Sesepuh al-Azhar Yang Baik Hati
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

Prof. Dr. Muhammad Rasyad Abdul Aziz Dahmisy, guru besar filsafat dan mantan Dekan Fakultas Studi Islam dan Arab Universitas al-Azhar Dusuq Mesir ini sangat penyayang terhadap para mahasiswanya. Penulis merasa sangat beruntung karena sempat diajari dan dibimbingnya. Mulai dari menentukan judul tesis yang tepat, lalu menyusunnya dengan cepat, kemudian menghadapi para penguji dengan mudah, sampai melewati sidang dengan singkat dan puas, semua jasa baik itu jarang ditemui pada dosen-dosen Universitas al-Azhar, namun ternyata mudah didapati dari seorang dosen senior sekaliber Prof. Dr. Muhammad Rasyad Dahmisy. Yang lebih langka lagi, penulis sempat diantarnya ke suatu tempat dengan mobil pribadinya dan dia sendiri yang mengemudi!.

Prof. Dr. Ibrahim Abdusysyafi selaku penguji tesis penulis, yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Studi Islam dan Arab Universitas al-Azhar Kairo, pun mengaku sebagai muridnya dan meraih gelar professor atas kontribusi dan dukungannya. Di antara kebaikan hatinya kepada penulis adalah ketika penulis baru beberapa minggu saja menyusun tesis dan menyetor sepertiganya untuk dikoreksi, ia menegur dengan tegas: "Kamu kemana saja selama ini? Seharusnya kamu sudah menyetor dua pertiganya kepada saya. Kamu harus cepat selesai dan pulang melepas rindu dengan keluarga dan masyarakatmu". Karena perhatian dan motivasi dahsyat itu, tidaklah aneh bila tesis setebal 320 halaman dapat rampung dalam tempo tiga bulan saja.

Sebagai guru besar filsafat dan tasawuf di Universitas al-Azhar dan universitas-universitas lainnya, maka menurutnya tasawuf senantiasa berdiri di barisan pertama dalam rangka membasmi filsafat materialis dan pemikiran ateisme di Timur. Bahkan tasawuf lah yang menjadi pemeran utama dalam skenario penyebaran agama Islam di banyak negara, karena orang-orang tasawuf berhasil mendekatkan hati kepada agama Allah melalui keseharian dan perilaku yang mulia serta kehidupan sederhana yang betul-betul mencerminkan Islam secara esensial dengan kemudahan dan keindahannya. Pernyataan ini berulang kali diungkap dalam bukunya Muhadharat fi at-Tashawwuf al-Islami yang menjadi kurikulum mata kuliah tasawuf di Universitas al-Azhar.

Tak terkecuali di hari sidang tesis penulis, sesepuh al-Azhar itu membukanya dengan mengutip pernyataan Imam al-Ghazali dari kitab al-Munqidz min adh-Dhalal bahwasanya perjalanan kaum sufi adalah perjalanan terindah menuju Allah Swt. dan tidak ada kehidupan di muka bumi ini semulia dan sebahagia kehidupan mereka, sebab cahaya yang terpancar dari mereka adalah cahaya kenabian dan tiada sinaran cahaya yang lebih cerah nan terang daripada cahaya Rasulullah Saw.

Di saat sidang berlangsung, tidak sedikit kritikan dan pertanyaan yang dilontarkan para penguji ke penulis, namun sang pembimbing yang baik hati itu setia menangkis dan menuntaskan segala tanda tanya dan tanda seru, bak pengacara hebat yang mampu menundukkan jaksa dan hakim tanpa satu katapun terucap dari lisan terdakwa. Lebih-lebih tesis penulis mengangkat tema yang sangat sensitif dan cukup rumit dengan sebuah studi kritis analisis, sudah barangtentu tak semudah metode-metode lain yang laris dipakai mayoritas mahasiswa pascasarjana di Mesir, seperti studi komparatif (perbandingan), tahqiq (penelitian), tematik, historis, deskriptif, evaluatif, dan lain-lain.

Walhasil, lahirlah tesis penulis yang bertajuk al-Inhirofat al-Mansubah ila ash-Shufiyyah fi Mizan asy-Syari'ah - Naqd wa Tahlil (Penyimpangan-Penyimpangan Yang Dituduhkan Kepada Kaum Sufi dalam Perspektif Syariat - Kritik dan Analisa) dengan meraih predikat Cumlaude, lalu dibedah sekaligus di-launching oleh Ketua JATMN PCI-NU (Jam'iyah Ahli Thariqah Mu'tabarah Nahdliyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama) Mesir, KH. Shiddiq Fathoni, SS. kemudian pada akhirnya diterbitkan oleh Dar Jawami'ul Kalim Kairo dengan judul barunya yaitu ar-Rudud al-Mardhiyyah 'ala Munkiri as-Sadah ash-Shufiyyah (Sanggahan-Sanggahan Yang Diterima Atas Musuh-Musuh Kaum Sufi). Terima kasih tak terhingga penulis haturkan kepada Prof. Dr. Muhammad Rasyad Dahmisy, karena penulis yakin, tanpanya, tesis/buku tersebut -sebagai karya ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan- sulit diraba wujudnya di atas muka bumi ini!.

Kembali