyariyyah, itulah Rasulullah Saw. sebagaimana tegas Sang Pencipta. Sesungguhnya Ia telah mengutus seorang cahaya (QS. al-Ma’idah: 15) meski berwujud manusia sebagaimana manusia-manusia lainnya (QS. al-Kahfi: 110).

Mengenal sang cahaya yang berwujud manusia itu bukanlah perkara sepele yang layak diabaikan. Sebab, setiap muslim sejati dituntut untuk mencintai beliau sepenuh hati, bahkan melebihi cinta kepada orangtua dan anak (HR. al-Bukhari dan Muslim). Juga dituntut untuk mengikuti dan mentaati beliau sesempurna mungkin, sebagaimana tertera dalam banyak firman-Nya. Akan tetapi, suatu hal yang mustahil dipungkiri bahwasanya cinta dan taat dimaksud takkan teraih dengan baik dan benar jika tak didasari oleh sebuah pengenalan yang sedekat-dekatnya. Tak kenal maka tak cinta, ujar kaula muda. Tak cinta maka tak taat, tegas Imam Syafi’i dalam syair populernya.

Bahkan, Allah Swt. mengingatkan, apabila seseorang tidak mengenal betul siapa Rasulullah Saw. sesungguhnya maka ia berpotensi besar untuk mengingkari beliau berikut risalah yang dibawa (QS. al-Mu’minun: 69). Sehingga cukup fatal bila seorang hamba belum mengenal sosok nabinya sendiri, untuk kemudian dicintai lalu ditaati dengan sebaik-baiknya. Lantas sudahkah umat Islam mengenal sang Rasul teragung tersebut?. Hemat penulis, mayoritas umat Islam belum mengenal sungguh siapa nabi mereka!.

Buktinya, banyak dari umat Islam belum mengenal Rasulullah Saw. sebagai ciptaan pertama Allah yang terwujud sebelum Nabi Adam dan bahkan sebelum Lauhil Mahfuzh, Qalam, Kursi dan Arsyi, sebagaimana dinyatakan Syekh Abdullah Sirajuddin al-Husaini dalam kitab Muhadharat haula al-Fadha’il al-Muhammadiyyah dan mayoritas ulama lainnya.

Realitanya, banyak dari umat Islam belum mengenal bahwa malam maulid Rasulullah Saw. lebih mulia daripada malam Lailatul Qadar, sebagaimana dinyatakan Prof. Dr. Sayid Muhammad Alawi al-Maliki dalam kitab adz-Dzakha’ir al-Muhammadiyyah-nya. Sayid Muhammad Amin al-Kutbi bahkan memfatwakan bahwa hari maulid beliau lebih besar daripada hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha!.

Faktanya, banyak dari umat Islam belum mengenal bahwa Buraq yang ditunggangi Rasulullah Saw. ketika Isra’ Mi’raj semata-mata untuk mempersantai perjalanan dan bukan memperlajunya, sebagaimana dinyatakan Syekh Mukhtar Ali Muhammad ad-Dusuqi, tokoh terkemuka Majelis Sufi Tertinggi Mesir, dalam sejumlah media massa. Dalam kitab Jawahir al-Bihar, Syekh Yusuf an-Nabhani pun berkeyakinan bahwa Rasulullah Saw. mampu menempuh Isra’ Mi’raj seorang diri tanpa campur badan Buraq yang sebetulnya hanya sebagai penghormatan kepada sang junjungan alam semesta.

Kenyataannya, banyak dari umat Islam belum mengenal tentang air liur Rasulullah Saw. yang keharumannya melebihi wewangian kasturi, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat terpercaya. Begitu pula darah dan air kecil (kencing) beliau yang dapat menyelamatkan peminumnya dari segala penyakit jiwa dan raga. Bahkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Khasha’ish al-Kubra-nya mengemukakan, sesungguhnya air besar Rasulullah Saw. senantiasa menjadi penyegar jiwa di alam kubur bagi segenap kandidat penghuni surga!.

Bukti lainnya, banyak dari umat Islam belum mengenal bahwa makam Rasulullah Saw. di Madinah lebih agung daripada Ka’bah, Lauhil Mahfuzh, Qalam, Kursi, Baitul Ma’mur bahkan Arsyi, sebagaimana dinyatakan Imam al-Qasthalani, al-Qadhi Iyadh, al-Fakihani, al-Hashfaki, Imam Nawawi, Imam as-Subki dan yang lainnya. Imam Malik bin Anas (penggagas Mazhab Maliki) pun lebih memilih menghadap makam Rasulullah Saw. untuk berdoa daripada menghadap Ka’bah, sebagaimana dikutip Prof. Dr. Sayid Muhammad Alawi al-Maliki dalam kitab Syifa’ al-Fu’ad-nya.

Fakta lainnya, banyak dari umat Islam belum mengenal bahwa terompah Rasulullah Saw. menjadi penguasa atas seluruh alam raya beserta isinya, sebagaimana dinyatakan Syekh Yusuf an-Nabhani dalam sejumlah karyanya. Aneh tapi nyata, kitab spektakuler berjudul Fath al-Muta’al fi Madh an-Ni’al karya Imam Ahmad al-Maqarri at-Tilmisani semata-mata digubah untuk memuji lukisan terompah Rasulullah Saw. dalam enam ratus halaman dengan syair-syair mempesona!. Syekh Muhammad asy-Syarif al-Hasani dalam kitab Nawamis an-Ni’al-nya tak ketinggalan berfatwa bahwa surga hanyalah sisa-sisa dedebuan alas terompah Rasulullah Saw. dan ketampanan Nabi Yusuf hanyalah cercahan cahaya terompah agung Baginda!.

