Delapan Rakaat Atau Dua Puluh Rakaat? *

Mana lebih afdhal? Shalat Tarawih delapan rakaat atau dua puluh rakaat?. Sebagian Sahabat melakukannya dua puluh rakaat, sementara Nabi sendiri melakukannya delapan rakaat. Bukankah mengikuti Nabi lebih utama daripada mengikuti Sahabat?.

Pada dasarnya, kedua jumlah rakaat di atas sama-sama boleh dilakukan. Hanya saja penting diketahui bahwa melakukan apa yang diperintahkan Nabi itu lebih utama daripada melakukan apa yang pernah dilakukan beliau namun tanpa ada perintah untuk melakukannya.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw. melakukan shalat Tarawih sebanyak delapan rakaat. Dalam riwayat lain, beliau melakukannya sebanyak sepuluh rakaat. Dalam riwayat lain lagi, beliau melakukannya sebanyak dua puluh rakaat. Semua riwayat yang berbeda-beda itupun tanpa disertai perintah dari beliau untuk melakukannya dengan jumlah-jumlah tersebut.

Sementara, Rasulullah Saw. dengan tegas memerintahkan umat beliau agar mengikuti para Sahabat dan berpegang teguh kepada sunnah Khulafa’ Rasyidin. Dan semua riwayat yang ada menyebutkan bahwa di zaman para khalifah semenjak Sayidina Umar, Sayidina Utsman, Sayidina Ali dan seterusnya, seluruh umat Islam di bawah pimpinan beliau-beliau melaksanakan shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat. Sehingga, hal itu telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama bahkan jumhur (mayoritas) khulafa’.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwasanya Tarawih sebanyak dua puluh rakaat adalah yang paling afdhal. Pasalnya, Tarawih sebanyak delapan rakaat adalah mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Nabi, sedangkan Tarawih sebanyak dua puluh rakaat adalah mengikuti apa yang pernah dilakukan beliau sekaligus di waktu yang sama melaksanakan apa yang telah diperintahkan beliau, yakni mengikuti sunnah para khalifah serta ijma’ para imam dan ulama.

Begitu pula jumlah dua puluh rakaat tidak dapat dikatakan bid’ah, sebab Nabi pernah melakukannya sebanyak itu dalam sebuah riwayat. Adapun ketika Sayidina Umar berkata: “Ini adalah sebaik-baik bid’ah”, maka sesungguhnya bid’ah yang beliau maksudkan bukanlah jumlah dua puluh rakaatnya, melainkan pelaksanaannya secara berjamaah di masjid-masjid, karena sebelumnya biasa dilakukan sendiri-sendiri dan di rumah-rumah. Wallahu A’lam.

___________________
* Disampaikan di Masjid Besar at-Taqwa Pancor Lombok Timur menjelang Subuh tanggal 12 Mei 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*