Mengenal Kembali Kriteria Tuhan *
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.

Nampaknya, judul artikel ini tidak relevan dengan fakta. Karena kriteria Tuhan belum diketahui mayoritas umat manusia sejak dulu sampai detik ini. Mungkin karena hal itu tidak dipandang urgen atau signifikansinya belum dirasakan sekalipun oleh mereka yang sudah mengenalnya. Konsep tentang kriteria Tuhan ini merupakan gagasan murni dari Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi Ra. (Syekh Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah) dan belum berwujud pada zaman dahulu baik zaman Rasul, sahabat maupun tabi'in. Walau sebetulnya beliau hanya beristinbath melalui intisari kitab suci al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw.

Sejumlah ilmuan terdahulu telah membuat kriteria Tuhan dengan versi yang berbeda, namun kriteria gagasan mereka itu masih kontroversial, relatif dan ngambang. Seperti Tuhan itu harus kuat, mampu menciptakan, menyembuhkan, menghidupkan, mematikan dan lain sebagainya. Realitanya Fir'aun juga punya kekuatan, sejumlah nabi dan wali juga mampu menciptakan, menyembuhkan dan menghidupkan. Lalu apakah kriteria Tuhan yang sebenarnya?

Esensi dari konsep kriteria Tuhan (gagasan Maulana Syekh Mukhtar Ra.) sebenarnya telah tertanam secara praktis dalam keyakinan para pendahulu, hanya saja untuk menonjolkannya secara teoritis kepada khalayak umat, sekarang lah saat yang paling tepat. Terlebih setelah disaksikannya adegan-adegan tasyrik begitu hebohnya di tengah-tengah masyarakat muslim. Maulana Syekh Mukhtar Ra. dengan hikmah serta mau'izah hasanahnya meluncurkan senjata penyelamat yang sangat ampuh, ialah kriteria Tuhan. Tentunya peluncuran itu melalui lisensi legal dari Sang Tuhan itu sendiri !!

Gagasan teologis itu kemudian dipublikasikan melalui media-media massa di Mesir semisal surat kabar Shautul-Ummah yang saat itu dipimpin oleh Adil Homudah yang juga merupakan salah seorang asuhan (murid setia) Maulana Syekh Mukhtar Ra.

Dengan mengenal kriteria Tuhan yang disebut Muqtadlayat Uluhiyah, seorang muslim tidak akan pernah goyah oleh tuduhan siapapun. Karena hal-hal prinsip dalam akidah jika tidak dipelihara dengan sempurna, maka kebimbangan akan terus mengiringi dan menghantui. Teori-teori teologi yang telah diformulasi oleh al-Asy'ari dan al-Maturidi sampai saat ini cukup menjadi pegangan andalan komunitas Aswaja. Namun sayangnya, teori-teori tersebut kerapkali sulit dimengerti umat jelata karena bertele-tele, tidak simpel dan tidak komprehensif. Bahkan sekian persen mengadopsi filsafat-filsafat Yunani kuno. Bercampurnya kriteria Tuhan dalam sifat-sifatNya menjadi salah satu bukti yang cukup riskan, begitu juga perihal sifat 20 yang di lain tempat berkurang menjadi 13.

Dari itu, umat amat berhajat pada sebuah konsep teologi kontemporer yang steril dari sekte-sekte, simpel, instan, komprehensif, merupakan istinbath murni dari al-Qur'an dan al-Sunnah dan tidak dipengaruhi pemahaman nalar Yunani kuno. Hal ini telah disampaikan penulis pada Cafe Sufi JATMNU Mesir Jum'at 9 Maret 2007 yang lalu dengan tema 'Melacak Kembali Teologi Aswaja'. Tidak lupa penulis haturkan beribu-ribu terima kasih kepada Syekh Husni Hidayat selaku inspirator yang telah banyak memberikan kontribusinya demi kesuksesan presentasi penulis saat itu. Syekh Husni adalah seorang kolumnis berwawasan luas yang juga pernah menulis tentang kriteria Tuhan di sebuah artikelnya yang bertajuk 'Reformulasi Konsep Teologi' (dimuat pada salah satu media massa kemahasiswaan Indonesia di Mesir).

Kriteria Tuhan juga telah penulis jelaskan pada acara tanya jawab keagamaan di Radio Cool Mesir Jum'at 9 November 2007 yang lalu. Namun, sekali lagi, kriteria Tuhan masih perlu dikenal kembali dan dihayati dengan baik. Dan bagi yang belum mengenalnya, tidak akan pernah menyesal atau merasa rugi setelah mengenalnya, justru akan bahagia dan selamat dari segala keraguan, kebimbangan dan kerancauan akidah yang beraneka warna.

Kriteria Tuhan tidak lebih dari empat; al-Sabq, al-Ithlaq, al-Sarmadiyah dan al-Dzatiyah. Tidak banyak menguras pikiran, tapi sangat ampuh mengukuhkan iman. Kriteria pertama (al-Sabq) adalah bahwasanya tiada satupun yang mendahului Tuhan, baik dzatNya, isimNya maupun sifatNya.

