Dahsyatnya Tafakkur *

Suatu ketika Sayidina Abu Hurairah berkata kepada Sayidina al-Miqdad bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Bertafakkur satu jam lebih baik daripada ibadah satu tahun.” Kemudian Sayidina Ibnu Abbas juga berkata kepada Sayidina al-Miqdad bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Bertafakkur satu jam lebih baik daripada ibadah tujuh tahun.” Selanjutnya Sayidina Abu Bakar pun berkata kepada Sayidina al-Miqdad bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Bertafakkur satu jam lebih baik daripada ibadah tujuh puluh tahun.”

Maka Sayidina al-Miqdad melaporkan perbedaan tiga sahabat tersebut dalam meriwayatkan hadits mengenai tafakkur. Redaksi manakah yang paling benar?. Rasulullah Saw. pun memanggil tiga sahabat tersebut seraya bertanya kepada Sayidina Abu Hurairah: “Apa yang engkau tafakkurkan wahai Abu Hurairah?” Beliau menjawab: “Aku bertafakkur tentang penciptaan langit dan bumi wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Tafakkurmu wahai Abu Hurairah lebih baik daripada ibadah satu tahun.”

Selanjutnya Rasulullah Saw. bertanya kepada Sayidina Ibnu Abbas: “Apa yang engkau tafakkurkan wahai Ibnu Abbas?” Beliau menjawab: “Aku bertafakkur tentang kematian wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Tafakkurmu wahai Ibnu Abbas lebih baik daripada ibadah tujuh tahun.”

Kemudian Rasulullah Saw. bertanya kepada Sayidina Abu Bakar: “Apa yang engkau tafakkurkan wahai Abu Bakar?” Beliau menjawab: “Aku bertafakkur tentang pedihnya api neraka wahai Rasulullah. Akupun berdoa: Ya Allah selamatkanlah semua umat Nabi-Mu dari siksaan api neraka.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Tafakkurmu wahai Abu Bakar lebih baik daripada ibadah tujuh puluh tahun.” 

Dapat disimpulkan dari kisah inspiratif di atas bahwa semakin berkualitas manfaat tafakkur seseorang maka semakin tinggi nilai ibadahnya di sisi Allah Swt. Sayidina Abu Hurairah bertafakkur tentang penciptaan langit dan bumi sehingga beliau semakin mengagungkan kekuasaan Allah Swt. Sementara, Sayidina Ibnu Abbas bertafakkur tentang kematian yang pasti akan dihadapi dan dijalaninya, sehingga beliau semakin menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Adapun Sayidina Abu Bakar bertafakkur tentang pedihnya api neraka sehingga menyemangati beliau untuk terus-menerus berdakwah membekali diri serta umat sekaligus berdoa siang-malam agar seluruh umat Rasulullah Saw. dijauhkan dari siksaan api neraka. Menutupi dialog berharga tersebut, Rasulullah Saw. menyatakan: “Dari umatku, yang paling penyayang terhadap umatku adalah Abu Bakar.”

__________________
* Disampaikan dalam pengajian Arba’in Nawawiyah di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center Mataram pada tanggal 1 September 2018 dan dalam khutbah Jum’at di Masjid at-Taqwa Pancor Lombok Timur pada tanggal 7 September 2018. Adapun sumber kisah dalam catatan ini dapat ditemukan dalam kitab al-Jawahir al-Lu’lu’iyyah karya Syekh Muhammad Abdullah bin Abdullathif al-Jurdani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*