Ungkapan Yang Masih Terpendam
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.
Sudah lama aku mengenalnya. Sudah lama hatiku menatapnya. Sudah lama simpati ini membentangkan sayapnya. 20-an tahun lamanya aku hidup di dunia, baru kali ini cintaku menemukan sejatinya. Ia seorang gadis sederhana, namun kesempurnaanya begitu terasa di dada. Ia cerdas dan berhati mulia. Ia berwatak keras tapi ada kelembutan menyentuh jiwa. Namun, ada yang aneh dan mengherankan. Sudah lama rasa ini terpendam, dan sampai detik ini juga belum mampu untuk kuungkapkan. Aku takut. Aku malu. Diriku bahkan kehilangan segala kepercayaan.
Sesaat aku sadar, hatinya sudah milik orang lain. Milik seorang teman. Biarlah rasa aneh ini lenyap dengan sendirinya, sampai tiba saat kumenemukan gadis yang sanggup kuterpa. Akupun memohon pertolonganNya. Tapi entahlah, wajah ayunya justru hadir dalam mimpi-mimpiku. Bisikan hatinya seakan memanggil namaku. Sayang, aku belum juga sanggup melangkahkan hati walau sejengkal. Aku bertanya-tanya, dapatkah hatinya mendengarkan walau dari jauh? Dapatkah hatinya merasakan teriakan hatiku walau sekedar terkaan? Dapatkah ia menerima cintaku tatkala kuberanikan diri tuk mengungkapkan? Sungguh, segudang tanda tanya yang belum juga tercurahkan.
Rasa takut ini belum pernah kurasakan. Menatap matanya pun aku tak kuat menahan. Aku sempat melewati langkah-langkah yang salah. Mungkin ia terbawa perasaan. Namun, karena terlanjur salah, ia menjauh, kecewa bahkan menghilang. Aku sedih. Aku kesal. Aku bahkan tak tahu apa yang telah kulakukan. Dan aku bingung, detik-detik kedepan, apa lagi yang harus kulakukan. Namun sungguh, rasa ini tak dapat sirna. Rasa ini makin bersemayam. Rasa ini makin bertanya-tanya, diakah orangnya? Ataukah sekedar godaan yang harus kukalahkan?!
Aku mendekati seseorang demi seseorang. Mungkin sebuah pelampiasan. Mungkin pula sekedar hiburan. Atau karena cuaca hati yang sudah lepas kontrol ataupun rasa cinta yang sudah lama terpendam. Sakit, tapi terus kutahan. Sayang seribu kali sayang, dia belum juga hilang. Dia masih melekat di hati dan perasaan. Aaahhh... tolong hamba, Tuhan!
Akhirnya, aku bertekad untuk pulang. Pulang sejenak ke kampung halaman. Kiranya disana kutemukan jawaban. Kiranya hati ini terhibur oleh berbagai kesibukan. Kiranya ada gadis lain yang sudi menggantikan. Satu pertanyaan terakhirku, tatkala ia masih kurindukan, dan tak ada yang siap menggantikan, mampukah aku memburu dan menjinakkan? Mampukah aku menerkam hatinya dengan cakar asmara yang lebih tajam? Ataukah diriku masih takut dan banyak pertimbangan? Masih menahan dan memendam?!
Aku bahagia kau bersama teman baikku. Tapi aku sedih kau belum mendengar isi hatiku. Kadang aku takut pada temanku itu. Kadang takut pada teman-temanmu. Kadang pula takut mengganggu hatimu. Walau demikian, izinkanlah rasa ini terungkap -untuk pertama kalinya- melalui ketikan jemari. Dalam coretan ini dan sebelum aku pulang, aku memanggilmu wahai gadis yang semoga saja mendengarkan. Aku mencintaimu. Aku mengharapkanmu sebagai isteri dambaan. Isteri pujaan satu-satunya di dunia dan pasca kebangkitan. Bantulah aku mengungkapkan, meskipun nanti kau ternyata menolak dan tak berkenan !!!