Belajar dalam Jaringan *

Banyak pelajaran dan hikmah yang telah diberikan oleh pandemi global tahun ini kepada kita semua. Salah satu di antaranya adalah tentang pentingnya internet dan media-media online sebagai sarana yang sebetulnya merupakan implementasi terhadap perintah Nabi: “Permudahlah dan jangan mempersulit.” Allah pun mengingatkan: “Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” Dengan demikian, internet tidak selamanya buruk, sebagaimana dicap kebanyakan orang. Seumpama pisau, apabila digunakan untuk memotong bawang maka boleh-boleh saja, namun jika dipakai untuk mengancam nyawa orang maka tentu saja terlarang. Begitu pula apabila kita menggunakan sarana internet untuk berkomunikasi dan menjalankan berbagai aktivitas positif, termasuk kegiatan belajar-mengajar, khususnya di musim pandemi seperti sekarang ini, maka sesungguhnya kita mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa bumi seutuhnya, timur dan baratnya, telah didekatkan Allah kepada Rasul-Nya Saw. Menurut Habib Ali Zainal Abidin al-Jifri, salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah, kemukjizatan tersebut diwariskan kepada umat manusia di akhir zaman, meskipun tidak akan pernah sama nilainya, namun substabsinya cukup serupa, yakni bumi seluruhnya telah didekatkan kepada manusia di manapun ia berada. Dengan apa? Tentu saja internet jawabannya.

Syekh Muhyiddin bin Arabi (558-638 H.) dalam kitab beliau, al-Futuhat al-Makkiyyah, pernah meramalkan bahwa di akhir zaman nanti terdapat dua perkara yang sangat mudah diperoleh manusia, ialah kewalian dan ilmu. Dahulu kala, kewalian diburu dengan bersemadi di bukit-bukit, bermeditasi di gurun-gurun, menjauhi keluarga dan khalayak ramai, menahan lapar selama berbulan-bulan, mencari mursyid di kejauhan dengan sarana/kendaraan terbatas dan lain sebagainya. Sementara di akhir zaman (termasuk sekarang), para mursyid sudah menyebar ke segala penjuru, para ulama mudah ditemukan, konsep zuhud semakin disederhanakan, thariqah-thariqah dengan segala fasilitas dan sarananya siap menuntun, dan seterusnya. Begitu juga dengan peraihan ilmu, di masa kini, keberadaan sarana internet memudahkan siapa saja untuk memperoleh ilmu dari ulama manapun yang ada di Timur Tengah dan di berbagai belahan bumi (melalui media Youtube, Facebook dan lain-lain). Ulama sufi terkemuka Mesir, Sayid Yusri Jabr al-Hasani pun memfatwakan boleh menerima ijazah sanad-sanad keilmuan secara online dan boleh meriwayatkannya kemudian dengan ungkapan “haddatsani/haddatsana“. Beliau mengatakan, inilah kekaramahan umat Rasulullah Saw. yang tidak dianugerahkan kepada umat-umat sebelumnya.

Akan tetapi, ulama-ulama kita memberikan catatan penting bahwa penggalian ilmu dalam jaringan (online) hanya dianjurkan dalam kondisi-kondisi darurat seperti masa pandemi saat ini, karena Syekh Abu al-Hasan asy-Syazuli pernah menyatakan: “Kami seperti kura-kura, mendidik anak-anak kami dengan pandangan mata.” Sehingga, belajar tatap muka adalah prinsip mendasar dalam upaya menuntut ilmu, sebab keberkahan ganda terdapat pada majelis-majelis para ulama yang mana memandang wajah-wajah mereka mengandung nilai ibadah tersendiri yang luar biasa. Karena itu, semoga Allah Swt. segera mengangkat wabah ini dari muka bumi, sehingga kita dapat beraktivitas menimba ilmu sebagaimana mestinya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

___________
* Disampaikan dalam khutbah Jum’at di Masjid Besar at-Taqwa Pancor, 26 Juni 2020 dan Masjid al-Ittihad Majidi, 17 Juli 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*