Kebijakan Intelejen Mesir Vs Kebiadaban Ikhwanul Muslimin
Wawancara AzIzNaWaDi bersama Ust. Husni Hidayat, penulis buku "Tasawuf Revolusioner"
Kasus penangkapan 4 mahasiswa Indonesia di Mesir pada tanggal 29 Juni 2009 yang lalu, begitu memprihatinkan kita semua. Apa komentar anda?
Pertama, sebagai seorang mahasiswa Mesir sekaligus penghuni rumah yang berdekatan dengan mereka, saya sangat menyesalkan kejadian tersebut. Sebab, bila dianalisa secara de facto dan de yure, mahasiswa tersebut memang pantas untuk dituduh. Strategi dan tindakan yang diambil oleh intelejen Mesir tidak dapat disalahkan begitu saja. Iya, kita kan tau mereka itu intelejen sebuah negara adidaya yang terkenal dengan sejuta mata-matanya. Tidak mungkin mereka bertindak gegabah dan asal tangkap. Sementara bukti-bukti pun menunjukkan adanya tanda-tanda fundamentalisme, radikalisme dan perlawanan terhadap keberadaan pemerintah Mesir. Hal ini ditengarai dengan adanya literatur buku-buku dan situs-situs radikal yang acapkali mereka telaah di dalam TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Bisa anda jelaskan lebih spesifik mengenai gerakan-gerakan fundamental dan radikal di Mesir khususnya dan di dunia umumnya?
Secara singkat, berdasarkan literatur yang telah saya kaji, dan pemaparan pakar-pakar di Mesir serta Timur Tengah pada umumnya, pemahaman yang fundamental terhadap sebuah keyakinan akan melahirkan sebuah gerakan yang radikal, antipati terhadap pihak lain, terorisme, kebiadaban serta pelanggaran HAM. Dr. Ali Muqallid dalam bukunya "al-Ushuliyyat" menggaris bawahi bahwa gerakan radikalisme lebih banyak dilahirkan oleh orang-orang Islam yang salah memahami akan keindahan ajarannya. Dalam ranah kemesiran, sebenarnya tidak ada faktor yang mendukung kebiadaban tersebut, sebab secara tekstualisasi kitab suci dan kontekstualisasi ajaran Islam di negeri seribu menara ini, boleh dikata Mesir merupakan negara yang aman, tentram, damai dan sentosa. Bila terjadi pemahaman yang fundamental terhadap ajaran sebuah agama di negeri ini, berarti terdapat kepentingan dan campur tangan pihak lain untuk mencabik-cabik keindahan keberagaman yang ada. Semua aliran keagamaan yang terdapat di Mesir serta penduduk negeri ini menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian.
Selama ini setiap kekerasan diidentikkan dengan ulah Ikhwanul Muslimin. Bagaimana pendapat anda?
Saya memulai titik tolak tersebut dengan perkataan Bung Karno; JAS MERAH (Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah). Berdirinya Dinasti Fathimiyah, Mamalik hingga masa Muhammad Ali Pasha dilatarbelakangi oleh sebuah hibridasi antara pemahaman keagamaan dengan kepentingan politik tertentu. Kait kelindan antara keduanya merupakan sebuah keniscayaan sejarah. Sebuah dinasti, daulah atau negara memiliki ideologi tertentu. Fathimiyah lebih cenderung kepada Syi'ah, Mamalik dan Muhammad Ali Pasha mengkiblat ideologisasi keislaman nizomiyah yang ada di Baghdad. Ideologi klasik tersebut sudah tidak waktunya lagi untuk bersanding mesra dengan kokohnya sebuah negara. Maka, pada era Gamal Abdul Nashir tercatalah sebuah ideologi baru yang berskala internasional yang disebut dengan nasionalisme. Akar-akar nasionalisme (nation state) merupakan kesepakatan para ilmuwan dan negarawan dunia untuk menyatukan sebuah keberagaman menjadi satu kesatuan yang utuh dalam sebuah negara. Gamal Abdul Nashir mempunyai jasa besar terhadap berdirinya NKRI, hal ini membuktikan bahwa semangat nasionalisme Nashir tidak hanya berskala lokal, tapi juga bersifat global. Tak heran bila dihapusnya piagam Jakarta (kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya di Indonesia, red) merupakan keputusan final founding fathers (para pendiri NKRI). Al-Qur'an menyebutkan "Kay la yakuna dulatan baina al-aghniya'i minkum" (QS. al-Hasyr: 7), artinya, Islam tidak membatasi bentuk sebuah negara selama mengedepankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan serta memerangi kezoliman, maka keberadaan nasionalisme merupakan bentuk dari kedaulatan yang diridhoi oleh Allah dan RasulNya. Kaidah fikih mengatakan: "Tasharruf al-imam ala al-ra'iyyah manuthun bi al-mashlahah" dengan kata lain, seorang presiden, raja, perdana menteri atau seorang pemimpin sebuah negara adalah seorang imam kenegaraan. Pada tahun 1939 di Banjarmasin, muktamar NU memutuskan bahwa, taat kepada pemerintahan Hindia Belanda juga merupakan taat kepada imam kenegaraan atau disebut juga dengan terma waliyyul amri dharuri bi al-syaukah sebagaimana tercantum dalam kitab "Bughyah al-Mustarsyidin".
