Kecurian Laptop di Ulang Tahun Ke-26
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.
Tepatnya pada tanggal 13 Mei 2010, dua hari sebelum acara ulang tahun penulis yang ke-26, terjadilah apa yang memang harus terjadi. Di saat penulis dan teman serumah berada di luar dan meninggalkan rumah dalam keadaan gelap, tertantanglah mata para pencuri yang -penulis yakin- telah lama memantau. Sudah menjadi takdir, malam itu sebelum pukul 23:00 waktu Kairo, rumah penulis dibobol, dua buah laptop dan satu buah hard disk pun diambil begitu saja.
Saat itu memang sedang musim pembobolan rumah-rumah Asia di kawasan tempat tinggal penulis. Sudah banyak rumah yang dibobol sebelum maupun sesudah rumah penulis. Pihak kepolisian Mesir telah dihubungi, namun ternyata belum terselesaikan hingga kini. Penulis pun tidak terlalu berharap barang-barang berharga mahal itu bisa kembali, karena penulis lebih berharap dapat pengganti yang lebih baik, serta dapat menemukan hikmah-hikmah yang tersembunyi di sebalik kejadian itu.
Yang paling penulis syukuri adalah, sejak kejadian itu, penulis sama sekali tidak sakit hati, bersedih, trauma, stress, ataupun kehilangan asa dan semangat hidup. Sebaliknya, penulis masih tertawa lepas seperti biasanya, hingga acara ulang tahun pun dapat berlangsung dengan semeriah-meriahnya. Memang sengaja penulis rahasiakan peristiwa itu ke teman-teman hingga hari ultah terlewatkan, tentu saja karena penulis tidak ingin acara ultah yang telah dirancang lama itu berubah seketika menjadi acara belasungkawa. Saat itu penulis terinspirasikan oleh teman serumah yang juga kehilangan laptopnya, ia mengatakan kepada penulis: "Kebahagiaan mari kita nikmati bersama. Kesusahan biarlah kita sendiri yang tanggung".
Seusai musibah itu diketahui teman-teman, kepedulian demi kepedulian silih berganti menghampiri. Rasa prihatin bahkan air mata pun tercurahkan dihadapan penulis. Penyesalan pun semakin terasa di dada penulis, sebab kesedihan merekalah musibah sesungguhnya bagi penulis.
Data-data pribadi yang tersimpan rapi dalam laptop, tidaklah seindah senyuman mereka yang senantiasa menuangkan motivasi dan inspirasi. Terlebih di usia penulis yang ke-26 ini, semangat dari mereka semakin diharapkan, karena penulis ingin membuka lembaran hidup baru yang lebih mandiri serta penuh kedewasaan. Alhamdulillah, di awal usia baru ini, penulis telah sukses memulainya dengan sebuah ketabahan. Laptop seharga delapan juta rupiah yang baru berumur satu tahun itu hilang begitu saja, dan penulis masih bisa tersenyum bahkan terbahak-bahak seperti biasa.
Tesis sudah mulai digarap dengan konsen dan serius. Komputer lama pun kembali diaktifkan. Niat hati hendak membeli netbook seharga tiga juta rupiah untuk lebih menyantaikan penggarapan tersebut. Memang, netbook bukanlah pengganti yang lebih mahal, namun tidak mustahil itulah yang lebih baik, sebab penulis yakin, harga bukanlah ukuran, dan pengganti tidaklah mesti sejenis.
Di usia baru ini, penulis berupaya agar bisa hidup lebih mandiri. Bisa mencari uang sendiri, dan tidak 100 persen bergantung pada pengiriman orangtua tercinta. Sebelumnya, penulis sempat menikmati uang hasil usaha sendiri, yaitu di saat menjadi penerjemah sekaligus editor di Maktabah al-Syuruq, sebuah penerbit internasional yang cukup besar dan berpusat di Kairo. Saat inipun sedang mengajar bahasa pasaran Mesir di Darul Mafahim. Alhamdulillah, sudah bisa mencarai uang sendiri, tetapi masih berharap semoga kedepan mampu menghasilkan uang yang lebih banyak lagi, sebab Tuhan Maha Kaya lagi Maha Dermawan, hanya tetesan keringat dari kitalah yang diperlukan.
Program-program penulis selama satu tahun lepas, alhamdulillah sebahagiannya terlaksana dengan sukses, khususnya penulisan buku "Sabda Sufistik" yang cukup laris manis. Adapun kursus bahasa Inggris, sayangnya masih belum tuntas. Kursus gitar masih di level basic. Program perbaikan gizi dan fitness sangat macat. Usaha penelusuran jodoh pun masih sering gagal. Insya'allah di usia baru ini, program-program itu akan penulis upayakan secara lebih optimal, tak terkecuali program kerja mencari uang.
Selain menggarap tesis, mencari uang, dan rencana-rencana lain di atas, dua buah buku yang belum selesai disusun akan penulis coba rampungkan selama satu tahun kedepan. Satu berjudul "Di Bawah Naungan Terompahmu" dan satu lagi bertajuk "Tasawuf di Balik Matan Jurumiyah". Namun yang menjadi harapan pertama di tahun ini (sebelum datangnya 15 Mei 2011), adalah dapat menamatkan program S2 dengan sukses dan lancar, agar cepat pulang mencium kaki ayah tercinta dan bunda tersayang, Amin ya Robbal alamin!.