Menginstal Ulang Program al-Azhar
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.
Al-Azhar sebagai universitas terunggul sedunia, belakangan ini sedang mengalami kemandegan kinerja akibat virus-virus fundamentalisme yang secara liar menaburkan diri di dalamnya. Tepatnya pasca revolusi Mesir 25 Januari 2011, virus-virus tersebut semakin merajalela serta tidak takut mencemoohkan tokoh-tokoh al-Azhar dan mencemarkan nama baiknya. Syaikh Ahmad at-Thayyib (Guru Besar al-Azhar) dan Syaikh Ali Jum'ah (Mufti Mesir) sebagai nomor satu dan nomor dua di al-Azhar bahkan menjadi sasaran paling utama. Apakah latar belakang politik yang memfasilitasi bencana tersebut, karena mereka divonis sebagai ulama rezim Mubarak? Ataukah semata-mata alergi dengan moderatisme Islam yang selama ini dijunjung tinggi oleh al-Azhar?.
Sebetulnya, kemandegan tersebut telah dialami al-Azhar sejak bertahun-tahun lalu. Tidak hanya pada fisik dan teknis administrasi, tapi juga pada visi dan misinya. Mantan Wakil al-Azhar, Syaikh Mahmud Asyur sejak lama menyayangkan al-Azhar yang telah kehilangan otentitasnya. Dulu -dan seharusnya hingga kini-, al-Azhar menjadi rujukan seluruh umat Islam sedunia, dan Syaikh al-Azhar dijuluki dengan Syaikh al-Islam saat itu. Akan tetapi peran luar biasa tersebut semakin menipis seiring dengan berkurangnya tokoh-tokoh al-Azhar yang berjiwa tegar setegar Syaikh Abdul Halim Mahmud, Syaikh Mutawalli Sya'rowi, Syaikh Shalih Ja'fari, Syaikh Hasan Syennawi, Syaikh Yusuf Dajawi, dan lain-lain.
Mungkin itu salah satu alasan hingga penulis tidak mengambil program magister di al-Azhar dan memilih Universitas Terbuka Amerika cabang Kairo. Selain alasan di atas, dan disamping mencari suasana baru dalam menimba ilmu setelah meraih Licence dari Universitas al-Azhar, toh juga tenaga pengajar dan penguji di American Open University seutuhnya terdiri dari dosen-dosen al-Azhar bahkan senior-seniornya. Adapun untuk program doktoral, mungkin penulis akan mengambilnya di Sufi Academy in Cairo, atau Ain Shams University, ataupun kembali ke bangku al-Azhar lagi. Anyway, ilmu bersemayam di lubuk hati, bukan terukir di atas benda mati (al-'Ilmu fisshudur la fissuthur). Buktinya, Syaikh Ahmad at-Thayyib yang mengakhiri pendidikan formalnya di Prancis, justru terpilih menjadi Mufti Mesir, kemudian Rektor Universitas al-Azhar, dan kini sebagai Grand Master of el-Azhar!.
Satu hal yang patut disyukuri adalah, meski al-Azhar tengah dilanda krisis, ia masih cukup kebal menghadapi ombak-ombak yang menimpa. Keberadaan Syaikh Ahmad Umar Hasyim, Syaikh Ali Jum'ah, Syaikh Ahmad at-Thayyib, Syaikh Jaudah al-Mahdi, Syaikh Usamah as-Sayyid, dan yang seperjuangan, membuat al-Azhar tetap optimis dan tidak kehilangan pertahanannya. Kira-kira senjata apa yang harus diasah al-Azhar agar mampu menggema kembali seperti dulu?. Penulis akan mencoba mengungkapnya dalam catatan ringkas ini.
Saat bedah tesis penulis berlangsung, 23 Oktober 2011 lalu, hal terpenting yang penulis kemukakan adalah, al-Azhar merupakan lembaga Islam tertua sekaligus terbesar yang dikenal sangat moderat, toleran, dan universal. Makna moderatisme tersebut ialah, al-Azhar tidak condong ke kiri alias liberal atau syi'ah, dan juga tidak miring ke kanan alias wahabi. Al-Azhar menjadi moderat tiada lain karena berpegang teguh kepada faham Asy'ari wa Maturidi dalam teologi, dan kepada empat mazhab dalam fikih, serta menjunjung tinggi nilai-nilai atau ajaran-ajaran tasawuf. Itulah yang menjadi kunci rahasia kegemilangan al-Azhar yang nyaris terlupakan selama ini.