Sayangnya, nasionalisasi dan nasionalisme sering diidentikkan dengan negara kafir. Apalagi setelah berdirinya Ikhwanul Muslimin di Mesir yang dipelopori oleh Hasan al-Banna dan menganut faham wahabisme (Islam fundamentalis). Bau kekerasan dalam diri Ikhwanul Muslimin (IM) dicium oleh Nashir, maka tak heran bila ia dibunuh secara sadis melalui salah satu intelnya. Sikap tegas Nashir tersebut memiliki argumen yang tepat, karena IM ibarat sebuah anggota tubuh yang terkena penyakit kronis dan dikhawatirkan akan menular pada anggota yang lain. Oleh sebab itu, tidak ada jalan lain kecuali amputasi. Tesis Nashir ini dibenarkan dengan fakta-fakta yang terjadi setelahnya. Seperti perlawanan Mursyid Am IM, Hasan Hudaibi terhadap pemerintah, Sayid Quthub melalui karyanya "Ma'alim fi al-Thariq". Bahkan secara tegas, Quthub mengklasifikasi masyarakat Islam menjadi dua; masyarakat yang pro dengan negara Islam sebagai masyarakat Islami, dan masyarakat yang kontra terhadap berdirinya negara Islam sebagai masyarakat jahiliyah.
Menurut pengalaman anda, sejauh mana sepak terjang IM dewasa ini?
Pada tahun 2005, tatkala masih mengakrabi teman-teman Afkar, kami pernah melakukan sebuah terobosan untuk mengenal IM langsung melalui Mursyid Am-nya. Namun pada waktu itu sedang terjadi gejolak kondisi politik yang tidak stabil. Akibatnya, usaha kami untuk bertemu Mahdi Akif selaku Mursyid Am IM tidak dapat terwujud, sebab Departemen Pertahanan dan Keamanan Mesir menyarankan kepada kami untuk tidak campur tangan terhadap keruwetan yang sedang terjadi. Padahal kami ingin mendengar secara langsung sikap Mahdi terhadap pemerintahan Husni Mubarak. Dengan kata lain, sebenarnya ada upaya kudeta terselubung dari sang mursyid tersebut. Kenyataan ini ditandai dengan semangat perlawanan aktifis-aktifis IM, baik dari negara Mesir maupun mahasiswa asing yang sedang belajar di Mesir. Seperti Dr. Hay Farmawi yang sempat menghujat sistem kenegaraan. Bahkan keberanian tersebut mengakibatkan dirinya masuk dalam daftar blacklist. Begitu juga dengan capres yang dielu-elukan oleh IM, dia adalah Aiman Nur, sang tokoh kontroversial, sarat KKN dan ambisius. Bahkan ide-ide gilanya sempat menyulut amarah kaum muslimin yang ada di Mesir. Seperti janjinya, apabila ia terpilih sebagai presiden, maka dia akan menghancurkan masjid Saidina Husain yang dianggap sebagai pusat bid'ah dan syirik. Tak heran bila pecinta Ahlul Bait pun melawannya dengan nada-nada cinta melalui muktamar sufi internasional yang digalang sebagai dukungan terhadap Husni Mubarak. Sebab Husni Mubarak dianggap sebagai tokoh pengayom keberagamaan dan warna-warni keislaman di negeri kinanah ini.
