Ulama dan Tipikal Yang Berlebihan
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.
Ulama adalah pewaris para nabi. Yang penulis fahami dari kenyataan itu bahwasanya orang-orang yang benar-benar telah mewarisi ilmu-ilmu para nabi, merekalah yang pantas disebut ulama. Bukan sebaliknya, bahwa setiap orang yang merasa dirinya berilmu pantas dikatakan pewaris para nabi. Itu nomor satu.
Nomor dua, Islam tidak pernah membuat kostum khusus buat para ulama. Karena pakaian para nabi semata-mata mengikut adat setempat, dan sepenuhnya tidak diatur oleh Tuhan (selagi tutup aurat). Itu nomor dua.
Nomor tiga, Jika telah menjadi fenomenal, bahwa seseorang apabila telah menamatkan pelajaran agamanya di tanah Arab dan telah melakukan ibadah haji, maka ia resmi menjadi ulama dan harus memakai jubah, sorban, tongkat, minyak wangi, dll., maka sadarlah kita mengapa di akhir zaman ini semakin banyak muslim yang tersesatkan. Itu nomor tiga.
Nomor empat, menirukan zahir Rasulullah Saw. seperti memanjangkan jenggot, memakai celak, membawa tongkat, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, menyikat gigi dengan siwak, dll. hanyalah sunnah dan sama sekali tidak wajib. Justru kewajiban kita adalah, selalu ingat kepada peringatan Rasulullah Saw. yang menyatakan: "Allah tidak perduli dengan penampilan fisikmu, akan tetapi Allah memperhatikan hati dan amalmu". Itu nomor empat.
Nomor lima, jika kostum jubah-sorban dan kefasihan berbahasa Arab serta gaya hidup ngarab menjadi tolak ukur seorang ulama kharismatik, maka selain ia terlampau sibuk menjaga image orang-orang sekitar, ia juga turut mempertahankan kebekuan berpikir dalam kehidupan bermasyarakat.
Hemat penulis, Arabisasi berlebihan itu perlu dimusnahkan secara sistematis dan step by step, dan itu justru demi kejayaan Islam dan keselamatan umat, baik di Indonesia, di Arab, maupun di dunia. Agar tidak terjadi pembodohan di tengah-tengah masyarakat awam, kita harus merubah tolak ukur dan tipikal seorang ulama yang selama ini diterapkan di banyak sudut Tanah Air. Tipikal dan kriteria ulama yang mungkin berlaku selama ini adalah: berjubah putih, bersorban tebal, fasih berbahasa Arab, berjenggot panjang, sudah melakukan ibadah haji, pernah nyantri di salah satu negara Arab, selalu menangis ketika berdo'a atau shalat, pandai beretorika sehingga membuat jamaah menganga, punya koleksi kitab kuning yang lumayan, hafal Qur'an 30 juz, hafal banyak matan, pernah menerima ijazah sanad sejumlah kitab, berketurunan kyai, tuan guru, buya, teungku, ajengan, tofanrita, nun, bendara, ki ageng, ki gede, sunan, dan seterusnya. Bila diperhatikan, semua tipikal tersebut -meskipun banyak- mudah saja dimiliki oleh seseorang yang beragama Yahudi sekalipun. Lantas apakah tipikal yang seharusnya dimiliki seorang pewaris nabi?. Tidak banyak sebetulnya, namun sukar ditemukan, dan itulah PR pembaca.
Catatan pendek ini sekedar menghimbau, untuk mari kita selamatkan diri, keluarga, dan masyarakat kita dari ulah ulama yang bukan ulama, karena merekalah kunci utama gerbang kejahilan, kesesatan, dan nestapa.
Dan bagi mereka yang benar-benar ulama, janganlah dipaksa berjubah dan bersorban seperti Abu Jahal. Janganlah dikekang jauh dari kreatifitas dan entertainment. Biarkan mereka menuntun dengan bebas, agar kitapun dapat bernafas. (...bersambung...)