Refleksi Agama Anti Romantisme
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.

Mengapa dogma itu selalu tak bersahabat? Mengapa Islam, agama Tuhan terbesar itu, menjadi agama yang horor? Mengapa Tuhan seakan ingin menghabisi semua "ciptaan"-Nya? Sejak kapan Tuhan dipengaruhi brutalnya Adolf Hitler? Semboyan rahmatan lil-alamin tak lagi dijujurkan. Visi shalih likulli zaman wa makan tak lagi faktual. Ada apa dengan Islam?

Islam dulu sudah dikenal sebagai agama yang universal, tak kenal suku maupun negara, bahkan ruang dan waktu pun tak dikenalnya, siapapun dia, apapun cita-citanya, ia tetap cocok untuk diislamkan. Islam dulu sudah dikenal sebagai agama yang kompromis dan anti ekstrimisme, siapapun memasukinya, ia mendapat garansi seumur hidup untuk bahagia, dan selepas ia mati, surgalah ruang kediamannya. Islam dulu sudah dikenal sebagai agama yang penuh kemudahan dan kedamaian, tak ada kata sulit dan tak ada kata permusuhan. Sayang seribu sayang, "kini" pengenalan itu hanyalah keliru dan tak dapat dibuktikan.

David dan Maria adalah sepasang suami isteri yang tak beragama Islam, mereka berdua hanyut dalam permainan dunia. David seorang pengusaha sukses di sebuah bank terbesar di negaranya. Sepulang kerjanya, ia aktif berkumpul bersama rekan-rekannya di sebuah bar yang cukup menyejukkan suasana hati mereka. Maria adalah wanita karir yang sungguh jelita, rambutnya panjang, pakaiannya terbuka se-terbuka pikirannya, namun perilakunya penuh santun dan senyumannya menarik penghormatan setiap pemandangnya.

Di suatu hari, karena David dan Maria belum dikaruniai keturunan, mereka hendak mencari solusi untuk menghilangkan kejenuhan yang mereka rasa. Sebenarnya mereka ikhlas dan ridho, walau tak punya anak, namun kesabaran dan kesetiaan masih terpatri dalam lubuk hati mereka. Keharmonisan rumah tangga tak kunjung sirna walau apapun melanda. Solusi yang mereka cari itu berupa suasana baru yang dapat menyegarkan kembali senyum mereka. Dengan kepala sejuk mereka sepakat untuk mencoba mendekati Tuhan melalui sebuah "agama".

Sekiranya harapan mereka dapat merasakan nuansa spiritual yang mampu menyejukkan. Selama ini mereka sadar bahwa apapun bentuk kesuksesan yang diraih, dan apapun kecerdasan yang dikembangkan, mereka masih memerlukan kekuatan lain yang mampu diandalkan.

Akhirnya, mereka dipertemukan dengan seorang syekh berjenggot tebal dan panjang, berkulit putih namun berjidat hitam, di tangannya selalu ada kayu kecil yang dipakai menyikat giginya siang dan malam. Pakaiannya selalu putih panjang (alias jubah) namun tak menyentuh mata kakinya. Sepertiga betisnya nampak jelas beserta bulu-bulunya. Konon, walau syekh ini tidak pernah senyum, namun ia dikenal di kota itu sebagai agamawan yang amat taat pada Tuhan. David yang rendah hati itu mencoba menelusuri, sekiranya inspirasi baru datang membuka cakrawala hati menempuh kehidupan.

Tak disangka-sangka, syekh yang ke masjid lima kali sehari itu berhasil menembus hati David dan isterinya. Dengan kasar ia menakut-nakuti mereka, seakan ia pasti masuk surga, sementara David dan Maria pasti disiksa mati-matian dengan lahar api neraka. David yang rendah hati itu semakin merasa jauh dari Tuhannya akibat retorika syekh berjidat hitam itu. Iapun memohon solusi dengan bahasa yang lembut. Sayang, agama Islam solusi satu-satunya !!

