Seputar Revolusi Mesir
Wawancara: Komaruddin Siregar, Mantan Pimred Terobosan Mesir

Sebagai salah seorang warga negara Indonesia yang berdomisili di Mesir dan tidak memilih dievakuasi, apa pandangan anda terhadap revolusi 25 Januari 2011 yang anda ikuti dan saksikan di Mesir?.

Saya tidak menduga ribuan pengunjuk rasa menuntut agar Husni Mubarak beserta rezimnya segera dilengserkan. Husni Mubarak sejak tahun lalu atau bahkan sebeumnya sudah bertekad untuk istirahat total pada pemilu September mendatang. Tekad itupun disampaikan kepada rakyat pada tanggal 1 Februari 2011. Dan sebelumnya, Mubarak telah membentuk kabinet baru sebagai wujud reformasi. Mubarak semata-mata memprioritaskan keamanan, demokrasi, dialog, dan stabilitas negara. Akan tetapi para pengunjuk rasa sepertinya sudah terlanjur ngotot melengserkan dan tidak perduli lagi dengan pertimbangan apapun.

Apa kira-kira di sebalik unjuk rasa tersebut? Apakah kezaliman Mubarak yang berkepanjangan terhadap rakyatnya?.

Saya pikir unjuk rasa itu sepenuhnya dilatarbelakangi provokasi orang-orang berkepentingan yang tidak sejalan dengan politik Mubarak. Tidak lebih dari itu.

Jadi Mubarak sebenarnya tidak zalim?.

Setiap pemimpin negara tanggung jawabnya sangat berat, dan kesilapannya pun pasti banyak. Mubarak juga manusia. Yang jelas, Mesir sudah cukup makmur, aman, dan stabil di tangan Mubarak yang puluhan tahun mengemban amanat atas pilihan rakyat, oleh karena itu Mubarak menurut saya tidak perlu dihakimi sebab jasanya sangat besar dan banyak.

Tapi IM begitu diilegalkan oleh Mubarak? Yusuf Qaradhawi juga diusir dari negaranya sendiri!.

Justru itulah salah satu kebijakan Mubarak. Dia mampu menaklukkan terorisme di Mesir dan mencegah teokrasi yang tak berdasar, serta memboikot dengan tegas orang-orang yang kerjaannya mengganggu ketentraman Pemerintah saja.

Setelah Mubarak turun, IM mulai unjuk taring dan mendirikan partai. Partai-partai lain pun mulai bermunculan dan berkoar-koar. Rakyat semakin berkubu-kubu. Perpecahan merajalela. Demokrasi disalahfungsikan. Maka semakin tampaklah kelebihan Bapak Muhammad Husni Mubarak.

Kenapa anda tidak mau dievakuasi?.

Saat itu dan sejak dahulu kala bahkan selama-lamanya, Mesir di mata saya senantiasa aman, mungkin karena sudah menjadi ketetapan al-Qur'an. Memang banyak tawanan yang melarikan diri dan melakukan keonaran di mana-mana. Banyak juga preman-preman yang memanfaatkan momen, tapi "tiada polisi, rakyat pun jadi". Para pemuda begitu kompak melindungi masyarakat. Tentara Nasional pun turun tangan, kurang apa coba keamanannya?. Tank-tank berderet di setiap tempat, dan itupun bertanda terjaminnya keamanan, karena yang berderet bukan harley-harley para preman, melainkan tank-tank tentara pengaman!.

Tapi konon, banyak WNI yang mengeluh karena berbagai kasus yang terjadi?.

Keluhan-keluhan itu berlebihan. Ada dua teman saya dimasukkan kedalam tank oleh tentara karena keluar tidak membawa paspor, ya wajarlah! Sudah jelas-jelas keadaan sedang ketat pengamanan dan pemeriksaannya, kenapa sebagai orang asing malah tidak membawa paspor? Orang Mesir saja diwajibkan membawa kartu identitasnya.

Ada lagi teman digeledah rumahnya dan diperiksa total demi keamanan karena ada yang mencurigakan. Ya namanya juga demi keamanan, dan curiga itu kan sudah sifat polisi dari sononya!. Yang jelas bukan dirampok atau dirampas harta bendanya secara kejam.

