P. Ramlee, Kurang Apa Coba?!
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.
Tan Sri Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh Ramlee yang lebih dikenal dengan sebutan P. Ramlee, seorang seniman agung Malaysia yang lahir di pulau Pinang 22 Maret 1929 dan ayahnya berasal dari Aceh. P. Ramlee menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu Kampung Jawa, kemudian ke Francis Light School. Setelah itu melanjutkan pendidikannya di Penang Free School hingga meletusnya perang dunia kedua.
Berawal dari bermain ukelele, P. Ramlee kemudian beralih ke alat musik gitar dan biola di bawah bimbingan pemimpin Brass band di Penang Free School. P. Ramlee kemudian bergabung dalam Orkes Teruna Sekampung kemudian Sinaran Bintang Sore. Ia pernah menjadi juara lomba nyanyi yang diselenggarakan Radio Pulau Pinang pada tahun 1947 dan terpilih sebagai Bintang Penyanyi Utama Malaya.
Tidak hanya sebagai musisi dan penyanyi terbaik Malaysia, P. Ramlee juga proaktif dan sangat produktif dalam menciptakan lagu-lagu kenangan sepanjang masa. Lagu-lagu P. Ramlee sudah mencapai 300-an lagu dengan warna musik dan suara khasnya yang indah serta menyejukkan rasa.
Ternyata, P. Ramlee bukan sekedar musisi, penyanyi dan pencipta lagu, ia juga seorang aktor yang sukses sekaligus sutradara dan direktur perfilman yang luar biasa. Film-filmnya sudah melebihi 65 film, baik sedih, tegang maupun jenaka. P. Ramlee pun akhirnya dijuluki sebagai "Seniman Agung" karena berhasil menjadi musisi terbaik, penyanyi terbaik, pencipta lagu terbaik, aktor terbaik, dan sekaligus sutradara terbaik di Malaysia pada masanya. Seluruh kebolehan seni itu kumpul di satu waktu pada seorang Tan Sri P. Ramlee.
Pada tahun 1950, P. Ramlee menikahi Junaidah Daeng Haris namun bercerai pada tahun 1954. Selanjutnya pada tahun 1955 ia menikahi Norizan yang ternyata berakhir juga hubungan mereka pada tahun 1961. Beberapa bulan selepasnya, P.Ramlee menikahi seorang penyanyi terkenal bernama Saloma. Saloma lah isteri yang setia menemani P. Ramlee sampai akhir hayatnya.
P. Ramlee dikaruniai dua anak saja melalui Junaidah, isteri pertamanya. Dua anak itu adalah Muhammad Nasir kelahiran 1953 dan Arfan kelahiran 1954. Selebihnya, melalui Norizan dan Saloma, P. Ramlee tidak dikaruniai satu anakpun sehingga ia mengangkat sejumlah anak seperti Sazali, Betty, Zakiah, Sabaruddin dan Dian.
Pada tanggal 29 Mei 1973, dan di usia 44 tahun, P. Ramlee diserang penyakit jantung hingga menjumpai ajalnya dan dimakamkan di Pekuburan Islam Kuala Lumpur. Memang cepat rasanya P. Ramlee dijemput ajal, akan tetapi karya seni yang sebanyak dan sedahsyat itu dalam tempo yang singkat, membuat kita sungguh takjub dan menganga. P. Ramlee wafat di usia "44 tahun" namun meninggalkan "60-an film" bermutu dan "300-an lagu" berkualitas. Kurang apa coba?!
Artis hebat dan serba bisa yang seinspiratif, seimajinatif dan seproduktif P. Ramlee belum pernah ditemukan pada zaman pra maupun pasca P. Ramlee. Belum ada yang menyamai apalagi melebihi. Patutlah legendaris agung ini senantiasa dikenang sepanjang masa di Malaysia. Tak jarang Siti Nurhaliza menyanyikan lagu-lagu P. Ramlee di berbagai panggung konsernya. Ahmad Dani pun menyanyikan "Madu Tiga" milik murni P. Ramlee. "Madu Tiga" adalah lagu ciptaan utuh P. Ramlee yang dinyanyikan oleh P. Ramlee juga dalam film "Madu Tiga" pada tahun 1964. Film "Madu Tiga" pun dibintangi sekaligus disutradarai P. Ramlee. Kurang apa coba?!
Film pertama P. Ramlee berjudul "Chinta" pada tahun 1948, dan film terakhirnya adalah "Laxmana Do Re Mi" pada tahun 1972. Guru P. Ramlee dalam dunia perfilman adalah Datuk L. Krishnan, sementara gaya aktingnya terinspirasi dari dua aktor terkenal India Selatan, MGR dan Sivaji Ganesan. Adapun lagu ciptaan P. Ramlee terakhir ialah "Air Mata di Kuala Lumpur" pada tahun 1973 sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dan Kuala Lumpur pun benar-benar meneteskan air matanya!.
Siapapun tidak akan mampu berkata apa-apa mengenai sosok P. Ramlee, karena berbicara tentang P. Ramlee adalah berbicara tentang "seni" seutuhnya!.