Di sisi lain, saya juga sering berinteraksi langsung dengan aktifis-aktifis IM yang bergerak di bawah tanah, terutama mahasiswa Indonesia. Memang, mereka merasa mendapatkan kepuasan tersendiri, seolah-olah telah melaksanakan Islam kaffah, misalnya memanjangkan jenggot, memakai celana di atas mata kaki, menghitamkan jidat, serta memakai cadar bagi seorang muslimah. Mereka memahami bahwa itulah ajaran Islam yang sesungguhnya. Padahal sebenarnya fenomena tersebut tidak lain hanya sebuah simbol keagamaan. Ketika saya mencoba mengkritisi mereka melalui diskusi dan beberapa counter mengglitik, seperti membikin anekdot atau sekedar karikatur dalam sebuah media untuk mengkritisi mereka, kok malah mengklaim kita dengan sesat dan menyesatkan. Padahal, saya ingin menawarkan substansi atau roh ajaran Islam yang kurang diminati oleh mereka. Dari respon negatif mereka terhadap saya, maka tidak ada jalan lain kecuali hanya membebaskan mereka berekspresi sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing, walaupun sebetulnya sangat beresiko terhadap keselamatan mereka sendiri. Simbol-simbol keagamaan tersebut dianggap sebagai sebuah perlawanan terhadap pemerintah Mesir. Slogan "Islam adalah solusi" oleh IM, membuat ketidaknyamanan mereka sendiri, karena ada keterkaitan antara terorisme di Mesir, IM dan Hamas di Palestina. Sebenarnya terdapat kepentingan terselubung secara materi dari gerakan-gerakan tersebut, seperti penjualan obat-obat terlarang dan penyebaran ajaran fundamentalisme yang dibiayai oleh Barat ataupun pemerintah Saudi Arabia. Mungkin pendapat saya kurang dipercaya oleh sebagian orang yang tidak mengetahui inti permasalahannya. Apabila ingin kejelasan, silahkan anda mengkaji politik IM, Hamas serta antek-antek fundamentalisme secara komprehensif dan obyektif. Banyak literatur yang mengupas tentang itu, seperti tulisan Adil Homudah di tabloid "el-Fagr", Prof. Dr. Abdul Wahhab Mashiri serta pakar-pakar lain. Sebenarnya, saya sendiri sempat diinterogasi oleh intel Islamic Mission City tatkala hendak menempelkan pamflet seminar tentang Ahlussunnah wal Jamaah yang diselenggarakan oleh Said Agil Siraj Center. Mereka (para intel, red) mengira terma Ahlussunnah yang akan kita kaji berujung pada fundamentalisme dan perlawanan terhadap pemerintah. Sebab istilah Ahlussunnah wal Jamaah di Timur Tengah sering identik dengan wahabisme yang penuh dengan simbol-simbol keagamaan. Sebagaimana paparan Prof. Dr. Ibrahim Fayyumi dalam buku "Tarikh Firaq".
Bagaimana saran anda terhadap mahasiswa Indonesia di Mesir dan masyarakat Indonesia yang menjadi aktifis IM atau organisasi underbow-nya?
Sebenarnya, saya pribadi tidak ingin memaksakan sebuah keyakinan terhadap seseorang karena di dalam Islam tidak pernah ada paksaan. Namun, melihat fenomena yang terjadi, baik di Mesir maupun di Indonesia, sebagai bagian dari umat Islam, saya memiliki hak untuk menyuarakan apa yang saya ketahui dan saya yakini sesuai dengan fakta-fakta yang ada. Sejarah mencatat, berdirinya sebuah organisasi militan seperti IM di Mesir, Hizbuttahrir di Libanon, Hamas di Palestina, Jamaah Tabligh di India, PKS di Indonesia, PAS di Malaysia dsb, memiliki orientasi yang sama; yaitu menegakkan ajaran Islam secara kaffah. Dengan kata lain, tidak ada ideologi yang sah di dunia ini selain Islam. Mungkin dasar dan konsep mereka bagus dan elegan. Namun teori tersebut tak seindah dengan fakta-fakta lapangan yang sering dinodai oleh kepentingan sesaat, baik oleh individu ataupun kelompok tertentu. Sekilas, kelompok-kelompok tersebut menawarkan idealisme yang bercita-cita luhur yaitu khilafah Islamiyah. Hanya Jamaah Tabligh lah yang mungkin membatasi khilafah itu hanya di tempat ibadah saja.
