Melacak Kembali Teologi Aswaja
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. Dipl.
Jum'at 9 Maret 2007... Hari yang lumayan bersejarah dalam hidup penulis selama di negri para wali... ketika mendapat sedikit kepercayaan dari teman-teman untuk menjadi pramusaji di sebuah Cafe Sufi... Cafe Sufi ini diadakan oleh JATMNU Mesir dan disponsori oleh Tarekat Dusuqiyah Muhammadiyah Indonesia... Adapun menu yang disajikannya begitu menyejukkan rohani para pengunjung... Secangkir dzikir dan istighatsah telah menyambut pengunjung dengan begitu hangat... Imam Habibi Ali sebagai pemilik cafe, turut mensajikan dengan penuh ceria... karena kepuasan anda adalah kebanggaan kami... Sungguh nikamt bila pengunjung kenyang hati.
Selepas menyantap dzikir secara berjamaah, Cafe JATMNU telah siap mensajikan hidangan berikutnya... Kajian khazanah keislaman telah dinanti-natikan pengunjung dengan segenap jiwa-raga... dengan tema hidangan: "Melacak Kembali Teologi ASWAJA".
Hidangan ilmiah ini disajikan oleh tiga pramusaji; Ust. Wahid Jumali dari IKMAS menyatakan dirinya sebagai representasi dari orang awam yang mencoba mencerna teologi tanpa banyak berbasa-basi... "Setiap golongan punya Ushul Tauhid yang satu walau berlainan dalam furu'nya, dan perbedaan dalam ta'wil furu' aqidah tidak menyebabkan keluar dari islam.. Selama berpegang kepada Ushul Aqidah dengan melaksanakan rukun-rukun islam dan rukun-rukun iman maka insya'allah dalam hal-hal furu'iyah tidak berpengaruh dalam keislaman kita" Demikian inti dari presentasi Ust. Wahid Jumali.
Pramusaji kedua; Ust. Nidhol Masyhudi Lc. dari SINAI menjelaskan bahwasanya terma Aswaja digunakan pertama kali oleh Ibnu Abbas sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa Ahlussunnah wal-Jamaah merupakan lawannya Ahlul-Bid'ah wal-Firqah. Ust. Nidhol Masyhudi yang sempat menjabat sebagai ketua FORDIAN selanjutnya menambahkan bahwasanya ketika membahas teologi Aswaja, perlu menguasai aneka keilmuan demi mencapai pemahaman yang jelas, sebagaimana juga perlu membaca sejarah dan asal-usul sekte-sekte yang bukan Aswaja.
Kemudian setelah menguraikan banyak hal tentang masa lalu, Ust. Mas'ud yang saat itu bertugas sebagai moderator mulai mempersilahkan waktu dan tempat kepada pemateri selanjutnya; yaitu penulis sendiri... AzizNawadi... dari KM-NTB yang pernah mengetuai PwK-NW. Penulis pada hari itu mencoba melacak kembali teologi yang selama ini dipelajari, dimana 70% dipengaruhi oleh Filsafat Yunani, contohnya: Filsuf Yunani semisal Xenophanes yang meyakini bahwa Tuhan tidak serupa dengan makhluk. Socrates yang menyatakan bahwa kebenaran itu adalah Tuhan. Plato yang menjelaskan dalam bukunya Themiah bahwa adanya Tuhan dengan konsep sebab. Sedangkan Aristoteles menganut konsep Dalilul-Harakah yaitu Tuhan ialah sebagai penggerak pertama dan sekaligus sebagai tujuan dari gerak.
Hal ini hubungannya dengan filsafat setelah munculnya Imam Hasan al-Bashri yang ingin mengembalikan frame tauhid ke masa Rasul namun tanpa melalui sebuah karya akan tetapi melalui halaqah-halaqah dan diskusi-diskusi. Beda halnya dengan Imam Abu Hanifah Ra. dalam al-Fiqhul-Akbar-nya beliau ingin mengembalikan bidikan teologi kepada masa Rasul Saw. melaui sebuah karya, walaupun tuntutan teologi dimulai sejak kepemimpinan Imam Ali Ra. yang kemudian muncullah pelbagai aliran teologi seperti Khawarij, Syi'ah, Mu'tazilah, Qadariyah, Jabariyah dan lain sebagainya, yang sayangnya tidak murni mengemukakan sesuai yang disampaikan Imam Ali karena dipengaruhi faktor-faktor politik yang akhirnya aliran-aliran teologi itu berubah menjadi partai-partai politik.
