Etika Pergaulan Sorotan Utama
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.
Berbincang soal tipikal lelaki shalih, tak seunik berdiskusi tentang kriteria wanita shalihah. Barang kali disebabkan jarangnya wanita shalihah di atas permukaan bumi, lebih-lebih di zaman seperti sekarang ini. Bagaimanapun, realitanya -sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah Hadits-, wanita shalihah jauh lebih baik dari 70 lelaki shalih. Terdapat banyak keistimewaan lain pada seorang wanita shalihah, di antaranya ialah wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, bahkan lebih baik dari dunia seisinya.
Kali ini, Selasa 24 September 2008, penulis dijumpai seorang mahasiswa jurusan dakwah universitas al-Azhar Mesir yang saat ini menjabat sebagai staf dewan konsultatif PwKNW (Perwakilan Khusus Nahdlatul-Wathan) cabang Mesir, TGH. Muhammad Zainullah Hamdani. Beliau juga adalah putera TGH. Nashrullah, salah seorang tokoh NW terkemuka di pulau Lombok. Bertatap mata dengan beliau adalah kesempatan yang cukup berguna bagi penulis untuk menggali topik-topik Islami yang begitu luas, dalam dan penuh solusi.
Rupanya, kelajangan kami berdua menjadi faktor utama sehingga bahan perbincangan kami ialah tentang tipikal wanita shalihah. Ust. Dani yang diharapkan menjadi pemuka agama terpandang kelak di Lombok, sudah barang tentu mengidamkan seorang pendamping hidup yang agamis dan dapat membantu kelancaran dakwahnya. Kata Ust. Dani, Rasulullah Saw. sudah tegas kok "Pilihlah yang loyal agamanya maka kamu akan bahagia". Nah, yang menjadi pertanyaan penulis selanjutnya ialah, bagaimana mengetahui status keagamisan tersebut? Apakah cukup melalui pakaian; jilbab misalnya? Bukankah zaman ini banyak wanita berjilbab tapi perilakunya bejat?!
Dengan spontan Ust. Dani menjawab bahwa cara mengetahuinya cukup fleksibel, bergantung pada normalnya pengenalan dan pendekatan yang akan dijalankan. Yang jelas, etika yang mulia adalah ciri paling khas bagi keagamisan seorang wanita disamping teologi dan ideologinya. Intelektualitas wanita muslimah akan nonsen jika tidak diiringi akhlak yang mulia.
Ada seorang teman yang saat itu mengikuti perbincangan kami, ia sempat mengomentari dan mengemukakan persepsinya. Baginya, ketika ada dua pilihan saja di depan mata; pertama, wanita berkualitas (berakhlak) tapi tidak berkuantitas (tidak cantik), kedua, wanita berkuantitas (cantik) tapi tidak berkualitas (tidak berakhlak), maka yang akan dipilihnya adalah yang kedua, sebab etika dapat dituntun dan dididik suaminya nanti, maka kecantikannya akan semakin dinikmati asal ia memiliki kecerdasan yang cukup.
Argumen yang diutarakan teman itu lumayan logis, khususnya bagi mereka yang menjadikan kecantikan sebagai kriteria terpenting. Namun di sisi lain, pilihan tersebut cukup riskan terlebih pembenahan watak dan kepribadian tak semudah membalikkan telapak tangan.
Kembali ke topik semula. Kriteria wanita shalihah yang diidam-idamkan pria sebetulnya tidak begitu sulit untuk dipenuhi wanita. Misalnya, penurut, sopan, bertutur lembut, tidak liar, tidak bebas bergaul dengan lawan jenis, tidak berpakaian ketat dan lain sebagainya. Ust. Dani sangat risih dan terharu melihat seorang mahasiswi Mesir yang menginap sendirian di rumah kontrakan mahasiswa. Padahal, ia jauh-jauh dari Indonesia datang ke Mesir hanya untuk menekuni disiplin-disiplin agama, orangtuanya pun senang dan percaya sepenuhnya, tau-taunya di Mesir dia seperti itu!.
