Catatan Akhir Tahun 2010
Oleh: Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.

Selama tahun 2010, banyak kenangan yang tak terlupakan nan penuh kesan. Yang manis, yang pahit, dan yang tak tentu rasanya pun sudah terlewatkan.

Pada bulan Januari, pesta demi pesta silih berganti dirayakan. Si kecil Hazim ulang tahun yang keempat (tepat pada tanggal 1 Januari), si baik hati muslim yang ke-25, si anggun mumut yang ke-22, dan si bujang zainuri yang ke-25.

Pada bulan Februari, Mas Aqib menikah dengan Teh Euis, dan saya beserta kawan-kawan D'Sukma telah menyumbangkan beberapa kasidah auliya di awal dan akhir acara. Selanjutnya disambut dengan ulang tahun Syaikh Sofwat yang ke-54, dan di hari yang sama, ulang tahun kekasihku Maida yang ke-23.

Pada bulan Maret, ulang tahun Kiyai Husni dan Nyai Rahmah turut dimeriahkan. Dan yang tak kalah berkesannya, memimpin hadhrah dzikir di Qonatir merupakan sebuah jihad nafsu yang heboh dan tak terlupakan.

Pada bulan April, pesta masih bersambung. Sidang tesis Buya Ridwan berlangsung seru dan berakhir sangat memuaskan. Pengasuh Ponpes Tarbiyah Islamiyah Bukittinggi Sumbar itu telah mempresentasikan tesisnya yang berjudul "Kontribusi Lembaga Swadaya Masyarakat dalam Pendidikan di Indonesia - Sebuah Studi Evaluatif" di Universitas Liga Arab, dengan hasil "Mumtaz".

Pada bulan Mei, setelah merayakan berbagai pesta tasyakuran dan ulang tahun, tiba saatnya mensyukuri ulang tahun diri sendiri yang ke-26. Sungguh meriah dan di luar kebiasaan. Meskipun disertai rasa kehilangan laptop yang dipenuhi dokumen-dokumen eksklusif, namun acara ulang tahun itu sangatlah menghibur dan menenangkan. Apalagi diiringi dengan pesta ulang tahun Kang Opi, Hauna, Mas Fatur, Mbak Molly, dan masih banyak lagi sobat-sobat lain yang sama-sama kelahiran Mei. Dan di ujung bulan, netbook baru pun hadir menggantikan laptop yang hilang. Mudah-mudahan tidak kecurian lagi.

Pada bulan Juni, ulang tahun Miss Aeni yang ke-22 tak kalah meriahnya. Di bulan inipun saya mendapatkan semangat baja untuk segera memulai sekaligus menyelesaikan penyusunan tesis yang berjudul "Penyimpangan-Penyimpangan Yang Dituduhkan Kepada Komunitas Sufi dalam Pertimbangan Syariat - Kritik dan Analisa".

Namun alhamdulillah pada bulan Juli, kakanda saya telah mendahului penyelesaian S2-ya. Dengan hasil "Mumtaz" ia telah mempresentasikan tesisnya yang berjudul "Studi Historis Deskriptif Terhadap Dakwah Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Majid di Pulau Lombok" di Universitas Um Durman Sudan. Kegembiraan tiada tara itupun juga diiringi sebuah pesta ulang tahun Mbak Nur yang ke-27.

Satu hal lain yang sangat berkesan pada bulan Juni dan Juli adalah, sebuah cinta yang telah lama terpendam akhirnya terungkapkan dan diterima dengan lapang dada serta direstui keluarga tercinta. Ia adalah seorang gadis Jawa yang telah banyak memaknai hidup saya.

Pada bulan Agustus, ulang tahun Gus Mied yang ke-26 pun menyusul. Dan di bulan puasa ini, kegiatan-kegiatan suci mulai diproaktifkan, khususnya diskusi sufi dan buka puasa bersama di setiap Sabtu dan Rabu.

Pada bulan September, hanya satu ucapan yang dapat terucapkan. Selamat pulang buat nenekku tercinta, Hj. Fathimah ke sisi Tuhan. Kasih sayang serta doamu selama ini telah membukakan banyak pintu pencerahan.

Pada bulan Oktober, sebuah seminar filosofis seputar esensi Wihdatul Wujud versi Sidi Ibnu Arabi diselenggarakan di KPMJB. Seminar tersebut menjadi sangat meriah oleh penampilan D'Sukma Band yang dipimpin oleh Solahnawadi, dengan melantunkan kasidah-kasidah sufi yang diiringi alunan beraneka alat musik seperti biola, gambus, gitar, gendang, dan lain-lain. Benar-benar menyejukkan nurani.

Dan di bulan yang sama, sang pemimpin D'Sukma Band itu menikah dengan Nayli Syifa'iyah, yang dihadiri oleh Bapak Gubernur NTB beserta pemuka-pemuka masyarakat lainnya. Mudah-mudahan diberkati Allah dan dikaruniai keturunan yang mulia. Mudah-mudahan juga gunung Merapi yang meletus di bulan ini, beserta bencana-bencana susulan lainnya segera berakhir dan bergantikan nikmat dan anugerah dari langit dan bumi.

Pada bulan November, pengantin baru yang baru saja menikah itu kemudian hadir di pernikahan Luqmey dan Salwa dan berdoa untuk mereka. Kapan saya menyusul dan dengan siapa?. Meski rencana dan usaha sudah ada, tetap hanya Dia yang tahu jawabannya.

Namun yang amat disyukuri pada bulan ini adalah, tesis selesai disusun dan telah di-ACC dosen pembimbing. Tinggal menunggu saat sidang yang ternyata bulan-bulan ini sulit dilaksanakan karena masa menulis yang kurang dari setengah tahun!.

Pada bulan Desember, buah tangan saya yang berjudul "Tata Bahasa Sufi" yang sebetulnya merupakan adopsi atau alih bahasa dari sebuah kitab sufi langka dan klasik, telah meraih sambutan tertulis dari Bapak Gubernur NTB dan Ketua Umum PBNW. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat besar bagi umat.

Dan menutupi tahun 2010, ulang tahun Amu Taqin yang ke-28 dirayakan tepat pada tanggal 31 Desember di restoran KFC. Tahun ini diawali, ditengahi, dan diakhiri dengan pesta-pesta ulang tahun. Mungkin kesan terpenting di tahun ini adalah betapa indahnya persahabatan dan persaudaraan. Juga alangkah mulianya ekspresi keceriaan dan kegembiraan yang terus menciptakan kedamaian dan kenyamanan. Sebab, ekspresi itulah yang ternyata membuat cinta dan cita menjadi mujur, semangat dan asa menjadi subur, dan tesis serta buku baru berakhir dalam tempo yang luar biasa cepat meski ditulis di atas kasur!.

Kepahitan dan kegundahan di tahun inipun sebetulnya cukup banyak, namun pesan P. Ramlee dalam sebuah lagunya senantiasa mengingatkan dan menyemangati: "Buang yang keruh, ambil yang jernih, baru teguh pribadi".

Lalu, ada apa dengan tahun 2011?. Semoga kedamaian hati, kenyamanan kalbu, dan keceriaan jiwa itu terus dinikmati dan dirasakan, agar kesuksesan berikutnya menjadi lebih indah nan gemilang, Amien!.

Kembali