Problematika Virginitas
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.
Kali ini penulis belajar menjadi seorang seksolog yang pas-pasan tapi realistis. Sebabnya adalah seks merupakan kebutuhan pokok semua makhluk hidup di dunia, itu tidak dapat dipungkiri lagi. Akan tetapi ketika urusan seksologi dihubungkan dengan norma atau dogma agama, maka kita akan temukan bahwa agama banyak memberi solusi dan pelajaran tentang seks yang halal dan sehat. Penulis sendiri banyak menemukan skrip-skrip klaisk karya para ulama' terdahulu tentang seksologi dan asmaragama menurut tuntunan Islam. Oleh karena itu, karena seks berkaitan erat dengan keharmonisan rumah tangga, karena seks adalah upaya menciptakan keturunan, dan karana seks membuat fisik lebih sehat serta mental dan spiritualitas lebih kuat, maka perlu juga belajar banyak tentang seks yang sehat!
Awalnya, penulis meyakini bahwa ilmu seksologi dan asmaragama dapat diperoleh melalui naluri manusia secara alami tanpa harus mendalami teori-teorinya dari buku-buku, majalah-majalah maupun video-video. Akan tetapi, setelah melihat banyaknya keluhan-keluhan rumah tangga akibat seks, maka mempelajari seks secara lebih konsen untuk mencegah keluhan-keluhan tersebut sekaligus untuk memberi solusi kepada yang memerlukan, tentu mengandung nilai ibadah yang cukup signifikan di sisi Tuhan.
Dr. Boyke Dian Nugraha, seorang spesialis seks yang sudah tidak asing lagi ini banyak memberi jawaban-jawaban bijak atas keluhan-keluhan seksual yang sudah marak di mana-mana. Penulis -seperti yang lain- banyak belajar dari Dr. Boyke soal seksologi. Di antara terma atau problema seks yang masih diperdebatkan adalah mengenai virginitas.
Masalah virginitas hanyalah masalah sepele yang kemudian menjadi mitos mendarah daging dalam pandangan masyarakat. Di Mesir misalnya, keperawanan adalah benar-benar dijadikan sebagai lambang kesucian dari seorang wanita, tidak heran jika banyak wanita di Mesir yang diceraikan pada malam pertama. Biasanya dan sudah menjadi tradisi orang-orang Mesir, setelah melangsungkan aqad dan resepsi perkawinan, sebelum memasuki kamar, kedua mempelai ditemani oleh dua orang saksi yang setia menunggu di depan pintu, bilamana sang pria tiba-tiba keluar dan melaporkan ketidakperawanan sang isteri, hal itu kemudian diperiksa oleh saksi, dan jika hal itu benar, maka si wanita dicerai pada saat itu juga dan lebih menyedihkan lagi, sang wanita harus mengembalikan semua mahar. Hal ini jelas sangat merugikan kaum wanita. Namun dengan kemajuan zaman, tradisi tersebut sedikit demi sedikit mulai terkikis nilai-nilainya dalam masyarakat perkotaan.
Sangat menarik ketika seorang pasien bertanya kepada dokternya "Dok, mengapa di malam pertama isteri saya tidak mengeluarkan darah ya? Apakah isteri saya sudah tidak perawan?". Jawaban sang dokter ternyata "Berapa liter darahkah yang anda butuhkan untuk meyakinkan diri bahwa isteri anda masih perawan?". Robeknya selaput dara tidak harus ditandai dengan perdarahan. Selaput dara atau dalam bahasa medisnya dikenal sebagai hymen, adalah membran tipis yang sebenarnya secara biologis tidak berfungsi namun mempunyai beban kultural dan psikologis yang sangat berat bagi wanita. Utuh tidaknya selaput ini akan menentukan langgeng tidaknya ikatan perkawinan bagi sebagian orang. Ditambah lagi pemahaman banyak orang mengenai selaput dara yang cenderung berbau mitos ketimbang faktanya.
Umumnya setiap pria mengidamkan calon isteri yang perawan, akan tetapi Dr. Boyke pernah mengritik "Pria Indonesia cenderung munafik, mereka menginginkan calon isterinya masih perawan, padahal mereka pula yang merusak keperawanan wanita". Benar tidaknya kritikan itu, penulis hanya ingin mengutip bahwa Islam memang menganjurkan seorang muslim agar memprioritaskan yang masih virgin sebagai calon isterinya demi memperoleh kepuasan ganda dalam berhubungan seks. Namun, tidak berarti virginitas selalu menjamin kebahagiaan rumah tangga. Banyak kasus membuktikan bahwa wanita janda lebih mampu menciptakan keharmonisan dan kenikmatan bagi kaum pria.
Sesuatu yang paling ditakuti wanita yang belum menikah adalah ketika darah perawannya tidak keluar pada malam pertama nanti bersama suaminya! Biasanya, si suami serta merta menuduh janda atau telah melakukan zina. Padahal, kesucian dan keperawanan wanita tidak selalu diukur hanya melalui tetesan darah. Hilangnya keperawanan juga tidak hanya disebabkan persetubuhan atau zina, keperawanan bisa saja hilang akibat kecelakaan, olahraga berat, trauma, kerja keras, ataupun diperkosa. Wanita yang tidak perawan lagi akibat pemerkosaan masih diakui suci dimata Islam. Oleh karena itu, kaum adam tidak boleh egois atau terlalu meributkan soal keperawanan. Virginitas bukanlah patokan pembinaan keluarga bahagia. Tidak ada yang dapat dibanggakan jika gadis perawan dijadikan modal pengangkatan harga diri pria. Cinta dan kesetiaan seorang wanita sama sekali tidak dapat ditentukan oleh keperawanannya.
Zaman sekarang kaum pria bertambah egois, sebab kaum hawa tidak pernah ngotot suaminya harus perjaka. Harus adil donk! Meributkan masalah keperawanan yang merupakan rahasia pribadi seorang wanita ini sangatlah riskan, dapat menjadikan fitnah yang sangat-sangat merugikan. Bahkan ada yang berusaha atau berencana untuk memeriksa keperawanan begitu banyak perempuan, dengan resiko yang entah sudah dipikirkan atau tidak. Mungkin ada baiknya jika kita lebih bijaksana menangani masalah seperti ini, seperti dirahasiakannya aib dalam dongeng lutung kasarung versi kabayan.
Mitos-mitos berlebihan mengenai virginitas mengakibatkan kaum wanita ketakutan, khususnya meraka yang terlanjur khilaf sebelum menikah, atau mereka yang diperkosa oleh para bajingan tak bermoral, atau mereka yang pernah ditimpa kecelakaan, atau mereka yang kehilangan virginitas akibat sebab-sebab lain yang beraneka ragam. Apakah mereka harus menjalankan himenoplasti demi kepuasan birahi pria dan hanya untuk mempertahankan kehormatan serta harga diri yang disalahmengerti?! Meski mereka dianggap tidak perawan, mereka masih belum kehilangan kesucian, sebab esensi kesucian hanya ada di tangan Tuhan.
Akhir kata, keperawanan dan kepuasan seks memanglah urgen, tapi tak sejauh yang biasa dikira. Saling menerima dan memahami jauh lebih membahagiakan dari sekedar keperawanan.