Ceramah HULTAH NWDI Ke-71 Mesir *

Yang saya hormati presiden PPMI Mesir beserta wakilnya… dan yang saya hormati ketua PwK-NW Mesir…

Sebelumnya saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada panitia HULTAH NWDI yang ke-71 atas kerja kerasnya dan kerja cerdasnya maupun kerja ikhlasnya dalam mensukseskan acara ini. Dan tentunya juga saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tamu-tamu VIP kita… tamu-tamu kehormatan… atas kehadirannya dan atas sambutan-sambutannya yang Alhamdulillah dapat menumbuhkan semangat baru dari kami yang selama ini mungkin belum begitu bangkit, semoga NW kedepan dapat lebih baik dari NW sekarang maupun NW dulu…

Sebetulnya saya merasa tidak pantes memberikan ceramah HULTAH, bukan hanya karena kekurangan-kekurangan yang saya miliki namun juga karena masih banyak yang lebih awla. Akan tetapi .. Sya’allahu an ud’a falabudda an ulabbi… Kalau memang dengan segala kekurangan yang saya miliki ini, ternyata saya masih juga terpanggil maka mau tidak mau saya tetap harus memenuhi panggilan itu…

Mungkin di NW pusat di Lombok, acara HULTAH seperti ini, penceramahnya biasa mendapatkan jatah waktu berjam-jam untuk menceramahi jama’ah NW yang hadir… dan itu wajar saja karena memperhatikan jamaah hadirin yang begitu berwarna-warni, ada yang awam banget, sampai mahasiswa, bahkan jurkam dan calpres-pun hadir… tapi kalau acara HULTAH NW diadakan di Mesir seperti sekarang ini, dan dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa al-Azhar seperti antum-antum, maka saya tidak perlu banyak berbicara…

Saya hanya ingin menghimbau kepada kawan-kawan yang berorganisasikan NW di Mesir ini, agar melalui PwK-NW ini kita jadikan NW itu tidak merangkak lagi, tapi sudah bisa berjalan, kemudian bisa berjalan lebih cepat lagi, dan yang lebih penting dari itu, jalannya itu ke depan, bukan ke belakang…!!

Coba perhatikan nama organisasi ini sendiri… Nahdlatul-Wathan… Kebangkitan Bangsa… tapi bukan PKB ya? saya gak kampanye lho! tapi memang kalau diterjemahkan seperti itu… Kecuali, ada buku amalan dibaca secara rurtin tiap minggu namanya Hizib Nahdlatul-Wathan, nah kalau yang ini salah diterjemahkan: Partai Kebangkitan Bangsa..! tetapi karena buku itu mengandung kumpulan do’a maka kita-pun tetap menyebutnya: Hizib Nahdlatul-Wathan.

Jadi Nahdlatul-Wathan itu artinya kebangkitan bangsa, sedikit tidak, salah satu misi utama pendiri NW mendirikan ORMAS NW ini adalah untuk membangkitkan bangsa… dari segala seginya… Nah bangsa Indonesia ini apa bisa begitu saja dibangkitkan oleh orang-orang seperti kita? tanpa kita bangkitkan diri kita lebih dahulu? iya apa iya? Iza aradta an tushlihal-alam fabda’ binafsik… Jadi harus mulai dari diri sendiri…

