Memori November 2008
Ngobrol santai bersama Penasehat PwKNW Mesir dan Ketua KMNTB Mesir. Rabu 26 November 2008

Sejak tahun 2002 anda belum pernah pulang ke kampung halaman semata-mata demi studi di Timur Tengah yang harus anda selesaikan sampai jenjang doktor. S1 sudah selesai, kini S2 sedang jalan. Namun di bulan November 2008 anda pulang sejenak ke Tanah Air, boleh tau ceritanya?

Tidak perlu diceritakan. Sudah 6 tahun belum pulang, ya kangen lah!

Ada sebab-sebab lain selain kangen ama keluarga, teman-teman, guru-guru, masyarakat dan kampung halaman?

Ada masalah keluarga yang meski kecil-kecilan tapi harus saya selesaikan! Sekalian nyari jodoh. Tapi misi yang paling penting adalah menjumpai ikhwan Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah yang ada di Lombok dan Indonesia umumnya. Hanya saja yang terjadi adalah sibuk ceramah setiap waktu dan setiap tempat! Maklum orangtua berfigur tuan guru besar di Lombok sekaligus mustasyar NW di Pancor dan pengasuh ponpes Ridlol Walidain di Jenggik, dan saat ini calon DPRD 1 NTB. Kepulangan saya justru membantu dakwah orangtua, dan merupakan kesempatan signifikan bagi beliau untuk melatih anaknya berdakwah dan menghadapi masyarakat di Lombok. Hampir semua jadwal mengajar beliau di berbagai lembaga dialihkan ke saya! Misalnya di MDQH (Ma'had Darul Qur'an wal Hadits), IAIH (Institut Agama Islam Hamzanwadi), masjid besar al-Taqwa, musholla al-Abror, pondok pesantren Ridlol Walidain, radio Hamzanwadi dan lain-lain.

Terus bagaimana kesan-kesannya?

Alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar. Kesan masyarakat dan pemuka-pemukanya pun cukup positif.

Materi / buku apa saja yang pernah anda ajar?

Kitab Tafsir Jalalain, Riyadusshalihin, Syama'il Muhammadiyah, Adab al-Dunia wa al-Din, Likulli Hadatsin Hadits, Ta'lim al-Muta'allim, Fathul-Qarib dan kitab-kitab lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang pernah sampai ke anda?

Banyak. Tentang tafsir, hadits, nahwu, sharf, i'lal, akidah, fikih, tasawuf, politik dan lain sebagainya. Dan saya punya jawaban-jawaban yang khas baik metode maupun substansinya, dan insya'allah diterima masyarakat. Ada juga sih yang tak terjawab, namanya juga kesempatan terbatas, dan yang pasti saya masih belajar. Biarlah masyarakat bebas menilai!

Pengalaman yang tak terlupakan?

Menjadi khatib jum'at di masjid besar al-Taqwa Pancor. Pertama kali seumur hidup saya menjadi khatib jum'at dan pertama kali shalat jum'at di baris paling depan dan pas di belakang imam. Hehe!

Orangtua yang meminta anda jadi khatib?

Bukan, tapi pengurus masjid itu sendiri setelah mendengarkan saya ceramah tentang haji saat pelepasan jamaah haji setempat.

Ketika khutbah, anda memegang teks?

Tidak. Saya lebih santai tanpa teks. Dan tema yang saya angkat adalah tentang ketakwaan kepada Allah yang tidak dapat diwujudkan dan ditingkatkan kecuali melalui wasilah orang-orang shalih!

Pernah jadi imam masjid?

Pernah, di masjid al-Taqwa juga. Jadi imam shalat isya' selepas ceramah tentang dzikir.

Pengalaman lain yang tak terlupakan?

Banyak. Di antaranya saat mengunjungi Bapak Gubernur NTB di kantor beliau di Mataram. Dan kunjungan itu bersifat pribadi.

Dalam rangka apa?

Tidak ada. Sekedar pamitan aja karena esoknya mau berangkat lagi ke Mesir!

