Cinlok Masisir Menurut Masisir *
Wawancara: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.

Mahaguru penulis pernah mengingatkan: "Nasib anak cucumu di akhirat nanti, telah tercatat dahulu kala di papan azali, apalagi sekedar siapa jodohmu di dunia ini. Jangan bingung-bingung, sudah ditentukan sebelum kau lahir meniduri permukaan bumi". Peringatan itu sungguh membuat penulis tersenyum damai. Penulis yakin, liku-liku hidup ini tak seberat yang selalu dirasai.

Sesejuk apapun wejangan itu merangkul nurani, ikhtiar untuk mencari yang terbaik belum juga terhalangi. Karena manusia masih mukhayyar sejauh ia mampu dan mengetahui, maka suratan takdir pun tak lepas dari kekuasaan mutlak Sang Ilahi. Sungguh, betapa Ia kuasa menghapus, mengubah ataupun menetapi.

Penulis harus mencari dan mencari, walau akhirnya nanti hanya yang tersurat lah yang akan menemani, namun keniscayaan hidup yang berwarna-warni ini, tetap harus dijalani.

Ketika wejangan sang guru itu semakin diresapi, maka lahirlah sebuah prinsip: berjuanglah tanpa harus berambisi, serius tapi santai, relax tapi pasti!

"Umumnya, wanita itu dinikahi karena empat perkara: Sebab hartanya, garis keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang teguh / loyal agamanya, niscaya kamu akan bahagia". Hadits yang sudah tidak asing ini menyimpulkan bahwa untuk menyiapkan wanita ideal pra nikah tidak harus mempertimbangkan kekayaan, garis keturunan dan kecantikan, akan tetapi keagamaan adalah prioritas. Banyak wanita kaya tapi rakus. Banyak wanita lahir dari keluarga mulia namun ia sendiri bejat dan tak bermoral. Begitu juga banyak wanita jelita namun kepribadiannya sungguh menjijikkan.

Namun, di hadits lain akan ditemukan bahwa Islam juga masih mengutamakan wanita yang mempunyai garis keturunan yang mulia. Artinya ia lahir dari keluarga yang baik, dimana watak dan didikan orangtua biasanya mempengaruhi keseharian anaknya. Di hadits yang lain pula, terdapat pelbagai anjuran untuk mencari wanita yang elok, perawan dan subur, karena ia akan menambah nilai khas pada kebahagiaan dan kepuasan seorang suami sekaligus menjaganya dari poligami atau main serong -wal-iyadzu billah-.

Bagi penulis sendiri, implementasi terhadap anjuran-anjuran di atas cukup rumit, terlebih pada zaman penuh debu dan kabut seperti sekarang ini. Sudah banyak wanita yang telah mencoba memasuki hati penulis, namun suratan nasib terlanjur menggariskan ketidakjodohan. Bahkan sampai saat ini belum ada yang nampak sebagai calon permaisuri yang ideal. Mungkin saja karena penulis teramat egois dalam hal menentukan tipikal seorang calon isteri. Tapi di sisi lain, penulis rasa inilah yang memang harus dilakukan oleh seorang yang mengidamkan masa depan yang lebih gemilang.

Saat ini, hati penulis mulai terketuk, mulai terserukan, oleh sebuah bisikan yang semakin bersenandung, dimana bisikan itu datang dari arah yang tak pernah disangka-sangka. Selepas tiba di Timur Tengah dan usia penulis sudah mendekati 25 tahun, penulis mulai serius menghadapi liku-liku pubertas, penulis mulai berfikir dewasa untuk membangun rumah tangga bahagia. Dari itu, perjalanan mencari jodoh masih belum berakhir, penulis masih tetap menelusuri, kiranya jodoh itu ada di sini!

Komunitas mahasiswa Indonesia di negeri Mesir (yang lebih dikenal dengan sebutan masisir) tentu tak lepas dari pencarian jodoh, hanya saja nuansa yang mewarnai fenomena tersebut cukup khas dan unik. Setelah mencoba mencicipi sedikit rasa cinta yang tumbuh di Mesir, dan setelah berkonsultasi dengan sejumlah ahli, maka banyak hal menarik yang dapat dikupas dan disimpulkan. Mari kita simak berikut ini!

Ust. Zainul Muttaqin, mahasiswa al-Azhar Kairo fakultas ushuluddin jurusan hadits yang saat ini menjabat sebagai penasehat PwKNW, berkesimpulan bahwa cinlok (cinta lokasi) yang terjalin di Mesir umumnya dipengaruhi banyak faktor, di antaranya pergaulan bebas yang terjadi dalam lingkungan yang terbatas. Walau tak sesempit peti vampire, namun cuaca di Mesir acap kali mendukung kawula jomblo untuk segera memikirkan pernikahan, dan hal itulah yang menjadikan pernikahan dini begitu marak di Mesir.

