Sebab Hidup Bukan Hanya Untuk Segumpal Hati
Wawancara bersama Ust. M. Sofian Darussalam, Koordinator Informasi dan Komunikasi KMB (Keluarga Mahasiswa Banten) Mesir
AzIzNaWaDi (A) : Jalinan percintaan antara laki-laki dan perempuan pra nikah merupakan suatu hubungan privat yang penuh polemik. Itu lumrah dan manusiawi. Akan tetapi, rasa sakit yang berkepanjangan di hati hampir dialami semua yang manjalaninya. Banyak persoalan yang muncul selama menjalin komitmen pra nikah. Apa tanggapan dan masukan anda tentang hal tersebut?
Ust. M. Sofian Darussalam (S) : Hubungan pra nikah (yang juga disebut pacaran) merupakan suatu hubungan yang sangat wajar. Maka tidak tepat bila dihukumi haram secara serta merta. Pacaran juga tidak lebih dan tidak kurang dari mukadimah (pengantar) khitbah yang sudah dituntun dalam Islam. Namun yang terpenting adalah bagaimana agar hubungan tersebut juga berjalan dengan baik dan sewajar-wajarnya. Sehingga kita perlu membentuk semacam formulasi tentang tata berpacaran yang sehat dan tidak melanggar syariat serta lepas dari hal-hal yang sekiranya hanya menyakitkan dan melahirkan memori pahit yang tak menyenangkan.
A : Formulasi seperti apa yang anda maksud?
S : Misalnya, sebelum mulai menjalankan hubungan tersebut, kedua pasangan harus memiliki kesiapan yang sungguh matang untuk bisa saling menerima dan memahami karena pacaran itu resikonya cukup berat dan sangat menyangkut hati dan perasaan.
A : Contoh resiko yang anda maksud?
S : Banyak. Di antaranya cemburu. Ketika seorang kekasih sudah cemburu, maka banyak efek negatif yang dapat terjadi. Memang cemburu itu manusiawi, tapi kadang ia berlebihan dan tak wajar. Cemburu juga sebetulnya tidak didasari rasa cinta dan sayang, melainkan rasa ingin memiliki secara penuh. Sebab sejatinya cinta adalah menginginkan kebahagiaan mutlak kepada seorang yang dicintai, bukan kepada si pecinta itu sendiri. Jadi, cemburu itu wajar tapi ekspresinya pun harus dengan cara yang wajar.
A : Saya ingin memberi contoh kasus ketika seorang cowok berjalan ataupun hanya ngobrol dengan cewek lain, maka pacarnya langsung cemburu berat. Apa itu wajar atau abnormal?
S : Ketika cemburu itu over, maka setidaknya ekspresi yang tercurahkan jangan ikut-ikutan over lah. Coba dikontrol dan dikendalikan supaya lama-kelamaan bisa diminimalisir dan dinormalkan. Memang, watak pembawaan manusia itu beragam dan berwarna-warni, setiap manusia punya karakter yang berbeda; ada yang protektif, ada yang introgatif, ada yang cuek bebek, ada yang easy going, ada yang suka jalan, ada yang manja, ada yang egois, ada yang romantis, ada yang galak, dan lain sebagainya. Dari itu diperlukan sifat saling mengerti, saling menerima serta saling memberi dan membenahi satu sama lain.
A : Lantas, pacaran yang sehat menurut persepsi anda?
S : Pacaran pra nikah difungsikan sebagai ajang saling mengenal satu sama lain, bukan sekedar untuk bermain-main. Nah, agar dapat saling mengenal dengan baik maka perlu adanya keterbukaan dan kejujuran. Pacaran juga tidak identik makan bareng di restoran, jalan-jalan ke bioskop, mall, taman, pantai, dll. karena pacaran itu di hati, pasca nikah baru di badan. Sekali waktu jalan-jalan dan main-main boleh tapi jangan terlalu sering kalau tidak bermanfaat karena dapat mengundang cekcok ataupun maksiat. Utamakan jalan-jalannya ke perpustakaan atau diskusi di mana kek, kan tidak kalah asiknya tuh! Banyak kok aktifitas lain yang lebih berguna bagi kedua pasangan yang berpacaran.
A : Mangatasi problem sakit hati versi anda?