Kunjungan-kunjungan penting lainnya?

Saat berkunjung ke ponpes Tarbiyatul Banin dan pabrik rotan Trijaya di Cirebon Jawa Barat.

Dalam rangka apa kunjungan-kunjungan itu?

Kebetulan yang mengasuh di ponpes Tarbiyatul Banin dan yang menjadi bos pabrik Trijaya adalah teman-teman dekat saya sewaktu di Mesir. Mereka lebih dari saudara saya. Kebetulan juga dalam ponpes itu terdapat padepokan khusus untuk salikin Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah.

Kenangan-kenangan lainnya?

Waktu menziarahi guru-guru saya di MAK NW Pancor yang sekarang berubah menjadi MAH (Madrasah Aliyah Hamzanwadi). Alhamdulillah siswa-siswinya makin banyak, guru-gurunya masih sehat dan asramanya tambah luas. Kenangan lainnya sewaktu perpisahan dengan thullab-thalibat NW di rumah. Mereka begitu mencintai, menghormati, memuliakan dan mendukung serta mendoakan saya sebelum kembali menuntut ilmu di Mesir. Saya jadi terharu berpisah dengan mereka. Dan masih banyak kenangan-kenangan manis lainnya.

Bagaiamana kesan anda terhadap Indonesia setelah 6 tahun meninggalkannya?

Banyak perubahan positif. Khususnya di Pancor alhamdulillah tambah ramai, padat, indah, maju, damai dan jaya. Adik-adik saya besar semua. Ayah dan ibu sehat-sehat saja. Mobil panther dan kijang masih segar. Rumah semakin mewah dan indah. Toko jawahir makin laris. Ikhwan sethariqah tambah banyak dan kukuh. Saya balik ke Mesir alhamdulillah membawa semangat baru yang berlipat ganda.

Anda di Indonesia cuma 20 hari. Kenapa secepat itu balik ke Mesir?

Banyak sebab; studi, visa, dan lain-lain.

Sudah dapat jodoh?

Karena di Indonesia tidak lama dan karena banyak kesibukan ceramah dan mengajar, maka pencarian jodoh sekaligus perbaikan gizi tidak terlaksana dengan maksimal. Saya balik ke Mesir masih kurus dan lajang! Orangtua juga menganjurkan nikah selepas S2.

Pesan anda untuk kami-kami yang belum pulang?

Melalui berbagai visi, cerahkanlah masa depan anda masing-masing! Berikanlah keluarga dan masyarakat anda yang terbaik untuk dunia dan akhirat mereka!

Bolehkah anda berbicara sekilas tentang NW dan warganya di Lombok?

Nahdlatul Wathan di Pancor (secara khusus) adalah ormas Islam yang bermazhab syafi'i dalam fikih dan befaham asy'ari wa maturidi dalam akidah serta berpartaikan PBB dalam politik. Itu yang saya ketahui belakangan ini. Namun selepas kepulangan saya ke Lombok, saya melihat ke-NW-an warga NW mulai dirasuki pemikiran-pemikiran lain yang tak sejalan, baik di sisi akidah, syariah maupun siyasah. Itu yang dikeluhkan warga NW sendiri! Nah, untuk mengembalikan warga NW ke jalan NW yang semestinya, tidak sulit bagi saya. Hanya saja belum waktunya konsentrasi disitu. HIMMAH (Himpunan Mahasiswa) Pancor pernah meminta saya menjadi narasumber dalam sebuah forum ke-NW-an, tapi sayang, saya tidak menghadirinya karena keburu balik ke Mesir.

Itu dalam hal akidah dan syariah. Kalau dalam hal thariqah?

Setahu saya, NW punya tarekat sendiri tapi NW tidak melazimkan warganya untuk bertarekatkan NW. Tidak masalah bagi warga NW jika mengikuti tarekat sufi lain asal sehaluan dengan NW serta tetap setia menjadi warga NW. Contohnya ayah saya sejak dulu bertarekat Naqsyabandi dan saya sendiri bertarekat Dusuqi Muhammadi!