Ketika penulis menanyakan sebab keterlambatan sebagian masisir dalam hal pernikahan, Ust. Taqin menjawab bahwa justru bagian tersebut adalah bagian yang patut dibanggakan, karena mereka masih mampu bersabar dan berfikir panjang. Mereka sadar bahwa kampung halaman adalah lokasi yang tepat untuk mencari pasangan. Mereka tidak mau dihantui dan digoda oleh ketergesa-gesaan yang sekian persen dapat membawa penyesalan!

Cukup senada apa yang diungkap Ust. Husni Hidayat, mahasiswa fakultas sastra yang telah menyusun banyak buku berkualitas, ia mengumpamakan bahwa mencari calis (calon isteri) di Mesir seperti memancing ikan di kolam, sementara mencari calis di Tanah Air laksana memancing ikan di lautan! Tentunya di Indo lebih banyak pilihan, kalau di sini, ya itu-itu aja!

Sedangkan Nihayatul Husna, mahasiswi syari'ah yang gemar menulis cerpen, ia cukup berani berkritik, menurutnya, mahasiswa yang nikah di Kairo cukup mengecewakan, banyak hal yang lebih penting yang mereka lupakan. Ketika sang isteri sudah hamil, dengan seenaknya saja atau sudah melalui beberapa pertimbangan sang suami membiarkan isterinya melahirkan sendiri tanpa mendampingi di sisinya. Dengan alasan yang sangat klasik, gak ada duit lah, masih ujian lah, nunggu natijah lah, dll. Di saat seperti ini wanita mana yang tidak ingin suaminya menemaninya ketika ia sedang memperjuangkan hidup matinya demi anak yang telah dikandungnya!

Beda halnya ketika Ust. M. Lailatul Qodri berkomentar, mahasiswa syari'ah yang sudah belasan tahun di Mesir dan pernah menjabat sebagai bendahara PCI-NU Mesir itu menyatakan: "Bagi saya, mencari calis ideal di Mesir itu gampang-gampang susah!". Begitu juga dengan Ust. Ahmad Adib Amrullah (Triple A), gitaris utama D'Sukma Band yang sebentar lagi meraih gelar licence, baginya, sifat cemburu di Mesir nyaris tak tertahan lagi, mungkin disebabkan minimnya jumlah mahasiswi anggun di Mesir sehingga persaingan cinta sesama mahasiswa menjadi cukup marak, fenomenal dan serius.

Di tengah-tengah polemik di atas, lahir pula sebuah biro jodoh yang cukup laris di kalangan masisir, tak heran karena ia bernuansa agamis dan digagas oleh senior-senior berpengaruh. Namun, bagi Kupret el-Kazhiem, mahasiswa syari'ah al-Azhar, lembaga biro jodoh bernama Ruhama' gagasan politikus-politikus PKS tersebut cukup curang! "Siasat antek PKS Mesir untuk menguasai lini pernikahan juga terwujud dalam dukungan mereka yang menukangi sebuah lembaga fasilitator yang telah berdiri beberapa tahun sebelum TPIM, dengan nama Ruhama'. Biro jodoh bernuansa agamis tersebut mulai sering digunakan oleh banyak murabbi PKS untuk menawarkan para anggota wanitanya demi meraih sebuah pernikahan, apalagi yang paling miris saya dapatkan, adanya statement bahwa dengan cara pernikahan melalui model Ruhama' tersebut adalah pernikahan yang mawaddah wa rahmah dan telah mengikuti sunnah Rasul. Padahal jika ditilik lebih dalam, nampak adanya kepentingan dari para atasan untuk memasang-masangkan atau menjodoh-jodohkan antara si A dan si B." tegas Kupret.

"Sebut saja misal si A adalah seorang wanita, ketika ia mengajukan diri kepada murabbinya tentang pernikahan, maka si murabbi tadi akan meminta lembaga Ruhama' untuk mencarikan pasangan yang sesuai, ironisnya dari fasilitator itu sendiri kadang muncul ungkapan telah mahjuzah atau telah dipesan. Padahal kalau memang Ruhama' adalah sebuah lembaga yang adil dan fair seharusnya mengerti jika yang namanya proses ta'aruf adalah bukan sudah pasti akan menikahi si wanitanya. Dalam proses ta'aruf ada yang dinamakan atsar atau menolak untuk menikah, terserah dari pihak wanita atau prianya. Maka dari itu tidak sepantasnya ada kata telah dipesan tadi. Kalau memang bertujuan menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran, seharusnya ketika si wanita tadi telah siap untuk menikah, dan ternyata ada beberapa pria yang ingin berta'aruf dengannya, maka beritahu saja secara terus terang, dan biarkan si wanita berkesempatan untuk berta'aruf dan menentukan di antara pria-pria tadi salah satu siapa yang ia pilih." tambahnya.