Banyak lagi kasus-kasus lain yang sampai ke telinga saya waktu itu. Semua kasus itu bisa terjadi kapan saja terlepas dari unjuk rasa dan krisis politik yang ada. Pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, kecelakaan, perampokan, penodongan, dan lain-lain bisa saja terjadi kapanpun dan dimanapun, bukan hanya di Mesir dan bulan Januari-Februari 2011 saja!.

Alhamdulillah WNI di Mesir sangat terlindungi sebetulnya. Akan tetapi sejumlah WNI kurang santai menyikapi sikon, ditambah dengan keinginan untuk liburan gratis, maka proses evakuasi merupakan peluang yang sangat besar. Dan karena proses itu berlangsung lamban, keluhan-keluhan itupun semakin ditonjolkan. Namun disamping itu banyak juga yang memang sebaiknya pulang.

Sekali lagi, Mesir senantiasa baik-baik saja. Buktinya, Pemerintah kita sendiri melihat WNI tidak seluruhnya wajib dievakuasi secara total dan tergesa-gesa, dan kenyataannya, yang telah dievakuasi pun dikembalikan dalam waktu kurang satu bulan sejak pemulangan!.

Banyak sekali warga Mesir yang kecewa dengan evakuasi ini, termasuk Syaikh al-Azhar. Mereka merasa evakuasi itu tidak diperlukan sama sekali, sebab revolusi Mesir tidak serusuh Libya, bahkan di Libya pun tidak sedikit WNI yang merasa aman-aman saja.

Bagaimana dengan bentrok yang terjadi antara pro dan kontra Mubarak?.

Bentrok itu terjadi hanya satu bahkan setengah hari saja, yaitu pada tanggal 4 Februari. Setelah itu tidak ada lagi. Itulah keunikan Mesir, demonstrasi dan bentroknya terjadwal rapi, pada lokasi-lokasi khusus, dan pada waktu-waktu tertentu. Selepas terpenuhi tuntutan para demonstran, mereka kompak membersihkan lokasi unjuk rasa, bahkan segenap rakyat turut mencantikkan negaranya. Seperti ini mana ada di negara kita atau negara-negara lain?.

Tapi kan korbannya cukup banyak?.

Adanya banyak korban saat demonstrasi besar-besaran dan bentrok politik yang dahsyat sangatlah wajar. Hal itu tidak perlu dikomentari.

Hubungan Mubarak dengan Amerika?.

Setahu saya, Mubarak tidak suka diatur-atur oleh Amerika. Buktinya, tanggal 10 Februari, Obama meminta Mubarak turun, tapi Mubarak tidak mau agar tidak dikatakan tunduk pada Obama. Mubarak bahkan dengan tegas menyatakan tidak perduli dengan keikutcampuran negara asing manapun dalam mengatasi krisis politik di Mesir. Mubarak lebih memilih turun pada hari esoknya daripada dikatakan taat pada Obama!.

Berarti informasi-informasi di Indonesia banyak salahnya?.

Informasi itu harus yang netral dan tidak provokatif. Aljazeera adalah salah satu channel berita yang sangat provokatif dan 60% tidak akurat. Sebaiknya Indonesia jangan mudah diprovokasi oleh info-info yang tidak akurat tentang Palestina, Afganistan, Iraq, Libya, maupun Mesir. Saya sangat memprihatinkan orang-orang di Indonesia yang malakukan unjuk rasa dihadapan Kedutaan Mesir Jakarta dan menuntut Mubarak turun, lha urusanmu apa..?!.

Setelah Mubarak turun, sudahkah tepat Pemerintah transisi dipegang oleh angkatan bersenjata?.

Sangat tepat, karena militer melindungi rakyat. Saya berharap presiden Mesir yang akan datang jauh lebih baik. Tidak terlalu otoriter dan juga tidak over demokratis. Sebab, diktator yang mengedepankan kepentingan umum jauh lebih aman daripada demokrasi tak terkontrol yang rawan krisis etika dan acapkali ribut oleh berjuta aspirasi subjektif!.

Kembali