Tegaknya khilafah Islamiyah dan syariat Islam secara kelembagaan seolah-olah adalah harga mati. Kita selalu ingin bernostalgia dengan kejayaan masa lalu, walaupun zaman dan tempat selalu mengalami perubahan yang signifikan. IM misalnya, setiap terjadi pergantian Mursyid Am, sudah barang tentu berbeda tarik ulur kepentingannya. Coba anda bandingkan pengaruh Hasan al-Banna dan Mahdi Akif!. PKS sebagai gerakan tarbiyah di Indonesia jauh berbeda seratus delapan puluh derajat sebelum dan sesudah menjadi partai. Bila, kursi kekuasaan telah mengiming-imingi mereka, maka tak heran mereka pun akan mengadopsi adagium "tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan abadi". Tak heran bila pilgub Jawa Tengah, PKS mendukung salah satu pasangan yang bermasalah, begitu juga di Jatim. Realita tersebut tidak jauh dengan kenyataan yang terjadi di Mesir tatkala IM menjagokan Aiman Nur sebagai calon presiden.
Secara silsilah, ada keterkaitan antara gerakan fundamentalisme dengan pembaharuan Muhammad Abduh. Hasan al-Banna sebagai murid kesayangan Rasyid Ridho, dan Rasyid Ridho sebagai murid kesayangan Muhammad Abduh mengilhami seluruh gerakan pembaharuan di muka bumi. Namun, gerakan-gerakan pembaharuan tersebut tidak lepas dari infiltrasi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab yang terinspirasi oleh Ibnu Taimiyah. Tak heran bila gerakan-gerakan tersebut sangat anti para wali, tarekat dan komunitas sufi.
Ironinya, gerakan-gerakan fundamnetal tersebut digandrungi oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia di Mesir dan komunitas terpelajar yang tergabung dalam ROHIS (Rohani Islam) di kampus-kampus. Tak heran bila aktifis-aktifis muslim militan, baik di Mesir maupun di Indonesia lebih prihatin terhadap Palestina daripada tanah air mereka sendiri. Coba anda bayangkan, 350 tahun kita dijajah Belanda dan 3,5 tahun kita dijajah Jepang, para pejuang Indonesia tak pernah merasa berkeluh kesah. Sementara negeri Palestina yang sebenarnya sudah diobok-obok oleh kepentingan Hamas seolah-olah menyita perhatian seluruh penjuru dunia. Padahal nama agama hanya mereka gunakan untuk mengelabui masyarakat dunia, begitu juga yang dilakukan oleh al-Qaeda di Afghanistan, mereka bukan pejuang Islam, melainkan produsen dan pemasok obat-obat terlarang di seluruh penjuru dunia. Mungkin secara kemanusiaan, rakyat Palestina bisa kita bantu, namun kita juga harus jeli memahami sebuah intrik-intrik politik. Berdusta atas nama agama dan menjadi preman memakai sorban sebagai baju kebesaran, serta jubah sebagai perisai penjara sebagaimana direpresentasikan oleh FPI, Amrozi cs, MMI, Jamaah Ansharuttauhid, Laskar Jihad dan antek-anteknya, merupakan tindakan yang dibenci oleh Allah dan RasulNya.
Sebagai akademisi, hendaknya kita mengkaji kembali bagaimana Nabi mengislamkan tidak dengan pedang dan mencampuradukkan agama dengan urusan politik. Sebab, bila agama telah dipolitisasi atau politik ditarik ke wilayah teritorial agama, maka kekerasan, kekejaman, kebiadaban, terorisme bahkan pembunuhan atau peperangan sesama muslim tak terelakkan. Jadi, tak salah bila Husni Mubarak cenderung diam menyikapi masalah Palestina sebagaimana para walisongo memberikan kesempatan kerajaan Majapahit untuk bertengger di bumi Nusantara, padahal banyak umat Islam pada waktu itu yang menjadi pengikut mereka sangat membutuhkan uluran tangan untuk melawan Majapahit.
Perubahan pasti terjadi, namun perlawanan secara politik jauh lebih membahayakan daripada dakwah secara kultural.