NW ini adalah salah satu organisasi kemasyarakatan dari sekian banyak ormas yang berdiri dan berkembang di Indonesia. Dan Alhamdulillah NW ini termasuk, bahkan satu-satunya organisasi masa terbesar di mana? di Lombok..! yaa gak papa lah, kalau ada yang bertanya: kenapa sih NW itu setelah berumur 70-an tahun masih saja bertapa di Lombok? kenapa tidak seperti NU misalnya yang malah sudah menginternasional? padahal namanya saja kan Kebangkitan Bangsa..?! jangankan bangsa Indonesia, Lombok saja masih banyak kekacauan, masih sering terjadi keributan, dan maaf-maaf kejahilan dan anarkisme masih saja merajalela di Lombok…!! Ust. Zainul-Majdi, ketua umum PBNW waktu kesini sempat menginformasikan bahwasanya propinsi NTB adalah provinsi terbelakang di Indonesia..! baik dari segi pendidikan, kesehatan maupun tingkat kehidupannya, propinsi NTB menempati posisi yang ke-33 dari 33 propinsi…!! kenapa? padahal NW ada dan besar di situ ?? Mungkin kalau saya mencoba menjawab tanda tanya seperti itu, saya akan mengatakan: Di samping ekonomi yang kurang mendukung, NW itu juga masih menutup-nutup diri, belum terlalu terbuka, alias masih klasik, belum begitu pandai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang sekarang kita lihat serba modern dan serba plural. Pemikiran semakin beragam dan semakin berkembang terus-menerus, paling tidak kita harus bisa menerima perbedaan supaya tidak pecah… kalaupun pecah dan berkotak-kotak, kita harus bisa bersikap toleran terhadap sesama, agar tidak perang… apalagi kita semua kan satu tujuan… kalau tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman maka NW ini akan mati sendiri oleh seleksi alam… renungkan itu baik-baik… !! Ormas di Indonesia kan seperti itu? kalau tidak menyesuaikan diri dengan zaman yang terus berkembang maka ia akan mati sendiri, fungsinya tidak eksis lagi… Wujuduhu ka’adamih…!

Ingat… Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul-Majid sebagai pendiri NW itu sendiri, salah satu cita-cita beliau adalah sebagaimana dalam do’a beliau: Wansyur liwa’a nahdlatil-wathani fil-alamin.. Beliau sangat mengharapkan agar NW ini bisa meluas ke semua penjuru… tapi ternyata mobil NW ini yang seharusnya sudah keliling dunia berkali-kali, ternyata masih sering mogok juga..!

Oleh karena itu… saya sebagai mantan ketua sekaligus mantan penasehat sangat berharap dan saya yakin ini harapan kita semua agar melalui PwK-NW ini kita mampu membawa NW kepada yang lebih baik sehingga dapat mewujudkan cita-cita umat dimanapun mereka berada… antum-antum sebagai mahasiswa al-Azhar tentunya lebih tau harus bagaimana? terbuka… menerima semua pihak agar kita juga bisa diterima oleh semua pihak… menerima perbedaan… tidak fanatik yang berlebihan… tidak beku… tidak kolot… tidak kaku… dan tidak terlalu klasik sehingga akhirnya NW itu siap dan cocok untuk disebarluaskan karena sudah bisa diterima banyak orang dan sudah siap membangkitkan bukan hanya bangsa saja tapi juga dunia… Tentunya dengan menegakkan ajaran-ajaran islam yang semurni-murninya. Yang mana islam itu selalu menyeru kepada perdamaian, bukan kepada peperangan… menyeru kepada dakwah dengan hikmah dan mau’izah hasanah… bukan dengan bom dan nuklir..! Islam memang menyeru kepada irhab… terorisme… tapi jenis irhab yang bagaimana dulu? Allah swt. berfirman (perhatikan baik-baik redaksi ayatnya) :
وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ومن رباط الخيل ترهبون به عدو الله وعدوكم

“Pesiapkanlah semampunya untuk mereka kekuatan yang kamu miliki, dan siapkan pula Ribathul-khail yang dengannya kalian dapat melemahkan, menakut-nakuti, mengirhab ataupun menteror musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian”. Allah memerintahkan kita untuk melakukan irhab “Turhibuna bihi“, Allah tidak mengatakan “Taqtuluna bihi” kita tidak boleh membunuh mereka kecuali mereka yang lebih dahulu menyerang maka kita-pun harus membela diri, adapun mereka yang datang tour kesini dan tidak bersalah jangan dibunuh, bisa jadi mereka mau masuk islam tapi karena dibunuh duluan mereka gak jadi masuk. Orang-orang kafir yang lain malah jadi takut mengunjungi negara-negara islam. Kucing yang tidak bersalah saja bila disiksa bisa memasukkan kita ke neraka. Anjing yang najis jika dpenuhi hajatnya bisa memasukkan kita ke sorga. Apakah manusia lebih hina dari binatang sehingga bebas dibunuh? bukankah Allah berfirman : “Walaqad karramna bani Adam“? Islam adalah Rahmatan lil-alamin, bukan hanya Rahmatan lil-muslimin saja. Jadi jangan bunuh mereka, cukup mengirhab saja.