Inti dari teologi-teologi yang muncul itu menurut Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya World Spirituality; Manifestations adalah terletak pada dua poin yaitu epistimologi dan filsafat, sebagaimana kita buktikan pada teori-teori Thahawiyah, Asya'ariyah dan Maturidiyah dalam buku-buku mereka semisal Taqribul-Maram, Syarhul-Maqashid, al-Ibanah fi Ushul al-Diyanah dan lain-lain, yang sering menggunakan istilah-istilah Illah, Ma'lul, Mahiyah, Wujud dan lain sebagainya. Beda halnya dengan Mu'tazilah yang mengedepankan akal dari pada naql.
Pada perkembangan selanjutnya muncullah gerakan-gerakan islam seperti Ikhwan al-Shafa yang mengajak seluruh mazhab kepada al-Wahidah al-Muthlaqah. Gerakan lainnya adalah ketika berpengaruh pada Ibnu Taimiah yang mengilhami Muhammad bin Abdul-Wahhab dengan gerakan puritannya yang mencoba mengemukakan teologi murni sesuai ajaran Rasul dan Sahabat ternyata malah mencampur-adukkan teologi yang ada pada sekte-sekte terdahulu. Beda halnya dengan Muhammad Abduh dalam Risalah al-Tauhid-nya yang justru mencampur-adukkan Teologi Islam dengan Filsafat Yunani sehingga secara fikih ia bermazhab Maliki namun secara teologi ia adalah seorang yang Aristotelian! Adapun gerakan IM yang menganut Taqribul-Madzahib menurut prespektif Muhammad Imarah mencoba menggabungkan antara Sufi, Wahabi dan Syi'ah, makanya dari segi gerakan IM mendekati Syi'ah, sedang dari segi teologi IM mendekati Wahabi, adapun secara tanzim IM mendekati Sufi, dibuktikan dengan penggunaan istilah Mursyid, Murabbi dan lain sebagainya.
Kemudian muncul lagi filsuf-filsuf islam semisal al-Kindi dengan metafisikanya dan al-Farabi dengan teori emanasinya yang banyak mengadopsi ajaran-ajaran Filsafat Yunani.
Selanjutnya penulis mengingatkan bahwasanya pada masa keemasan dinasti Abbasiyah muncul sebuah filsafat yang cukup unik disebut dengan Filsafat Parepatetik dimana merupakan hibridasi antara Filsafat Persia, Filsafat Islam dan Filsafat Yunani walaupun di sini ajaran-ajaran islam lebih mendominasi; berawal dari akal dan berujung pada roh. Hal ini dikuatkan oleh Imam al-Suhrawardi dengan teori iluminasinya dan Mola Shadruddin dalam bukunya Ittihad al-Aqil wal-Ma'qul. Kemudian pada abad kelima hijriyah muncul Imam al-Ghazali Ra. yang identik seide dengan Filsafat Parepatetik walaupun murni dari pengalaman spiritual dan perjalanan hidupnya, beliau pernah mengatakan bahwasanya barang siapa yang tidak menguasai ilmu mantiq maka otoritas keilmuannya tidak bisa diterima. Ibnu Thufail-pun menegaskan bahwa akal hanya sebagai informasi sedangkan wahyu sebagai konfirmasi. Nah, Ibnu Rusyd yang dituduh menentang Imam al-Ghazali ternyata sebenarnya malah mencoba mengawinkan antara agama atau ilham wahyu dengan nalar atau filsafat sebagai representasi dari akal / rasio.
Setelah itu muncullah seorang teosof besar bernama Syekh Ibnu Arabi Ra. yang dianalisa oleh William C. Chittick dalam pendekatan ontologisnya menerangkan bahwasanya di anatara problematika-problematika tauhid yang perlu dipecahkan adalah antara dzat, asma' dan sifat, begitu juga antara tauhid ekslusif dan tauhid inklusif. Tauhid ekslusip adalah bagaimana kita memahami Ahadiyah Allah secara benar, sedangkan tauhid inklusif adalah bagaimana kita memahami Wahidiyah Allah secara benar.