Pendek cerita, David dan Maria dipaksa mengucap dua kalimat syahadat dengan fashih sefashih orang Saudi tulen mengucapkannya. Selepas itu David dipaksa memotong bagian terkecil dari penisnya. Sungguh malang nasib David. Kemudian nama David dianggap tidak Islami dan harus diganti dengan Abdullah Daud. Maria pun diubah menjadi Maryam. Tak lama kemudian, Daud diminta menghentikan diri dari profesinya sebagai pegawai bank, konon sebab bunga bank memasukkannya ke neraka. Daud akhirnya jatuh miskin dan semua teman-temannya menjauh dan seolah tak lagi mengenalnya.

Maryam yang tak kalah sabarnya itu, ternyata memperoleh tuntutan yang lebih berat. Ia dipaksa menutup semua tubuh seksinya itu dengan kain hitam yang cukup menyeramkan. Wajah cantiknya pun harus ditutupi sebuah cadar yang sungguh menakutkan. Kata orang-orang di sekitar: Maria sejak kapan masuk perguruan ninja? Namun kata syekh itu: Jangan hiraukan perkataan para penghuni neraka !!

Daud dan Maryam dipaksa menjauhi teman-teman dekatnya. Daud tak lagi masuk bar dan minum bir, kini setiap hari ia masuk masjid dan minum air kencing unta !! Maryam yang sudah terbelenggu oleh jilbab dan cadarnya, kini terbelenggu lagi oleh kamar sunyinya, ia tak boleh keluar kemana-mana kecuali dalam keadaan darurat dan dengan tujuan yang bermanfaat bagi "agama" !!

Daud dan Maryam mengadu pasal keturunan, sayang, syekh itu menganjurkan Daud untuk berpoligami karena kitab "suci" telah menghalalkannya. Maryam semkain menderita. Syekh itu mempersembahkan bagi Daud seorang isteri muslimah yang subur, Daud dengan berat hati menerima demi sebuah keturunan dan demi taat pada agama !!

Benarkah Islam agama paling benar? tanya Daud dan Maryam dalam hati. Mereka ingin menelusuri lebih jauh lagi, akhirnya mereka tertarik mendalami dunia sufi yang katanya penuh toleransi itu, namun sekali lagi syekh itulah penghalang mereka, ia mulai menjelaskan mereka tentang fenomena syirik, kufur, bid'ah dan zandaqah dalam komunitas sufi. Daud semakin heran dengan semuanya, seolah Islam tak mengenal kecuali kata "haram", "syirik", "kufur" dan "bid'ah" saja. Maryam pun lebih tersiksa, karena ia harus membakar piano peninggalan ibunya sebab musik dianggap haram. Daud pun membakar jas-jasnya karena pakaian itu dianggap pakaian orang-orang kafir. Daud hanya boleh berpakaian "Islami". Daud dan Maria tidak lagi makan daging dengan sendok dan garpu, kini mereka makan kurma dengan tiga jari saja !! Satu bulan berikutnya, Daud sudah berjenggot panjang dan tebal, entah menirukan Rasul atau sekedar memiripkan diri dengan syekhnya. Ia sendiri tak tahu !!

Beberapa tahun kemudian, Daud resmi menjadi seorang "teroris". Ia dipengaruhi rayuan-rayuan dan cerita-cerita syekhnya tentang Palestina dan Bosnia. Daud kini telah membunuh banyak jiwa dengan "terpaksa". Kesabaran Maryam akhirnya menjumpai perbatasannya. Hati Maryam sudah tak kebal lagi, ia berteriak: "Tuhan, Engkau kejam !! Mengapa hamba-hamba-Mu yang meyakini kasih sayang-Mu, Kau siksa sesuka agama-Mu ?!? Sungguh, hamba ikhlas bercinta dengan-Mu, namun ternyata Kau tak seromantis suamiku !!".

Itulah kisah David dan Maria setelah ia memeluk Islam sebagai agama. Penulis yakin bahwa Islam sesungguhnya tidak seperti itu, walau faktanya ia nampak persis seperti itu. Karena realitanya, mayoritas umat masih bersikeras dan bertahan membela dan membenarkan Islam. Mereka masih yakin bahwa Islam tidak se-begok itu. Bila kita pun mencoba memihak pada mereka, lalu pudarnya kharisma Islam yang nampak jelas belakangan ini, oleh tangan siapa? dan tanggung jawab siapa? Dan kini, dimanakah Islam itu menyemayamkan dirinya ?!?

Kembali