Kriteria kedua adalah bahwasanya Tuhan tidak ada yang membatasi dzatNya, baik ruang maupun waktu. Tidak ada pula yang membatasi asma' dan sifat-sifatNya. Kriteria kedua ini disebut al-Ithlaq.

Kriteria ketiga adalah bahwasanya Tuhan tidak ada akhirNya. Isim dan sifatNya pun tidak ada akhirnya. Disebut dengan al-Sarmadiyah.

Adapun kriteria terakhir adalah bahwasanya Tuhan tidak ada yang mempengaruhiNya, tidak ada yang mengajariNya, dan tidak ada yang memberiNya. Asma' dan sifat-sifat kesempurnaanNya pun tidak dipengaruhi, diberi dan atau diajari oleh selainNya. Disebut dengan al-Dzatiyah.

Bila keempat kriteria di atas dimiliki oleh siapapun, maka ia adalah tuhan yang patut disembah. Dan oleh karena tiada satupun memilikinya (baik seluruh ataupun sebagiannya) selain Allah Swt, maka dari itulah kita meyakini bahwa... Tiada Tuhan Selain Allah.

Selepas uraian di atas, maka ketuhanan Fir'aun semakin terbukti kepalsuannya. Fir'aun (dzat, isim maupun sifatnya) tidak memenuhi empat kriteria Tuhan. Sayangnya, kaumnya tidak mengenal empat kriteria itu sehingga nekad menyembahnya.

Melalui empat kriteria di atas, lahirlah definisi syirik. Dimana syirik ialah meyakini bahwa empat kriteria di atas (atau salah satunya) dimiliki oleh selain Allah Swt. Sebab kriteria itu hanya ada pada Allah, sehingga penisbatannya kepada selain Allah merupakan sebuah kezaliman yang nyata. Dalam al-Qur'an: "Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang luar biasa".

Manusia yang sembarangan memfonis syirik kepada saudara seagamanya, adalah manusia yang sungguh dungu. Tidak lain karena ia buta terhadap kriteria Tuhan dan definisi syirik yang sebenarnya. Akibat dari kebodohan itu seseorang akan mudah menuduh saudaranya syrik. Contohnya ziarah kubur dikatakan syirik, lalu adakah kuburan Allah sehingga menziarahi kuburan selain-Nya dianggap syirik? Begitu juga ketika seorang salik menghadirkan wajah mursyid tarekatnya saat berdzikir dituduh syirik, lalu adakah foto -setengah badan- Allah sehingga mengahadirkan foto selainNya dianggap syirik? Tuduhan syirik tak terkontrol itu justru dengan halus menjerumuskan pelakunya ke lubang kufur dan syirik itu sendiri, dan tanpa ia sadari bahkan merasa beriman sendiri. Allah berfirman: "Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukanNya". Allah juga berfirman: "Katakanlah: Apakah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya di dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya".

Ketika membaca ayat tentang Nabi Isa yang menciptakan burung dengan izin Allah, sekelompok orang takut meyakini Nabi Isa sebagai khaliq (pencipta), alasan mereka karena takut mengkultuskannya. Kelompok ini telah ingkar kepada al-Qur'an yang dengan tegas meng-khaliq-kan Nabi Isa. Kelompok yang lain dengan segera beriman bahwa Nabi Isa adalah khaliq, namun iman mereka kebablasan, dan akhirnya meyakini Nabi Isa adalah tuhan, hanya karena ia mampu mencipta. Kelomok kedua ini sudah tentu syirik sebab nekad menyembah manusia.

Dua kelompok di atas sama-sama dungunya. Seorang muslim yang cerdas, yang telah mengenal kriteria Tuhan dengan baik, ia tidak takut meyakini Nabi Isa sebagai khaliq, dan pada waktu yang sama ia tidak menuhankannya, sebab sifat khaliqnya terlepas dari kriteria Tuhan. Sifat khaliqnya Nabi Isa tidak mengandung Sabq karena bukan ia yang petama kali mencipta. Sifat khaliqnya tidak mengandung Ithlaq karena ia hanya mampu menciptakan burung saja. Beda dengan Allah yang kuasa menciptakan segala-galanya. Sifat khaliqnya Nabi Isa tidak mengandung Sarmadiyah karena telah atau akan berakhir masa kekhaliqannya. Dan sifat khaliqnya Nabi Isa tidak mengandung Dzatiyah karena ia telah diajari Tuhannya bagaimana mencipta, dan ia mampu mencipta hanya karena ada izin dariNya.

Harapan penulis, sekiranya pembaca memahami contoh kasus di atas dengan cerdas, dan berkias padanya dalam banyak cabang aqidah berupa segudang problematika. Seperti dalam hal-hal yang berkaitan dengan perayaan maulid, pemuliaan dan pujian terhadap nabi dan wali, ziarah kubur, tabarruk, tawassul, istighatsah dan lain sebagainya. Semoga Tuhan memberi petunjuk!

Wala haula wala quwwata illa billah.

____________________________
* Dimuat dalam buletin al-Qalam KMNTB Mesir edisi April 2008.

Kembali