Renungan Sesaat
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.
Dalam keadaan darurat, pisau dapur dapat difungsikan sebagai penoreh kulit saat pembedahan... akan tetapi pisau dapur tersebut tidak boleh berubah nama menjadi penoreh kulit.
Demikian pula, gigi dapat difungsikan sebagai pembuka botol pepsi... namun gigi takkan pernah dinamakan pembuka botol.
Jikalau bis umum senantiasa penuh dengan penumpang, apakah kepenuhan itu dijadikan sebagai ciri utama bis umum..?? sehingga ketika melihat bis yang kosong, tidak dinamakan bis..??
Inilah yang terjadi sesungguhnya dalam dunia penafsiran kitab suci... Ketika kita membaca ayat "Wahai Nafsu Muthma'innah" kita menafsirkannya dengan: Wahai hamba yang telah meninggal dunia !!!
Ketika kita membaca ayat "Semua yang ada di atasnya adalah tiada" kita menafsirkannya dengan: Semua yang ada di permukaan bumi akan mati !!!
Ketika kita membaca ayat "Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kecuali lima puluh tahun" kita menafsirkan bahwasanya umur Nabi Nuh As. di dunia hanya 950 tahun !!!
Ketika kita menafsirkan surat al-Alaq, kita simpulkan bahwasanya Nabi Muhammad Saw. tidak memiliki keahlian sedikipun dalam hal membaca dan menulis !!!
Ketika kita membaca ayat "Dan Kami tuliskan apa yang telah mereka ajukan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan" kita tafsirkan bekas-bekas itu dengan buku-buka para pendahulu kita !!! seakan-akan mayoritas pendahulu kita adalah ma'shum, dan semakin kuning sebuah buku itu maka semakin kita nilai benar dan kuat !!!
Kita sering membenahi, memelihara, mengelola dan menambah atau merubah fungsi bahkan memperbaiki kekayaan nenek moyang yang telah diwariskan kepada kita demi sebuah misi yang baik di masa mendatang agar dapat dinikmati manfaatnya oleh keturunan selanjutnya, mengapa hal itu tidak kita lakukan terhadap buku-buku dan pemikiran-pemikiran para pendahulu itu..??
Kebekuan, kekolotan, kesempitan akal dan hati serta kejumudan yang berlebihan, merupakan sebuah keterbelakangan yang memprihatinkan... keterbelakangan ini akhirnya menjurus kepada sebuah terorisme... akibatnya lenyaplah manusia dan sumber dayanya, bahkan segala yang hidup menjadi mati tak berguna. Keanehan telah menjadi biasa sementara yang biasa menjadi aneh dan amat sulit diterima.
Masa demi masa kebodohan kita semakin meningkat, dan keinginan kepada sebuah kebenaran telah sirna !!! Akankah sebuah kesalahan itu menjadi benar hanya disebabkan oleh pembenaran sejumlah para pendahulu..?? Sebuah tanda tanya yang senantiasa merenung dan bertapa, yang sebetulnya ia hanya mengharap sedikit kesadaran akal dan jiwa.
Memanglah sang Nabi pernah bersabda: "Sesungguhnya ulama' umatku tidak akan pernah menyepakati hal yang bathil", sabda ini digunakan orang sebagai penguat ijma' ulama' dalam syari'at Islam... Ijma' ulama' memang patut dijadikan argumen yang penguat, namun pertanyaan yang jarang terucap: Siapakah ulama' itu sendiri? yang boleh diterima ijma'nya?
"Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang lebih mengetahui" demikianlah firman sang maha mengetahui itu !!! lalu jurus apa lagi yang akan kita mainkan saat mengomentari firman-Nya yang satu ini..??
"Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat ini tiap-tiap seratus tahun seorang yang akan memperbaharui untuk umat hal-hal yang berkaitan dengan agama mereka" sebuah sabda tegas yang tentunya mengundang tanda tanya berikutnya, yang mungkin saja belum terjawab sampai detik ini juga !!!
Rektor sekaligus guru besar institut al-Futuh al-Falaki di Libanon, Ustaz Abdul-Fattah al-Sayyid al-Thukhi menyatakan dalam bukunya al-Wilayah al-Ilahiah: "Janganlah sekali-kali kamu beranggapan bahwasanya para ulama' dan auliya' telah pergi dan tiada lagi yang melebihi mereka atau minimal sama seperti mereka pada masa ini... Pada hakekatnya masa keulama'an dan kewalian belum berakhir sampai Imam al-Mahdi tiba dan kiamat menimpa, bahkan bisa saja Allah memberikan kepada ulama' akhir zaman apa yang tidak Ia berikan kepada ulama' terdahulu, karena Ia telah memberikan Nabi terakhir apa yang tidak diberikan-Nya kepada para Nabi sebelum beliau" !!!
Apapun lantunan fakta, sebetulnya ia telah nyata, "Segala jenis puji kembali kepada Allah namun kebanyakan dari mereka tidak mengetahui" demikian pernyataan-Nya. "Sedikit saja dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur" pernyataan-Nya pula. Yang berjaya hanyalah kaum minoritas !! mengapa? dan kaum yang mana..?? Akankah mayoritas kaum muslimin dalam kesesatan..?? dan siapa pulakah mereka yang sesat itu..?? "Dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu hai Muhammad tak akan menemukan seorang wali mursyid baginya" jawab-Nya.
Salah seorang ulama' al-Azhar dan wali mursyid asal Alexandria Mesir, Syekh Ahmad bin Atha'illah al-Sakandari Ra. sempat berkata dalam buku populernya al-Hikam sebelum menghembuskan nafas terakhirnya tahun 1309 M.: "Kebenaran tidaklah tersembunyi darimu, akan tetapi sesungguhnya kaulah yang menyembunyikan dirimu dari kebenaran itu" seolah takut kepada yang benar !!! takut kepada keselamatan !!!
Artikel penuh keabstrakan ini hanya mencoba mengantar pembaca kepada sebuah renungan yang tidaklah panjang... semoga saja kita mau menerima kebenaran... yang telah lama menghadap dengan uluran tangan.