Tidak sedikit juga mahasiswi al-Azhar Mesir yang suka keluar malam, bernyanyi di tempat umum, suka cari perhatian, banyak omong, tidak tahu malu, mudah akrab dengan laki-laki, suka berduaan dengan cowok, kadang ia sendiri cewek main-main bersama sejumlah cowok, baik di tempat terbuka maupun tertutup, bahkan bersentuhan, misalnya memukul bahu teman laki-lakinya laiknya gadis manja di ibukota, dan lain sebagainya. Warna pergaulan semacam itu tidak disukai Ust. Dani bahkan tidak diterima siapa saja yang patuh pada norma agama, imbuhnya.
Sesaat kami berdua sadar dan memaklumi bahwa keadaan terkadang menuntut dan memaksa, akan tetapi antisipasi agar tidak melewati batasan-batasan yang ada tidak sesukar kondisi yang menimpa. Ketika seorang gadis muslimah sudah krisis haya', wara' dan 'iffah, maka perangainya akan mudah tertiup oleh nafas-nafas setan yang tak kunjung pisah dari hatinya.
Selanjutnya, kami mulai berdiskusi seputar metode mengubah kemungkaran tersebut. Memang, sifat-sifat negatif seseorang kadang dilatarbelakangi didikan orangtua, didikan di pondok, maupun kultur pergaulan dan lingkungan sekitar. Bagi penulis sendiri, setiap orang punya kekurangan yang dapat diperbaiki secara bertahap, hanya saja perubahan dan perbaikan itu akan lebih mudah jika disertai kesadaran bahwa kebahagiaan orangtua lah yang menjadi misi utama, dimana kepercayaan orangtua apabila dikhianati dengan cara apapun, maka kemunafikan sudah mencapai puncaknya. Selanjutnya, segudang bad image dari mana-mana, bahkan murka Tuhan pun bisa saja menjelma !!
Catatan ini tidak memojokkan siapapun, tapi sekedar menyapa gadis muslimah mana saja agar sayang pada dirinya sendiri kalau tidak takut pada Tuhannya. Sayang pada orangtua, guru-guru, masyarakat dan teman-temannya, sehingga iapun dikaruniai suami yang mulia, bukan suami yang british dan suka bergaya. Iapun diterima, disukai, dihormati, dihargai dan diridhoi orang-orang sekitarnya.
Kaum hawa umumnya, menginginkan laki-laki yang gagah, bijaksana, pintar, pandai mencari rizki, tidak pemarah, pengertian dan lain-lain, semua itu disamping kealiman dan keshalihannya. Akan tetapi, percaya atau tidak, umumnya pria ketika mencari pasangan hidupnya, ia menyoroti pergaulan sehari-harinya, teman-temannya, cara berintraksinya, kepribadiannya, wataknya, perilakunya, bahkan gaya hidup dan tutur lidahnya. Itu jauh sebelum melihat intelektualitas dan emosionalnya, bahkan sebelum nasab keturunan, riwayat pendidikan dan identitas pribadinya. Apalagi kecantikan, sebab keanggunan wanita akan nampak jelek dan menjijikkan apabila tidak disertai keindahan dan keanggunan etika.
Hal tersebut sangatlah lumrah, dikarenakan umumnya calon-calon dai dan pejuang agama lebih memilih calon isteri yang siap di rumah terus melayani suami dan mendidik anak-anaknya, dibanding calon isteri yang susah diatur, haus popularitas, suka berkarir, berakting dan suram pergaulannya.
Sebagai akhir perbincangan, maka tiada kata seampuh doa, hanya doalah senjata yang mampu menembus suratanNya. Kami bermohon kepada Tuhan semoga gadis-gadis muslimah yang terlanjur kami "sayangi" diberi petunjuk olehNya, dilindungiNya dan dianugerahi yang terbaik di sisiNya, Amien!.