Di sebuah acara dialog PwkNW Mesir pada tanggal 25 April 2006, ketua KMNTB Mesir pernah bertanya kepada ketua umum PBNW Pancor tentang warga NW yang mengambil dan mengikuti tarekat lain selain tarekat hizib NW. Beliau menjawab "Silahkan, yang penting tetap menjadi warga NW".

Antara fanatisme dan keterbukaan menerima perbedaan, mana yang anda conteng?

Pertanyaan anda aneh! NW tidak mengajarkan fanatisme buta yang berlebihan. Hanya saja NW punya pegangan dan landasan prinsipil sebagaimana ormas-ormas lainnya. NW menerima faham, metode dan penafsiran baru apa saja selama tidak kontra dengan substansi teologi yang sudah dipegang. NW juga menerima pembenahan dan perubahan dalam hal apapun selagi mengarah ke jalur yang lebih benar dan lebih bersahabat dengan maslahat publik.

NW Pancor partainya PBB, tanggapan anda?

Bagus. PBB cukup moderat dalam menjadikan syariah sebagai sumber kebijakan politik.

Katanya, tidak jarang juga warga NW yang memilih PKS? Komentar anda?

Katanya juga, secara teoritis PKS itu partai Islami, tapi secara praktis PKS itu partai wahabi! Sekali lagi, katanya. Hanya saja, PKS tidak akan pernah mau mengaku wahabi!

Oya, bagaimana tentang NW Anjani?

Semoga NW tetap jaya dan dapat bersatu kembali sebagaimana harapan dan doa pendirinya.

Kapan anda pulang lagi ke Indonesia?

Insya'allah kalau sudah tamat S2. Sebelum lanjut S3 pengennya sih pulang nikah dulu!

Semua orang disini tahu bahwa anda adalah aktifis tarekat sufi. Anda tampak menekuni dan mendalaminya dengan serius. Kecenderungan anda kepada tasawuf dan tarekat di Mesir membuat saya ingin bertanya: Melalui tasawuf modern dan tarekat kontemporer yang anda ikuti itu, apa yang telah dan akan anda bawa pulang ke Indonesia?

Pencerahan !!!

Keampuhan sufisme Islam dalam mendamaikan dunia memang sudah tidak perlu dibincangkan lagi. Ada sebab lain mengapa anda memilih tasawuf dan tarekat?

Ilmu-ilmu al-Azhar sangat belum cukup sebagai bekal pulang ke Tanah Air. Tapi di Mesir banyak golongan dan pemikiran yang bisa dimasuki dan ditekuni; ada yang wahabi, ada yang syi'ah, ada yang liberal, ada yang sekuler, ada yang sufi, ada yang politis, ada yang ekstrim dan anarkis, ada juga yang tidak jelas arahnya. Nah, daripada ngambang atau salah pilih, saya masuki saja golongan sufi yang moderat dan mencerahkan! Insya'allah tidak salah pilih kan?

Bagaimana dengan ilmu-ilmu serta penafsiran-penafsiran baru yang dikandung tarekat anda itu, apa tidak mengundang fitnah?!

Tarekat yang saya anut ini beserta ajaran-ajarannya telah diakui Majelis Sufi Tertinggi di Mesir dan Jam'iyah Ahli Thariqah Mu'tabarah Nahdliyah (JATMN) di Indonesia. Pengikutnya pun banyak sekali dan ada di seluruh lapisan bumi. Ngapain bingung?

Mungkin terdapat beberapa komunitas yang belum siap menerimanya!

Itu biasa. Pro-kontra selalu ada. Yang penting adanya etika, toleransi, kedamaian dan kelapangan dada, itu sudah cukup. Lagi pula saya tidak menyalahkan siapapun, tidak menyesatkan siapapun dan tidak pula memaksakan keyakinan dan kepercayaan siapapun! Fair kan?!

Terima kasih atas waktunya Ustaz Aziz. Semoga kesuksesan selalu menyertai anda dan kita semua!

Amien.

Kembali