Oleh karena perdebatan tauhid terus semakin runyam, dari dulu yang dibahas itu-itu saja tanpa menghasilkan natijah yang memuaskan, maka kita sangat membutuhkan reformulasi teologi yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Steril dari sekte-sekte,
2. Tidak dipengaruhi oleh pemahaman nalar Yunani kuno,
3. Hasil istinbath murni dari Qur'an dan Sunnah (Mazhab dan bukan Fikr),
4. Simpel dan instant.
NU yang konon didirikan untuk membasmi virus-virus wahabi di Indonesia, sepakat untuk menjadikan teologi Asy'ariyah wa Maturidiyah sebagai pegangan, penulis tidak keberatan bila Asy'ariyah wa Maturidiyah dijadikan pegangan karena memang merupakan golongan Aswaja, hanya saja penulis menghimbau agar kita memperluas konsep Aswaja sebagaimana diperluas oleh para ulama' terdahulu baik ulama' Asy'ariyah wa Maturidiyah itu sendiri, contohnya Imam Ibnu Subki dalam Syarah Aqidah Ibnul-Hajib mengatakan bahwasanya Aswaja itu banyak golongan, bukan satu atau dua saja, namun kesemuaya sepakat pada satu keyakinan walau berbeda metode dan jalan. Golongan-golongan Aswaja sebagaimana analisa jumhur ulama' yang dikutip Imam Ibnu Subki dapat dibagi menjadi tiga kelompok; yang pertama adalah para ahli hadits yang berpedoman pada dalil-dalil sam'i yaitu mereka para ulama' salaf yang identik tawaquf pada ayat-ayat yang berhubungan dengan zat. Kelompok kedua adalah Asy'ariyah dan Maturidiyah sedangkan kelompok Aswaja yang ketiga dan yang paling penting adalah Mujaddid yang diutus Allah setiap zaman sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Rasul Saw. Nah, Mujaddid inilah yang kita cari-cari, yang mampu memberikan teologi yang sesuai zaman, tidak dipengaruhi teori-teori kuno dan metode-metode klasik. Simpel dan komprehensif. Anti kufur dan anti syirik.
Penulis lalu mengatakan dengan penuh keberanian dan tanpa ragu-ragu ataupun rasa takut: "Pada hari ini saya siap menawarkan teologi itu" !!!
Dan sebagai stimulan: Mengapa kita menyembah Allah dan apa saja kriteria Tuhan ?!?!?! Di sini kita akan mengetahui kriteria Tuhan sebagaimana digagas oleh Maulana Syekh Mukhtar Ra. yang mana kriteria itu bila difahami dengan baik dan ditanam dalam keyakinan maka tidak mudah terjerumus pada syirik kepada Allah atau ingkar kepada al-Qur'an. Kriteria itu ada empat :
1. Sabq. Tidak ada yang mendahuluinya.
2. Ithlaq. Tidak ada yang membatasinya.
3. Sarmadiyah. Tidak ada akhirnya.
4. Dzatiyah. Tidak ada yang mempengaruhi atau mengajarinya.
Apabila keempat kriteria di atas terdapat pada seseorang baik pada zat, isim maupun sifatnya maka ia adalah tuhan yang patut disembah. Nah, oleh karena hanya Allah-lah yang memiliki keempat kriteria di atas secara zat, isim dan sifat maka dari itulah kita mengatakan dan meyakini Tiada Tuhan Selain Allah, artinya: Tiada siapapun yang memiliki kriteria Tuhan melainkan Allah maka hanya Allah yang patut disembah.