Senada dengan Dr. Muhammad Abdushshamad Muhanna, dosen hukum internasional di Universitas al-Azhar sekaligus Wakil Rektor Akademi Tasawuf di Kairo ketika ia menghimbau, al-Azhar wajib menunjukkan kembali identitasnya sebagai penganut teologi Asy'ariyah wa Maturidiyah, juga sebagai penjunjung tinggi sufisme Islam yang mencerminkan moderatismenya, serta mempertahankannya dengan sekuat-kuatnya, barulah al-Azhar kembali layak menjadi rujukan umat Islam seantero dunia.
Menurutnya juga, Syaikh Ahmad at-Thayyib sebagai Syaikh al-Azhar amat terpercaya mengembalikan identitas dan otentitas tersebut. Ia memahami dengan benar langkah-langkah yang tepat menuju masa depan al-Azhar yang lebih cemerlang. Dr. Muhanna pun meyakini, musuh-musuh Syaikh al-Azhar saat ini pantas disebut sebagai musuh-musuh Islam!.
Pernyataan di atas dikuatkan oleh Mufti Mesir, Syaikh Ali Jum'ah, melalui surat kabar al-Akhbar Mesir edisi 3 Januari 2012, dengan penegasannya bahwa al-Azhar adalah Asy'ariyyul 'aqidah, madzhabiyyul fiqh, shufiyyul akhlaq (menganut aliran Asy'ariyah dalam teologi, empat mazhab dalam fikih, dan tasawuf dalam akhlak). Artinya, al-Azhar sebagai rujukan umat Islam sedunia yang moderat dan mencerahkan, sangat tidak sependapat / sejalan dengan golongan wahabi yang selama ini bersembunyi di balik label salafi!.
Karena itulah Syaikh al-Azhar, Syaikh Ahmad at-Thayyib, menyatakan bahwa mahasiswa atau alumni al-Azhar yang terdoktrin pemikiran wahabi hanyalah mahasiswa atau alumni yang gagal, lemah, dan tidak belajar dengan benar. Al-Azhar sejak berdirinya sama sekali tidak menganut faham wahabi namun justru menentangnya, bahkan umat Islam sepermukaan bumi mayoritasnya tidak berkiblat kepada aliran wahabi yang baru berumur sekitar 200 tahun. Upaya apapun yang dilakukan, wahabisme tidak akan pernah berhasil menjadi kiblat ideologi umat. "Kami sudah mampu menyanggah pemikiran-pemikiran wahabi sejak berusia dini di bangku al-Azhar", tandas Syaikh al-Azhar di sebuah wawancara televisi bersama Amr al-Laitsi.
Maka, dapat disimpulkan bahwa seorang Azharian yang tulen ialah yang anti wahabi. Al-Azhar sangat menyadari sejarah dan kronologi perkembangan Islam yang senantiasa dituntun orang-orang sufi. Apabila seorang Azharian tidak memahami poin ini dengan baik dan benar, maka ia tidak pantas dikatakan Azharian sejati yang akan membawa risalah moderatisme Islam, sebagaimana pernyataan Syaikh al-Azhar di atas. Ironi, tidak sedikit alumni al-Azhar yang terang-terangan melawan tasawuf -baik teologi maupun tradisinya- dan menyebarkan virus-virus wahabisme dengan label dan kostum al-Azhar!.
Dan kini fakta sudah membuktikan, perang ideologi antara al-Azhar dan komunitas wahabi di Mesir semakin menjadi-jadi, khususnya antara Syaikh Ali Jum'ah dan Abu Ishaq al-Huwaini. Dengan keberanian ganda, Mufti Mesir mengadukan kekurangajaran al-Huwaini ke pengadilan agama demi maslahat al-Azhar. Syaikh al-Azhar pun tak ketinggalan bertindak menyelenggarakan konferensi internasional dengan tema "Imam Abul Hasan al-Asya'ari Sebagai Imam Ahlussunnah wal Jamaah dalam Rangka Melawan Aliran Fundamentalisme" dan konferensi lain yang tak kalah dahsyat dengan tema "Tasawuf Jalan Reformasi Yang Hakiki". Para mahasiswa juga mulai melakukan demonstrasi anti wahabi dengan semboyan "Allahu Akbar, hidup al-Azhar!". Fenomena ini setidaknya menegur setiap Azharian sejati untuk turut menginstal ulang program al-Azhar dengan mengibarkan bendera tasawuf yang mencerahkan, bukan malah menurunkan reputasi al-Azhar dengan opini-opini kosong yang terkadang berkulit sutra namun berdaging opium yang mematikan!.