"Praktek ketidakjelasan non sportif dalam tubuh Ruhama' ini adalah adanya ikut andil dari orang yang berpangkat murabbi. Sengaja ia membisikkan kepada Ruhama' untuk berkata telah dipesan, karena murabbi itu telah menjodohkan wanita anak bimbingannya dengan pria lain yang menurutnya sesuai dan cocok. Ketika menemukan peristiwa ini saya sempat berkomentar bahwa hak-hak murabbi tadi telah jauh melewati batas orangtua wanita itu sendiri. Namun tidak dapat dipungkiri jika hal ini memang ada dan terjadi dalam dunia masisir. Usaha PKS Mesir untuk mencampur adukkan wilayah publik dan privasi makin gencar, menguasai lini setiap pergaulan mungkin menjadi tujuan utama mereka." tuturnya prihatin.

Mungkin bagi kaum mahasiswi, kata Ust. Taqin, lokasi pencarian itu lebih tepat dan cepat di Mesir, sebab level "Lulusan Azhar Mesir" yang akan mereka raih menjelang pulang nanti cukup tinggi, sehingga dipandang kurang layak / sepadan jika mendapatkan suami yang sederhana dan pendidikannya masih dalam negeri. Bahkan tegas Ust. Taqin: "Solusi terbaik bagi cewek-cewek yang susah mendapat jodoh di Indonesia adalah datang ke Mesir, pasti cepat dapat karena saingan dikit dan cowok-cowok banyak yang kebelet nikah! Dapatnya azharian lagi! Gimana gak beruntung?! Meski cowoknya yang rugi !!".

Sedangkan bagi kaum mahasiswa, tentunya wanita idaman mereka adalah yang level profilenya lebih rendah, ditambah dengan keuletan, kerajinan, kepatuhan, etika yang mulia dan lain sebagainya. Bukan yang sombong, cerewet, easy going, playgirl, susah diatur dan liar seperti yang banyak mereka saksikan di Mesir! "Oleh salah satu latar belakang tersebut, banyak juga karakter mahasiswi Indonesia di sini yang memanfaatkan atau mengandalkan keanggunan yang dimiliki dihadapan teman-teman cowok mereka. Terlebih pilihan mereka sangat banyak, sementara saingan mereka amat sedikit! Tak jarang juga TKW yang turut mendekati mahasiswa. Dalam kondisi seperti itu, meskipun kriteria idaman para cowok tidak sembarangan, namun rasa kebelet nikah yang menggebu-gebu di hati membuat godaan-godaan itu menjadi sering sukses!" demikian ungkap dan analisa penasehat PwKNW Mesir.

Salah satu dari sekian bukti ketergesa-gesaan dan ketidaksabaran tersebut ialah, maraknya pernikahan yang berlangsung di lokasi yang sama, jauh dari kehadiran orangtua, sanak saudara dan semua keluarga, teman-teman, guru-guru, sesepuh-sesepuh serta masyarakat umum di kampung halaman sana, seolah tidak memperdulikan mereka dan hanya memikirkan kepuasan sendiri saja! Tuntutan keadaan selalu dijadikan alasan, ah yang benar aja !!

Meski jodoh tetap di tangan Tuhan, Ust. Zainul Muttaqin masih mempertahankan pendiriannya bahwa pencarian jodoh bagi kawula jomblo di Mesir akan lebih garantif bila dijalankan secara serius di Indonesia saja, bersama tuntunan keluarga dan nanti pada waktunya. Kalau di sini, pilihan kita sangatlah terbatas, soal kualitas pun yang di kampung halaman belum tentu kalah! Ust. Taqin juga menambahkan bahwa cewek yang cocok di Mesir belum tentu akan cocok juga sesudah pulang ke Indonesia, adapun yang sudah cocok di Indonesia, pasti cocok juga dan mudah diatur di Mesir.

Sewaktu masih merantau di Mesir dan jauh dari orangtua, konsentrasi menuntut ilmu untuk kesuksesan studi, organisasi serta peningkatan trio quotient jauh lebih prioritas dan utama. Sabar dan banyak-banyaklah berdo'a. Sungguh naif bila akar dipakai sedang rotan belum dicari juga!

Bagi penulis sendiri, dimanapun dan dalam hal apapun, setiap orang punya pengalaman dan persepsi sendiri-sendiri. Interview subyektif dan eksklusif di atas hanyalah bagian yang cukup signifikan dari sejumlah pengalaman dan persepsi tersebut. Kesimpulan, penilaian dan komentar, sepenuhnya diserahkan ke hati pembaca!

_______________________________________
* Diketik di Kairo pada hari Senin 1 Ramadan 1429 H.

Kembali