Ketika Saidina Isa As. dikatakan khaliq yang kemudian karena ia khaliq maka ia adalah tuhan, maka telah syirik / menyekutukan Allah dengan menuhankan selain-Nya. Namun apabila tidak dianggap tuhan yang kemudian meyakini bahwa ia bukanlah khaliq, maka telah mengingkari ayat dalam al-Qur'an yang jelas-jelas menyebutkan bahwa Nabi Isa telah menciptakan burung. Di sinilah perlunya kita memahami kriteria Tuhan yang disebut dengan Muqtadlayat Uluhiyah yang apabila difahami dengan tepat maka kita tidak ragu mengatakan bahwa Nabi Isa adalah khaliq, namun ia bukanlah tuhan sebab sifat khaliqnya lepas dari Muqtadlayat Uluhiyah! Dan berbicara so'al sifat khaliq, penulis menambahkan bahwasanya khaliq bukan hanya Allah tetapi banyak, dibuktikan dengan firman Allah sendiri: "Fa Tabarakallahu Ahsanul-Khaliqin" Khaliq itu banyak namun Allah adalah sebaik-baik dan semulia-mulia khaliq karena hanya Dialah satu-satunya khaliq yang memiliki Muqtadlayat Uluhiyah.
Setelah sesi sharing ide dibuka dan moderator mulai memungut tiga gelas pertanyaan, maka Mas Opi sebagai salah satu pengunjung setia Cafe Sufi JATMNU menanyakan sebagai berikut: Apa itu definisi Tauhid ??? dan apa maksud dari ayat "al-Rahman ala al-Arsy Istawa" ???
Sedangkan Mas Mukhlis menanyakan: Apa itu Ahlussunnah wal-Jamaah ???
Setelah mendengarkan jawaban-jawaban dari Ust. Wahid sebagai presentator dari IKMAS dan dari Ust. Nidhol sebagai pemateri dari SINAI, maka penulis sebagai pramusaji ketiga mencoba memberikan jawaban yang tampil beda dengan yang sudah ada! Tentang definisi Tauhid, Maulana Syekh Mukhtar Ra. mendefinisikannya sebagai berikut: Tanzihul-Ahad anil-Adad wa Tanzihul-Wahid anit-Ta'addud; Membersihkan sifat Esa Allah dari bilangan dan mensucikan sifat Tunggal Allah dari berbilang-bilang. Di sini kita akan membedakan antara Ahad dan Wahid, Ahad adalah tak terbilang dan tak berbilang-bilang, sedangkan Wahid adalah terbilang namun tak berbilang-bilang. Sifat Ahad maupun Wahid dapat dimiliki oleh siapapun hanya saja lepas dari Muqtadlayat Uluhiyah, contohnya sifat Ahadnya Ust. Nidhol terletak pada sidik jarinya yang mana ia seorang yang memilikinya, sedangkan sifat wahidnya adalah ketika ia menjadi anak dari bapaknya, suami dari isterinya, keponakan dari pamannya dan seterusnya, ia terbilang namun tetap satu dan tak berbilang-bilang (tidak banyak) yaitu Ust. Nidhol. Begitu pula ia memilki sifat baik hati, ramah, murah senyum dan seterusnya, sifat-sifatnya terbilang namun tetap satu yaitu Ust. Nidhol.
Nah, Sifat Ahadiyah (Esa) Allah terletak pada Muqtadlayat Uluhiyah-Nya, hanya Ia saja yang memilikinya. Sedangkan sifat Wahidiyah (Tunggal) Allah terletak pada asma' dan sifat-Nya karena terbilang 1, 2, 3 sampai 99 nama, begitu juga sifat-sifatnya terbilang 1, 2, 3 sampai 7 sifat, namun yang memilikinya tetap satu dan tunggal (tak berbilang-bilang) yaitu Allah Swt. Apabila kita fahami dengan baik definisi tauhid dan perbedaan antara Ahad dan Wahid maka kita tidak akan mudah terjerumus dalam lembah ilhad.
Betapa banyak yang tidak mampu membedakan antara sifat Ahad dan sifat Wahid dan bahkan menyamakan maknanya! Di sini penulis menegaskan bahwasanya problematika umat yang sangat besar adalah mempelajari teologi dan agama dari buku dan bukan dari guru, padahal Siti A'isyah Ra. berkata: "Barang siapa tidak punya guru maka yang akan menjadi gurunya adalah setan!".
