Ngawur-nya Emansipasi Wanita
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.
Dalam UU KHI, istri adalah ibu rumah tangga, sedangkan di CLD KHI, istri setara dengan suami. Bagaimana menurut anda?. Demikian tanya seorang teman dalam inbox FB, 11 Oktober 2011 lalu. Sebetulnya, penulis sudah cukup puas dengan KHI. Adapun CLD KHI di mata penulis terlalu lebay dalam mewujudkan kesetaraan jender. Anyway, suami-istri harus sama-sama sepakat atas apa yang masing-masing lakukan. Jika suami setuju, kenapa tidak bila istri aktif berkarir. Tapi bila suami tidak mengizinkan, jangankan karir di dunia luar, puasa sunnah di dalam rumah saja tidak boleh tanpa seizin suami. Wallahu a'lam. Demikian jawab penulis dengan singkat.
Secara fisiologis, tidak dapat dipungkiri bahwa wanita adalah makhluk yang halus, lembut, sensitif, lunak, lemah, dan logikanya jauh di bawah kekuasaan perasaannya. Setiap bulan ia mengeluarkan darah yang banyak, dan pada saat darah itu tidak keluar lagi dengan sebab kehamilan, maka perutnya semakin membuncit, kemauannya makin aneh, dan emosinya makin meningkat, lalu pada akhirnya ia melahirkan bayi yang kemudian disusui, dibesarkan, dan dididik dengan fokus. Yang tidak memungkiri semua itu maka ia bukanlah manusia yang berakal sehat!.
Berbeda dengan laki-laki. Ia merupakan makhluk yang kuat, gesit, cepat bertindak, bijak berpikir, dan tabah berjuang mengatasi aneka kemelut dan kesulitan. Intinya, laki-laki dan wanita adalah dua insan yang sangat berbeda namun saling melengkapi dan membutuhkan sesuai kodrat dan kapasitasnya masing-masing. Pria umumnya lebih mengedepankan akalnya sehingga lebih bijak, sementara wanita cenderung mengedepankan emosinya. Namun dengan emosi yang menonjol itu, wanita patut menjadi ibu yang mana punya ikatan yang kuat dengan anak. Sebaliknya, dengan kelebihannya, laki-laki pantas menjadi pemimpin sekaligus menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya
Oleh sebab perbedaan itu, wajarlah jika tidak ada nabi/rasul dari kaum wanita, sebab kenabian/kerasulan bukanlah profesi sepele yang tanggung jawabnya ringan-ringan saja. Jika emansipasi wanita dan kesetaraan jender menjadi simbol kemajuan di Barat, maka Amerika saja belum pernah dipimpin seorang wanita sejak masa kepemimpinan presiden pertama, George Washington pada tahun 1789 sampai presiden ke-44, Barack Obama, belum ada satu presiden pun yang berjenis kelamin perempuan. Lantas apakah umat Islam dan negara-negara Islam harus dipimpin sewaktu-waktu oleh seorang wanita demi sebuah kata emansipasi dan kesetaraan?.
Negara-negara Barat seakan tutup mata dengan keroposnya sendi-sendi masyarakat mereka, karena tingginya angka perceraian, meratanya seks bebas, meningkatnya homoseksualitas (karena dilegalkan), kentalnya praktik rasial terhadap warga non kulit putih, dan lain sebagainya. Maka sungguh terlalu aneh bila masih dijadikan cermin oleh umat Islam!.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan di atas sangatlah natural dan tidak dibuat-buat oleh agama Islam. Mengapa Islam yang disalahkan ketika mereka bersikeras memperjuangakan kesetaraan itu?. Apakah kaum wanita tidak menerima takdir dan ingin menjadi manusia yang kekar berotot sehingga mampu mengerjakan yang berat-berat?. Apakah kaum wanita tidak bersyukur dan ingin mengemban tanggung jawab yang berlipat?. Silahkan berpendidikan yang tinggi dan berkarir yang sukses, Islam tidak pernah melarang semua itu. Tapi mengapa harus lupa diri sebagai makhluk yang tercipta dari tulang rusuk laki-laki bagian kiri?. Jilbab, warisan, poligami, talak, dan seterusnya, semua itu dikritisi dengan dalih diskriminasi. Sekalian saja operasi kelamin atau kembali ke masa jahiliyah dimana bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap tidak berarti sama sekali!.