Dengan apa kita mengirhab? Kalau kita perhatikan ayat di atas, kita akan temukan sebelum “Turhibuna bihi” ada kata Quwwah dan ada kata Ribathul-khail, jika irhab itu dengan Quwwah maka mestinya “Turhibuna biha“, jika dengan dua-duanya maka mestinya “Turhibuna bihima“, akan tetapi Allah berfirman : “Turhibuna bihi” maka tiada lain dengan Ribathul-khail-lah kita mengirhab, menteror, melemehkan musuh-musuh kita.

Apa itu Ribathul-khail? Kalau diterjemahkan mungkin artinya: Tali ikatan kuda..! tapi apakah Amerika dan Isra’il bisa takut dengan tali kuda? Kata Ribath akan lebih condong dinisbatkan kepada kata Irtibath atau Murabathah sebagaimana dalam ayat :
اصبروا وصابروا ورابطوا

Rabithu” artinya bersatulah..! maka dengan persatuan yang kita miliki maka musuh-musuh kita-pun akan takut dan terlemahkan. Ribath artinya persatuan, Rasulullah saw. pernah bersabda :
إذا فتح الله عليكم بعدي مصر فاتخذوا فيها جندا كثيفا فذلك الجند خير أجناد الأرض
Beliau menyatakan bahwa tentara dan prajurit Mesir adalah sebaik-baik dan sekuat-kuat tentara di atas permukaan bumi ini. Saidina Abu Bakr ra. saat itu terheran-heran dan bertanya pada Rasulullah saw. :

ولم ذلك يا رسول الله ؟

“Kok bisa begitu hai Rasulullah?” tanya Saidina Abu Bakr ra. Beliau lalu menjawab :
لأنهم في رباط إلى يوم القيامة

Karena mereka itu tetap bersatu dan selalu siap siaga melawan musuh sampai kiamat tiba. Jadi Ribath dalam hadits di atas bukan berarti tali namun berarti persatuan dan kesiapan yang matang. Itulah yang dimaksud dengan Ribath.

Lalu bagaimana jika kata Ribath diidlafatkan ke kata Khail yang artinya kuda? Ribathul-khail? apakah maksudnya: bersatu dengan kuda? tentunya musuh-musuh kita lebih tidak takut lagi… Kata Khail tidak selalu berarti kuda, saya lebih condong menisbatkan kata Khail itu kepada kata Khuyala’ yang artinya bangga diri, percaya diri ataupun sombong di hadapan musuh. Suatu ketika seorang sahabat berjalan dengan gaya jalan yang sombong di hadapan para musuh, lalu Rasulullah saw. bersabda ketika melihatnya berjalan seperti itu :
إنها لمشية يبغضها الله إلا في هذا الموطن

Dalam hadits lain :

إن الله يكره هذه المشية إلا في هذا الموطن بل إن التكبر على المتكبر صدقة

“Sesungguhnya Allah swt. sangat membenci cara jalan seperti itu (sombong) kecuali dalam keadaan dan dengan niat seperti ini (melemahkan musuh)”. Jadi irhab dengan Ribathul-khail maksudnya menteror dan melemahkan musuh dengan menampakkan dan menunjukkan kepada mereka kekuatan, kesiagaan dan persatuan yang kita miliki.

Sayangnya yang justru melaksanakan ayat ini bukannya orang islam melainkan mereka yang bukan muslim. Lihat Korea..! persatuan mereka kokoh, ketentaraan mereka sangat kuat dan mereka tunjukkan kepada Amerika dan Isra’il… yang akhirnya mereka terlemahkan oleh Korea yang berhasil mengirhab dengan Ribathul-khail.

Terlalu jauh ya? apa hubungannya dengan HULTAH NW? Ayat di atas dapat dikaitkan dengan organisasi, dengan kesimpulan: Tingkatkan kecerdasan, kokohkan persatuan, selalu siap menhadapi problema umat dan kita tampakkan diri kita… maka musuh-musuh kita akan takut, musuh-musuh NW akan terlemahkan, kemanapun orang NW lewat semua yang ada di sekitar jadi takut karena orang-orang NW sangat dikenal persatuannya yang kokoh dan kecerdasannya yang tinggi.

