Maudhu' Tapi Shahih
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.

Banyak ulama mengklaim bahwasanya ulama-ulama tasawuf punya kebiasaan buruk yang sudah menjadi tradisi dan warisan sufi secara turun-temurun, yaitu menggunakan dan memasyarakatkan hadits-hadits maudhu' untuk membenarkan mitos-mitos sufistik mereka. Salah satu dari sekian banyak bukti konkrit adalah kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam Ghazali yang sangat dipenuhi hadits-hadits maudhu'.

Katanya juga, ketidakperdulian ulama tasawuf kepada ilmu mushthalah hadits menandakan bahwa kaum sufi adalah seburuk-buruk golongan dalam umat Islam karena suka berdusta atas nama Rasulullah Saw. Namun, apa kata Imam Nawawi selaku ulama hadits terkemuka dan terpercaya tentang kitab Ihya' Ulumiddin yang konon banyak hadits maudhu'nya itu?
"Kadal-Ihya'u an yakuna Qur'anan".
"Hampir saja buku Ihya' Ulumiddin menjadi Qur'an" demikian pernyataan sang Imam Nawawi yang pernah mensyarah kitab Shahih Muslim dan menyusun kitab Matan al-Arba'in al-Nawawiyah.

Memang sukar menanggapi pernyataan Imam Nawawi di atas (yang dikutip Syekh Abdul Qadir al-Idrus dalam kitab Ta'rif al-Ahya' bi Fadha'il al-Ihya'). Shahih Bukhari yang konon sebagai kitab nomor dua (paling benar) setelah al-Qur'an, buku tasawuf berjudul Ihya' Ulumiddin yang banyak hadits maudhu'nya malah hampir seposisi dengan kitab suci al-Qur'an !!

"Mengapa dalam kitab Ihya' Ulumiddin banyak hadits-hadits maudhu' disamping dha'if? Masih lebih baik hadits maudhu' daripada pendapat ahli filsafat. Walaupun maudhu', tapi yang menggunakannya adalah orang-orang yang mengerti ma'rifat kepada Allah..!!" demikian penegasan Habib Luthfi, Ketua Umum Jam'iyah Ahli Thariqah Mu'tabarah Nahdliyah (JATMN). Hanya satu kesimpulan fakta yang dapat penulis ambil, ialah, ilmu mushthalah hadits itu bersifat fleksibel. Kebenaran, kelemahan bahkan kepalsuan sebuah hadits pun masih relatif.

Benarkah ?!? Wallahu A'lam.

Kembali