Setelah memahami tauhid dengan tepat maka timbullah definisi syirik yang tepat, yang apabila diketahui maka tidak mudah syirik dan tidak pula mudah menuduh orang syirik. Syirik adalah: Menisbatkan kepada selain Allah apa-apa yang tidak pantes dinisbatkan kecuali kepada Allah.
Sedangkan kufur adalah menisbatkan kepada Allah hal-hal yang Ia maha suci darinya, yaitu kwalitas, kwantitas, tempat, lawan, bandingan, keserupaan, kesamaan, sekutu, isteri dan anak. Semua yang terlintas dalam benak tentang Dzat Allah maka Allah maha suci dari itu semua. Dari sini kita akan mengetahui ta'wil yang layak bagi ayat "al-Rahman alal-Arsy Istawa", al-Rahman di sini bukanlah dzat melainkan isim al-Rahman itu sendiri yang mengepalai dan memimpin semua Asma' Husna yang lain yang mana kesemuanya bertempat di Arsy! Bila diartikan dengan Dzat Allah bersemayam di Arsy sebagaimana duduknya manusia di atas kursi maka akan menjatuhkan kita ke lubang kufur. Imam Ali Ra. mengatakan: "al-Tafkir fil-Dzati isyrak wat-tafkir fil-khalqi idrak", Rasul pun bersabda: "Tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fillah"!
Misalnya Wihdatul-Wujud yang difahami bahwa hanya Allah yang berwujud sedangkan yang lain hanyalah bagian dari dzat-Nya Swt. Padahal Wihdatul-Wujud di sini adalah Nur Saidina Muhammad Saw. yang menjadi asal-muasal semua makhluq yang ada, disebut dengan "Wihdatul-wujud bainal-Wajid wa kulli maujud" sebagaimana gandum adalah wihdatul-wujud antara tukang roti dan semua jenis roti yang dibuatnya. Sebagaimana juga pohon adalah wihdatul-wujud antara tukang kayu dan semua jenis kayu yang dibuatnya; kursi, meja dan lain-lain. Maka Nur Rasulullah Saw. adalah wihdatul-wujud antara Sang Khaliq Swt. dan semua makhluq yang penah Ia ciptakan.
Penulis tidak mau banyak berbicara tentang teologi-teologi para pendahulu, karena banyak permasalahan teologi yang tak mampu diselesaikan / dipecahkan, misalnya Qur'an itu qadim atau hadits?
Perbedaan kalam dengan qaul adalah sebagaimana seorang presiden ingin menyampaikan sesuatu kepada rakyatnya yang kemudian perkataan presiden disampaikan / diwakili oleh wakilnya, maka apa yang disampaikan itu adalah kalam presiden, dan juga merupakan qaul wakil presiden. Nah, al-Qur'an adalah kalamullah yang bersifat qadim, namun karena disampaikan oleh Rasulullah kepada umat maka pada waktu yang sama ia adalah hadits karena merupakan qaul Rasulullah Saw.
Adapun mengenai esensi Ahlussunnah wal-Jamaah adalah bagaimana kita merealisasikan / mengaplikasikan hadits Nabi yang berbunyi: "Alaikum bisunnati wa Sunnatil-Khulafa' al-Rasyidin al-Mahdiyyin min Ba'di, Uddlu alaiha bin-Nawajidz". Sebagai salah satu kunci pintu Aswaja adalah bagaimana kita mengikuti khalifah pada zaman kita sebagai reformis yang diutus oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan khalifah ini tidak membawa agama dan syari'at baru karena islam telah sempurna, para imam datang hanya untuk membawa solusi baru dan melengkapi apa yang kurang pada diri umat dari Qur'an dan Sunnah.
Rasulullah Saw. pernah juga menyebutkan bahwasanya Ahlussunnah wal-Jamaah adalah mereka yang "Ma Ana alaihi wa Ashabi" dan Ashab Rasul di sini adalah "Kan-Nujum bi'ayyihim iqtadaytum ihtadaytum".
Suasana diskusi cukup ramai, ditambah dengan lelucon-lelucon para pramusaji. Namun karena terbatasnya waktu, diskusi-pun diakhiri, dengan harapan semoga bermanfaat dan memuaskan hati. AMIN