Pantun Penantian
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.

Tanpa bunga apalah kumbang,
Tanpa cinta tiadalah rindu;
Cinta yang lama usah dikenang,
Mulailah pula cinta yang baru.
Langit hitam menyirat bintang,
Di atas sana ada seribu;
Tunggu kakak sebentar pulang,
Jauh di sana cuma satu.
Makan sirih tidak berpinang,
Pinang ada di atas batu;
Niat hati hendak meminang,
Jadikan adek sebagai ratu.
Ikan di laut suka berenang,
Di sawah pula ada lembu;
Adek sabar kanda pun datang,
Semoga kita mendapat restu.
Banyak anjing merebut tulang,
Karena tulangnya ada satu;
Banyak orang merebut sayang,
Tapi hati sudah menyatu.
Bila ada lebah di ladang,
Boleh kita minta madu;
Bila ada umur panjang,
Boleh kita lepas rindu.
Setengah piring nasi dimakan,
Perut kenyang belum tentu;
Bila tepuk sebelah tangan,
Sembilu jua nan syahdu.
Siulan burung di dalam sarang,
Membuat hati nyaman selalu;
Jangan adek memilih orang,
Tunggu kakak jauhkan pilu.
Terbanglah burung terbang,
Terbang ke pangkuanku;
Adek dengan abang,
Bentuklah hidup baru.
Pantun ini sebuah penantian,
Jawaban takdir terus ditunggu;
Akankah cinta tak kesampaian,
Ataukah jodoh bahagia selalu ?!
Tuan Guru Sya'rowi & Uminda Bahjah membalas :
Pohon randu bercabang dua,
Burung gagak hitam bulunya;
Di dalam kelambu kita berdua,
Itu namanya syorga dunia.
AzIzNaWaDi menjawab :
Mobil bagus tapi mogok,
Lalu jatuh ke dalam sawah;
Duduk seorang menghisap rokok,
Iri melihat syarowi bahjah.
Luqmey turut berpantun :
Ikan teri bentuknya panjang,
Tapi tak seperti ikan sebelah;
Memang iri sifat orang bujang,
Nak kawin.. kawin laaaahhh.
AzIzNaWaDi menjawab :
Main-main si anak dodo,
Layang-layang di atas awan;
Masih single masih jomblo,
Ingin memukul si kebot lukman.
Kawkawkawkawka... (I Love You All)
Kembali