About The Wahid Institute & LibForAll Foundation
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.
Banyak di anatara umat Islam di Tanah Air lekas terpukau ketika mendengar sebuah nama organisasi semisal "Majelis Mujahidin Indonesia" atau "Front Pembela Islam" atau "Laskar Jihad" atau yang senada. Secara otomatis seorang muslim dan muslimah yang barangkali husnuzzonnya terlampau tinggi akan segera beriman bahwa organisasi-organisasi itu pasti menyelamatkannya di dunia dan di akhirat. Jauh berbeda ketika mendengar nama "Jaringan Islam Liberal" misalnya, atau "The Wahid Institute" atau "LibForAll Foundation", yang selalunya terlintas di benak saat itu adalah bayangan-bayangan nyleneh berupa penyesatan, Baratisasi, dan pencemaran akidah kaum muslimin. Tapi di sini mari kita coba nilai kembali secara lebih realistis walau hanya sejenak, agar kita tidak terbiasa dipermainkan oleh ke-keren-an sebuah nama, atau merk yang mengkilat dan mempesona.
Catatan ini lahir seusai penulis menerima sebuah email yang mengandung pertanyaan tentang persepsi global penulis seputar The Wahid Institute dan LibForAll Foundation. Memang kurang begitu dikenal khalayak publik se-Tanah air, namun berlandaskan fakta dan informasi akurat dari situs resmi masing-masing, maka keduanya dapat diakui sebagai dua lembaga atau organisasi yang jauh lebih Islami daripada gerakan-gerakan teroris yang hanya suka memakai kaos dan topi Islam.
Walhasil, The Wahid Institute didirikan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) demi mewujudkan prinsip-prinsip dan cita-cita intelektual beliau untuk membangun pemikiran Islam moderat yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme, dan toleransi di kalangan umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia. Visi ini sangat tidak berseberangan dengan nilai-nilai syariat Islam yang selalu disalahmengerti orang-orang, sebab "la ikraha fiddin" dan Islam adalah "rahmatan lil alamin".
Misi The Wahid Institute adalah mengemban komitmen menyebarkan gagasan muslim progresif yang mengedepankan toleransi dan saling pengertian di masyarakat dunia Islam dan Barat. The Wahid Institute juga membangun dialog di antara pemimpin agama-agama dan tokoh-tokoh politik di dunia Islam dan Barat. Misi ini sangat mulia karena lebih jauh dari bau-bau anarkisme yang hanya mengedepankan adu otot, main pedang, atau aksi ledak-ledakan. Melalui misi ini, universalisme kesejahteraan Islam yang meliputi jagat raya ini akan semakin nampak dihadapan orang-orang luar Islam, karena Islam benar-benar menyadari keniscayaan sebuah perbedaan, maka Islam sangat toleran dan tidak memaksakan semua orang tunduk di bawah bendera syariat Islam yang penerapannya sampai detik ini masih kontroversial di sisi para pejuangnya sendiri.
The Wahid Institute jangan hanya ditatap dari sisi Baratisasi pemikirannya saja. Pandanglah The Wahid Institute sebagai organisasi yang setia berupaya mewangikan kharisma Islam di mata Barat dan dunia dengan toleransinya yang tinggi, tanpa mendukung sedikitpun kebejatan moral dan maraknya ketidakadilan, lebih-lebih anarkisme dan pemerkosaan HAM.
Sedangkan LibForAll Foundation merupakan sebuah institusi yang didirikan oleh C. Holland Taylor untuk mewujudkan dunia yang damai berdasarkan nilai-nilai luhur agama di bawah bimbingan Gus Dur, Gus Mus, dan tokoh-tokoh Islam terpercaya lainnya. Meski Gus Dur merupakan sosok yang sangat kontroversial di mata umat, namun tidak boleh dipungkiri bahwa beliau adalah presiden pertama Indonesia yang terpilih secara demokratis dan lama menjadi Ketua Umum PBNU, organisasi Islam terbesar di dunia dengan anggota hampir 40 juta orang. Beliau juga penerima The 2003 Friends Of The United Nations Global Tolerance Award. Selama lebih dari tiga puluh tahun Gus Dur telah menggunakan posisinya untuk memperjuangkan toleransi, pluralisme religius dan demokrasi. Dalam banyak kesempatan, beliau telah mengirimkan warga NU untuk membela gereja-gereja dan jamaah Kristen -bila perlu dengan mempertaruhkan jiwa- dari serangan kaum radikal, sebab Gus Dur selalu mengingatkan kita atas kewajiban suci untuk menghormati keyakinan orang lain dan menghindari bentuk diskriminasi atau intoleransi apapun terhadap mereka yang beribadah secara berbeda dari diri kita.
Sungguh menakjubkan ketika lebih dari 10 ribu umat Kristen Indonesia berdoa untuk sang guru bangsa -Gus Dur- yang telah mengabdikan hidup beliau membela hak setiap orang untuk menyembah Tuhan sesuai dengan caranya masing-masing. Dan seusai wafat, kita saksikan sendiri betapa dunia meneteskan air mata. Tidak hanya jutaan umat Islam saja yang berdesak-desakan mengunjungi makam beliau, akan tetapi seluruh agama pun turut berduka cita, berikut mengakui kepahlawanan beliau dengan penuh rasa kagum dan bangga.
The Wahid Institute dan LibForAll Foundation sama sekali tidak anti syariat Islam, justru -hemat penulis- sangat mendukung bahkan telah sukses menerapkannya dengan baik dan benar tanpa harus menggembor-gemborkannya dihadapan publik. Sebab, tegaknya syariat Islam secara esensial ialah apabila berjalan dengan penuh toleransi dan kedamaian. Dakwah, amr makruf, dan nahi munkar pun dilaksanakan dengan hikmah dan mau'izah hasanah, bukan dengan anarkisme dan eksploitasi yang hanya merupakan akibat dari penafsiran salah kaprah terhadap hadits "Man ra'a minkum munkaran falyughayyirhu biyadih". Wallahu a'lam.