S : Sakit hati dalam pacaran itu banyak sebabnya. Untuk menghindarinya, kedua pasangan harus punya kesepakatan pada suatu komitmen yang benar-benar jelas; mereka pacaran untuk apa, si cowok maunya bagaimana, si cewek pengennya gimana, si cowok hobinya apa, si cewek sukanya apa, persepsi cinta bagi si cowok apa, bagi si cewek bagaimana, yang tidak disukai si cowok apa, yang dibenci si cewek juga apa saja, bagaimana kalau terjadi begini, bagaimana kalau begitu, dan seterusnya. Barulah selanjutnya mereka menjalani hubungan itu sesuai komitmen yang telah disepakati bersama. Kalau ada pelanggaran maka hati akan sakit dan segera diatasi dengan baik-baik. Kalau hati sakit tanpa adanya pelanggaran, maka artinya ada something yang kurang (belum dibahas dan disepakati) dalam komitmen tersebut. Makanya keterbukaan itu penting sekali.
Dan ketika banyak hal yang belum bisa disepakati karena adanya perbedaan yang cukup banyak dan fatal, atau ketika pelanggaran terjadi sering dan terus-menerus, atau terjadi suatu pelanggaran atau pengkhianatan yang keterlaluan, maka diakhiri saja hubungan itu (putus) daripada sakit hati terus dan tidak bisa saling mengerti. Kecuali kalau mau bertahan dan bersabar. Kalau sama-sama sepakat untuk bertahan dan saling memaafkan tentang yang sudah-sudah, tidak apa-apa. Tapi kalau memilih putus, ya sudah.
A : Apakah berakhirnya hubungan pacaran itu harus melalui kesepakatan bersama juga?
S : Boleh dengan kesepakatan, dan sah juga tanpa kesepakatan. Seorang suami saja ketika mentalak isterinya, tanpa persetujuan si isteri, talaknya sudah sah. Nah, bedanya adalah, si isteri tidak boleh mentalak, tapi si cewek boleh mutusin (hehee)!.
A : Ketika cinta berkurang atau beralih ke orang lain, apakah itu negatif atau wajar-wajar saja?
S : Sebenarnya, dalam kamus besar pacaran itu tidak ada sama sekali kosa kata cinta. Pengorbanan demi cinta pun sebuah ibarat yang sungguh dusta. Pacaran itu terjadi atas dasar cinta, benar-benar impossible. Pacaran itu sebetulnya hanya terjadi karena adanya keterpikatan dan rasa simpati untuk hidup bersama dan bahagia, itu aja, tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan cinta, karena cinta itu bertingkat-tingkat, bukan bertambah atau berkurang apalagi berpindah-pindah.
Nah, ketika simpati itu meminim ataupun beralih ke orang lain, saya rasa wajar dan merupakan salah satu resiko dalam pacaran. Antara suami isteri pun kadang terjadi semacam itu. Sebelum mengambil keputusan, cobalah dipikirkan dengan dewasa, dipertimbangkan dengan bijak dan didiskusikan sebabnya dengan kepala sejuk kemudian diselesaikan baik-baik.
A : Bagaimana solusi anda untuk orang yang pacarnya direbut orang lain?
S : Karena jodoh di tangan Tuhan, maka persentase harapan pada kekasih tidak perlu lebih dari 49%. Merebut pacar orang lain itu tidak selalu salah selama belum terjadi khitbah. Jangan selalu menyalahkan orang yang suka merebut, seseorang juga harus pandai mempertahankan simpati pacarnya dan mengajaknya untuk berpegang teguh pada komitmen yang sudah dibina dan disepakati bersama demi masa depan yang lebih bahagia. Maka, gangguan dari luar tidak akan berpengaruh.
Tapi kalau mau aman, khitbah aja, atau langsung nikah. Kalau masih direbut juga, berarti yang merebut itu bukan manusia, tapi setan !!
A : Tatkala kedua pasangan tidak direstui orangtua?
S : Saya sudah katakan tadi, harapan mereka tidak perlu lebih dari 49%. Jauh sebelum pacaran, mereka sebaiknya melirik lebih dahulu orangtua maunya seperti apa. Kita memang sangat menyayangi pasangan kita, tapi hubungan itu akan lebih indah ketika orangtua juga menyayangi pasangan anaknya. Kecuali kalau si anak sudah tidak sayang lagi pada orangtuanya..!
Kalau sudah terlanjur berharap besar dan yakin hubungan itu adalah yang terbaik, maka berupayalah semaksimal mungkin untuk melunakkan hati orangtua dengan cara yang sebaik-baiknya. Dan jangan lupa banyak-banyak berdoa, insya'allah Tuhan mempermudah segalanya.
A : Pesan terakhir anda untuk para pembaca yang tengah berpacaran?
S : Berpacaranlah yang sehat; sehat hati dan sehat pikiran. Karena menyukai lawan jenis merupakan sesuatu yang lumrah dan manusiawi serta tak dapat dicegah datangnya. Oleh karenanya jangan diabaikan, tapi dibina dan dikukuhkan. Dan ingat, pacaran bukanlah sesuatu yang prioritas dalam hidup, sebab hidup bukan hanya untuk segumpal hati !!