Kembali saya menghimbau kepada warga NW yang ada di Mesir ini untuk bersama-sama membangkitkan diri kita lebih dahulu sebelum yang lain… dan saya harap PwK-NW Mesir kedepan bisa lebih maju… lebih terbuka… dan bisa bekerja sama dengan organisai-organisasi masisir yang lain demi meningkatnya sumber daya yang kita miliki, baik dari segi intlektualnya, dari segi emosionalnya yang sehat tentunya, maupun dari segi spiritualnya.

Lebih-lebih pendiri NW adalah sosok tokoh yang bukan hanya alim namun juga beliau adalah tokoh yang sufi, beliau selalu menggunakan metode tasawuf dalam berdakwah, yang mana tasawuf itu tidak pernah mengajak kepada individulisme, kemiskinan, kelaparan ataupun keterbelakangan namun tasawuf justru mengajak kepada kesuksesan dalam segala bidang dunia maupun agama. Jangan salah memahami tasawuf itu. Contohnya Syekh Abul-Hasan Asysyazuli ra. sebagai pendiri Tarekat Syazuliah yang tarekatnya berkembang di Mesir selalu mengenakan pakaian yang mewah, mahal, bersih dan rapi, sampai-sampai ada yang bertanya : Engkau ini bukan sufi, buktinya pakaianmu pakaian konglomerat… beliau menjawab : Saya adalah hamba kepada Tuhan yang kaya, bukan hamba kepada tuhan yang miskin… penampilan saya seperti ini menunjukkan bahwa Tuhan saya itu kaya, sementara pakaian anda itu menandakan tuhan itu miskin, apa ada yang mau masuk islam kalau seperti ini? Orang takut miskin kok ente malah takut kaya?

Syekh Ibrahim Addusuqi ra. sebagai pendiri Tarekat Dusuqiyah yang pengikutnya terbanyak di Mesir dan di luarnya, dan sebagai wali kutub keempat setelah Syekh Ahmad Arrifa’i, Syekh Abdul-Qadir al-Jailani dan Syekh Ahmad al-Badawi radliallahu anhum ajma’in, banyak berkaraya dan menulis tentang pelbagai ilmu pengetahuan seperti kimia, kedokteran, fisika dan lain sebagainya sampai-sampai banyak dicuri oleh orang-orang barat. Beliau juga berperan sangat penting dalam mengumpulkan pasukan-pasukan untuk melawan musuh-musuh ketika perang Mesir vs Isra’il dulu. Jadi orang sufi itu harus perduli dengan umat, bukan sekedar berkhalwat.

Nah, Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul-Majid sebagai pendiri Tarekat Hizib Nahdlatul-Wathan, dulu beliau merupakan orang terkaya di Lombok, baik kaya harta maupun kaya jiwa…

Karena tadi saya sudah berjanji tidak akan berbicara banyak, maka… semoga ada manfaatnya… yang benar maupun yang salah dari saya harap dimaafkan…
وما أصابك من حسنة فمن الله وما أصابك من سيئة فمن نفسك

Semoga setelah kita pulang nanti dapat memperjuangkan NW dengan sebaik-baiknya sesuai yang kita harapkan bersama di bawah naungan satu PB. Untuk dimaklumi di Lombok itu sekarang PBNW ada dua, tapi mudah-mudahan cepat atau lambat disatukan oleh Allah swt. menjadi satu PB yang dipimpin oleh satu pemimpin, yang mana pemimpin ini merupakan pilihan warga NW secara keseluruhan, dan yang lebih kita harapkan lagi semoga pemimpin NW besok bukan hanya pilihan umat tapi juga merupakan pilihan Allah swt. karena yang membuat NW dulu lebih baik dari NW sekarang hanyalah pemimpin. Semoga pemimpin kita besok dapat membawa kita kepada yang lebih baik.

_______________________________

* Acara diadakan oleh PwK-NW Mesir dan berlangsung di sekretariat KM-NTB Mesir .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*