Selain itu, apakah umat Islam telah menyadari bahwa fisik lahiriah Rasulullah Saw. masih hidup dan eksis di setiap ruang dan masa, sebagaimana dinyatakan Syekh Husain asy-Syafi’i dalam kitab Risalah fi Itsbat Wujud an-Nabi fi Kulli Makan dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Tanwir al-Halak-nya?.

Sudahkah umat Islam mengenal bahwa aktivitas memuji Rasulullah Saw. dapat menyembuhkan segala penyakit jasmani maupun ruhani, sebagaimana dialami Imam al-Bushiri melalui kitab al-Burdah-nya?.

Sudahkah pula umat Islam mengenal bahwa Rasulullah Saw. merupakan pintu satu-satunya Allah yang bila diabaikan seorang hamba maka ia takkan pernah menjumpai-Nya, sebagaimana dinyatakan Syekh Muhammad al-Bakri dan Ibnul Qayyim dalam kitab Jala’ al-Afham-nya?.

Adakah umat Islam telah mengenal bahwa etika kepada Rasulullah Saw. merupakan kunci utama kejayaan Islam, sebagaimana ditegaskan al-Habib Ali al-Jifri dalam sejumlah fatwanya?. Dan adakah umat Islam telah mengenal bahwasanya mengabaikan etika kepada beliau dapat meruntuhkan segala ibadah yang pernah dilakukan hamba, sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat al-Hujurat ayat kedua?.

Pernahkan umat Islam mengenal bahwa hukum menambah lafaz “Sayyidana” dalam azan dan iqamah (Asyhadu anna Sayyidana Muhammadan Rasulullah) adalah wajib, sebagaimana difatwakan Imam Ahmad al-Ghumari dalam kitab Tasynif al-Adzan-nya?.

Pernahkah pula umat Islam mengenal bahwa nama Muhammad adalah bagian dari nama-nama Allah, bahkan nama teragung (Isim A’zham)-Nya, sebagaimana dinyatakan Syekh Muhammad bin al-Qasim al-Qandusi dalam kitab Syarab Ahl ash-Shafa-nya?. Dan pernahkah umat Islam mengenal bahwa nama Allah boleh disandangkan kepada Rasulullah Saw. sebagaimana difatwakan Syekh Abdul Karim al-Jili dalam kitab al-Kamalat al-Ilahiyyah-nya?.

Sudahkah umat Islam mengenal bahwa berdoa dan memohon langsung kepada Rasulullah Saw. merupakan ibadah yang sangat mulia, sebagaimana difatwakan Syekh Muhammad Ibrahim Muhammad Salim dalam kitab Majum’ah ar-Rudud asy-Syamilah-nya?.

Sejumlah fakta dan tanda tanya di atas layak dijadikan sebagai bahan introspeksi dan kontemplasi setiap hamba untuk mengetahui sejauh mana ia mengenal nabi tercintanya. Dan patut diingatkan kembali bahwa kunci satu-satunya pembuka gerbang kecintaan dan ketaatan sesungguhnya adalah dengan mengenal siapa sebenarnya sang Rasul teragung-Nya.

Buku Di Bawah Lindungan Rasulullah Saw. yang diterbitkan oleh CV Aswaja Pressindo Yogyakarta pada Mei 2015 lalu adalah sebuah karya tajam nan mencerahkan yang layak dikaji serta ditelaah dengan seksama. Sebab, penulisnya cukup berhasil dalam mengumpulkan kalam-kalam para ulama terkemuka nan terpercaya dari berbagai referensi klasik maupun kontemporer yang tentu saja berbasis Ahlussunnah wal Jamaah. Kalam-kalam himpunannya itu cukup mengejutkan tapi menyejukkan, karena mengungkap segudang keagungan Rasul yang tidak banyak diketahui umat Islam di dunia dan di bumi Nusantara pada khususnya. Yang tak kalah menarik, dalam buku dimaksud tertera bahwa Rasulullah Saw. sangat menyayangi umat Islam Indonesia!.

Kiranya Di Bawah Lindungan Rasulullah mampu membuka hati pembaca untuk menyibak tirai keagungan yang sungguh tiada tara, hingga bertambah cinta dan taat sebagaimana pinta-Nya. Terima kasih tak terhingga tulus terucapkan kepada Bapak Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, MA. atas rekomendasi dan kata pengantarnya. “Buku Di Bawah Lindungan Rasulullah akan membuat pembaca semakin kagum dan seakan baru saja mengenal sosok Rasulullah Saw. yang teramat sempurna,” demikian papar Presiden NTB apa adanya.

____________________________

* Dimuat dalam jurnal ilmiah al-Ittisholi terbitan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor edisi Januari-Juni 2015 dan dipresentasikan dalam seminar bedah buku Di Bawah Lindungan Rasulullah Saw. pada tanggal 5 Maret 2016 di Masjid Kampus IAI Hamzanwadi Pancor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*