Makan Tuh Jenggot !!
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.

Asing rasanya si Budi (nama samaran) di sebuah kota yang ditempatinya. Apa boleh buat, ia harus mencari sebagian karunia Tuhan di kota itu demi penghidupan isteri dan anak-anak di desa. Sebelumnya Budi sudah berfikir suasana kota tak seindah di desa. Beribadah pun terasa lebih khusyu' di desa ketimbang di kota. Namun, Budi sadar kalau mencari rizki adalah bagian yang cukup signifikan dari ibadah itu sendiri, karena Tuhan telah mewajibkan setiap hamba (khususnya suami) untuk memberikan nafkah kepada keluarga maupun masyarakatnya, tentunya tanpa mengabaikan ibadah-ibadah privat antara hamba dan Tuhannya.

Di suatu siang yang panas, sepulang Budi dari tempat bekerjanya, ia ingin melakukan solat zuhur di sebuah masjid kecil sambil berdoa sekiranya Allah berkenan mempermudah semua urusannya. Dalam masjid kecil itu, ia menemukan sejumlah makmum yang sedang menunggu kehadiran imam, Budi pun duduk menunggu setelah melakukan solat tahiyat masjid. Entah apa sebab keterlambatan imam itu, tak muncul-muncul pula hidungnya sampai jam melewati waktu yang sewajarnya. Akhirnya Budi yang belum makan siang itu maju kedepan untuk mempersilahkan siapa saja menjadi imam, namun tidak ada satupun yang bersedia. Ya sudahlah, Budi pun mencoba mengimami solat zuhur sebagaimana ia biasa menajdi imam di masjid desa.

Satu detik menjelang takbiratul-ihram, Budi mendengar suara keras memanggil "Akhi, mundur, ana yang jadi imam" ternyata imam yang ditunggu-tunggu sudah datang. Budi heran dengan keterlambatan imam berjenggot panjang dan tebal itu, namum lebih heran lagi mendengar teguran yang sekasar itu keluar dari mulut sang imam masjid yang sudah lama ditunggu jamaah setianya.

"Kenapa saya harus mundur sementara takbir sudah hampir terucapkan?" tanya Budi dengan halus namun sedikit menyimpan rasa kesal dan kecewa.
"Bukankah ana imam masjid ini?" bantah imam itu dengan kasar dan suara yang keras.
"Iya saya tau, tapi kan saya dan jamaah sudah hampir takbir dan siap melakukan solat, tidak apa-apa kan pak ustad sekali-kali jadi makmum? siapa suruh telat? kami sudah lama nunggu lho pak ustad !!" balas Budi.
"Bukan itu masalahnya akhi, anta itu tidak punya jenggot, Imam masjid itu harus berjenggot seperti Rasul !! Mana jenggot anta? berani-beraninya jadi imam !! Cepat mundur !!" bantah imam itu dengan nada lebih kasar dan suara lebih keras memenuhi ruangan masjid. Semua makmum yang sudah lama berdiri (setelah lama duduk menunggu) tegang mendengarkan.

Budi sadar kalau masjid bukanlah tempat adu kekerasan suara. Masjid tempat ibadah karena ia adalah rumah Allah -menurut keyakinan banyak orang-. Budi pun mengalah dan mundur ke belakang menjadi makmum, hanya karena tak berjenggot !!

Seusai solat zuhur dilaksanakan secara berjamaah, Budi kembali menghadap imam kedepan. Para makmum kembali tegang dan menyaksikan apa yang akan terjadi. Beberapa orang dari makmum-makmum itu siap-siap mendamaikan suasana jika terjadi apa-apa. Sebagian makmum yang lain bersiap-siap menahan Budi yang disangkanya akan memukul imam masjid yang kasar dan berjenggot panjang dan tebal itu.

Ternyata, tidak seperti dugaan makmum manapun. Budi menghadap kedepan untuk menyalami imam itu sekaligus mencium tangannya !! Budi ingin minta maaf sebelum keluar dari masjid penuh kenangan pahit itu. Semua makmum heran melihat sikap mulia Budi dan bertanya kepadanya: "Kenapa kamu sebaik itu, padahal ia telah menghina dan mempermalukanmu?".
"Imam ini adalah orang yang shalih" jawab Budi seraya melnjutkan: "Barang siapa yang ingin masuk surga, maka hendaklah ia mengambil satu bulu dari jenggotnya, karena satu bulu adalah karcis gratis masuk surga" !!

Para makmum lalu bersegera memperebutkan jenggot imam itu, setiap orang mencabut satu bulu untuk dirinya agar dapat masuk surga. Tentunya imam tak berdaya membela diri dan menghindar dari jamaah yang begitu banyaknya mencabut bulu-bulu jenggotnya secara bersamaan, ia teriak kesakitan sementara Budi terbahak-bahak "Wkakakakaawkaawakakaka... rasain loe !!" Budi sangat bahagia, ia merasa sukses dan puas membalas dendamnya. Budi selanjutnya memberi instruksi kepada jamaah: "Kalau semua sudah dapat, jangan lupa nasib keluarganya lho !! ambil juga buat isteri dan anak-anak agar mereka juga ikut ke surga".

Hahahhahaaaa....

Sambil melarikan diri kekuar dari masjid, Budi terpanggil oleh jamaah dan mengadu: "Jenggotnya habis om, gimana nih? banyak yang belum kebagian !!".
"Mmmm... rambut kepalanya juga boleh tuh, ampuh juga kok buat jebolin pintu sorga" kata Budi seraya keluar dan pulang.

Hahahahaahahaaa.... makan tu jenggot !!

Para pembaca yang baik hati... Mengapa jenggot nyaris menjadi satu-satunya lambang keislaman? Sejak kapan jenggot menjadi rukun Islam keenam? Ataukah jenggot satu-satunya sunnah yang paling di-mu'akkadah-kan? Ada apa gerangan dengan kelompok Islam puritan? Sekolot itukah pemahaman mereka terhadap agama Tuhan ?!?

Tidak dipungkiri bahwa jenggot merupakan bagian dari sunnah-sunnah hai'iyah Rasul yang -tidak wajib- diikuti. Sama halnya dengan memakai serban, membawa tongkat, bersiwak dengan kayu arak, memotong bulu ketiak, menggunakan celak mata, memakai jubah, makan dengan tiga jari, dan lain sebagainya. Jenggot bukanlah bagian yang diprioritaskan dari sunnah-sunnah itu. Bahkan Rasulullah Saw. adalah seorang yang berambut panjang -alias gondrong- sebagaimana dibuktikan dalam banyak riwayat, namun mengapa sekarang justru rambut panjang dicela dan ditolak bahkan diharamkan ?!? Meniru Rasul jangan setengah-setengah donk !! Dan meneladani beliau jangan hanya zahirnya saja, akhlaknya-lah yang penting !!

Wala haula wala quwwata illa billah.

Kembali