Manusia berjenis kelamin wanita telah eksis sejak dahulu kala. Mengapa gerakan emansipasi baru lahir tahun-tahun ini saja?. Apakah wanita dulu tidak berani bertindak dan wanita sekarang berani?. Tidak seribu kali tidak. Yang benar adalah wanita dulu menikmati tugas-tugasnya di dalam rumah dan menyadari kelemahannya dibanding laki-laki sehingga taat pada suami lalu iapun dilindungi serta dikasih sayangi. Sedang wanita sekarang tidak lagi menikmati dunia aslinya dan penasaran dengan dunia lain di luar. Kesadarannya hilang sebagai wanita yang tak sekuat laki-laki. Berawal dari keinginan menjadi wanita yang setara dengan laki-laki, kemudian merasa sama dan berani melawan, dan akhirnya justru merasa lebih tinggi dan harus dituruti. Akibatnya, ia tak lagi pantas diberi kasih sayang dan perlindungan yang layak, sebab ia bukan lagi wanita asli. Itupun turut dikritisi!.
Wanita dulu merasa bebas di dalam rumah sehingga tidak perlu menuntut pembebasan lagi. Sedang wanita sekarang di luar pun merasa terikat dan terkekang, patutlah dia ribut menuntut yang macam-macam dan mencari dunia lain yang juga tidak realistis!.
Wanita dulu punya harga diri yang sangat mahal. Susah didekati dan didapatkan. Kalau sudah dapat maka otomatis disayang dan dilindungi dengan sebaik-baiknya. Sedang wanita sekarang murahan dan gampangan. Kalau sudah dapat maka mudah disiksa, dipermainkan, lalu ditinggalkan.
Wanita dulu sibuk beraktifitas di rumah bersama keluarga. Laki-laki pun sibuk bekerja di luar untuk menghidupkan keluarga. Wanita sekarang bebas berkarir dan bekerja apapun dan di manapun. Tanpa disengaja, jumlah pengangguran dari kaum laki-laki pun semakin bertambah. Tak lama kemudian, laki-laki lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah!.
Wanita dulu tidak keluar rumah kecuali untuk tujuan penting, seizin suami, dan di bawah pantauan suami. Wanita sekarang bebas bergaul dengan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja tanpa sepengetahuan suami. Tanpa disengaja, berawal dari hilangnya kesadaran, akhirnya hilang pula rasa malu bahkan kehormatan. Perselingkuhan mudah sekali terjadi karena fasilitas yang sudah memadai dan tersedia selengkap-lengkapnya. Jumpa di kantor, cafe, kuliah, atau mana saja, kemudian tukar nomor HP, akhirnya janjian di hotel. Kurang apa coba fasilitasnya?.
Wanita dulu benar-benar di bawah laki-laki, baik secara akademis, finansial, dan lain-lain, maka pasti taat pada suami, dan suami pun baik terhadap istri. Wanita sekarang tidak lagi menghormati laki-laki karena merasa sudah setara atau bahkan lebih tinggi. Laki-laki pun berontak, mengeluh, dan hilang rasa cintanya pada istri. Harmoniskah rumah tangga bila suami dibiayai lalu diatur-atur, disuruh-suruh, dan dimarah-marahi?. Jikalau talak pun sudah ada di tangan istri, maka perceraian bisa saja terjadi di malam pertama, karena "mood tak teratur dan emosi tak terkontrol"-nya istri!.
Yang lebih memprihatinkan, ada wanita yang tidak mau menyusui, hanya mau melahirkan lewat jalan operasi demi menjaga bentuk tubuh. Sedemikian rusaknya pandangan ini hingga anak pun dianggap menghambat kemajuan karir!.
Oh indahnya bila wanita muslimah sadar diri dan patuh pada tatanan Tuhan yang murni dari doktrin-doktrin emansipasi. Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui lagi Maha Menyayangi lah yang menjamin ia akan hidup nyaman, bahagia, dikasih sayangi, dan dilindungi. Sedangkan tokoh-tokoh emansipasi itu tidak dapat menjamin diri mereka sendiri, apalagi orang lain. Jika tokoh itu dari kaum wanita maka ia wanita yang tidak bersyukur, keberatan dengan ketetapan Tuhan, dan salah kaprah memahami konteks agama. Dan jika tokoh itu dari kaum laki-laki maka ia laki-laki bejat yang sok peduli. Ia sebetulnya ingin mendapatkan wanita dengan mudah karena sudah murah dan gampang!.
Walhasil, Islam sudah menempatkan wanita di posisi yang sangat mulia. Islam telah memerdekakan wanita dari segala belenggu yang menyiksa. Justru propaganda emansipasi itulah yang mengekang wanita dalam ruang nista. Namun kenyataan itu belum disadari saja oleh banyak wanita. Resapiah wahai putri-putri Hawa!.